<![CDATA[Bimo's Blackboard - Halaman Depan]]>Mon, 05 Aug 2019 22:55:16 +0700Weebly<![CDATA[Menciptakan Ospek yang Relevan bagi Mahasiswa]]>Sun, 04 Aug 2019 12:50:05 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/menciptakan-ospek-yang-relevan-bagi-mahasiswa​Hampir sebulan lagi, kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi akan kembali dilaksanakan. Setelah serangkaian proses seleksi, umumnya masih ada satu tahapan lain yang harus dilalui calon mahasiswa, yakni Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau lebih lazim disingkat sebagai Ospek.
            Bagi mahasiswa baru, Ospek diproyeksikan menjadi kegiatan untuk membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan dasar belajar di perguruan tinggi. Ospek juga telah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 25 tahun 2014. Dalam keputusan tersebut, tujuan umum dari Ospek adalah agar mahasiswa dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya dalam kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan.
            Dengan adanya tujuan tersebut, Ospek seyogyanya adalah kegiatan bermanfaat yang membantu mahasiswa bertransisi dari kehidupan sekolah menuju kehidupan kampus. Sayangnya, Ospek tak jarang menjadi sasaran kritik karena isi kegiatanya yang jauh dari tujuan tersebut. Bahkan, sejumlah Ospek dikabarkan masih memuat unsur bullying yang tak jarang menuai korban. Hal tersebutlah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa Ospek hanyalah ritual yang melanggengkan feodalisme, sehingga timbul polemik tentang penting atau tidaknya Ospek.
            Indikasi-indikasi semacam itu dapat dicegah seandainya Ospek konsisten pada fungsinya sebagai momen untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Ospek dapat lebih diarahkan pada materi-materi yang dibutuhkan mahasiswa dalam kehidupan mereka saat menjalani perkuliahan. Dengan adanya kemajuan zaman, materi-materi Ospek pun juga perlu didesain merespons hal-hal yang menjadi kebutuhan mahasiswa di masa kini.
            Kemampuan berpikir kritis adalah hal pertama yang perlu diajarkan dalam kurikulum Ospek. Hal ini perlu ditanamkan sedini mungkin, terlebih dengan liarnya arus informasi yang ada saat ini. Ketika Ospek memfasilitasi pesertanya untuk dapat berpikir kritis, kampus-kampus turut berkontribusi dalam mengurangi persebaran hoaks di masyarakat. Kemampuan ini dapat diberikan dalam bentuk tugas-tugas kelompok seperti analisis berita dan resensi buku, lalu kemudian dipresentasikan di forum terbuka. Dari sini, baik mahasiswa baru ataupun para fasilitator dapat saling belajar mengeluarkan pendapat. Tugas semacam ini dapat menggantikan tugas-tugas Ospek konvensional seperti membuat atribut-atribut yang nyatanya tak akan digunakan kembali saat perkuliahan berlangsung.
        Alternatif lain yang dapat dimasukkan sebagai materi Ospek adalah pendidikan tanggap bencana. Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana yang cukup tinggi. Sehingga, kampus-kampus perlu memberikan penyuluhan agar mahasiswa baru memiliki kesiagaan dalam menghadapi bencana yang datang sewaktu-waktu. Penelitian Tanner dan Doberstein (2015) dari University of Waterloo melaporkan bahwa mahasiswa merupakan unsur terpenting dalam penanggulangan bencana di level universitas. Namun, mayoritas mahasiswa belum memiliki kemampuan dasar untuk mempersiapkan diri. Melalui Ospek, kampus dapat memperkenalkan substansi tanggap bencana seperti titik-titik evakuasi hingga dasar-dasar pertolongan pertama.
            Di samping itu, Ospek dapat juga diisi dengan materi tentang toleransi dan keberagaman. Di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa umumnya akan berinteraksi dengan bermacam latar belakang, sehingga hal tersebut patut untuk diajarkan sejak dini. Ospek di Indonesia mungkin dapat menerapkan konsep Orientation Week (O-Week) yang ada di Australia, yakni dengan membuat pameran budaya yang diisi oleh organisasi-organisasi mahasiswa dari seluruh daerah yang ada di kampus. Dengan demikian, para mahasiswa baru akan lebih dapat mengapresiasi keberagaman yang ada di sekitarnya.
            Informasi lain yang dapat diberikan pada saat Ospek adalah mengenai kesehatan mental. Layaknya kesehatan fisik, kesehatan mental pun tak dapat dianggap remeh. Riset oleh sejumlah peneliti dari World Health Organisation (2018) menyimpulkan bahwa 35 persen mahasiswa baru di seluruh dunia rentan terkena gangguan psikis. Apabila gangguan-gangguan tersebut dibiarkan, ia akan berdampak pada performa mahasiswa dalam jangka panjang. Menciptakan lingkungan kampus yang sadar kesehatan mental dapat dimulai dari Ospek, misalnya lewat materi tentang manajemen stres atau mencegah homesick.
            Administrasi dan birokrasi kampus juga merupakan hal yang perlu diajarkan dalam materi Ospek. Walaupun terkesan remeh, seringkali mahasiswa menemui hambatan karena tidak mengetahui cara meminjam buku, cara mengajukan surat izin, atau cara mendaftar sidang proposal. Panitia Ospek perlu memastikan bahwa mahasiswa baru familiar dengan sistem birokrasi yang ada di kampus mereka, sehingga kegiatan belajar pun dapat berjalan mulus.
            Nalar mahasiswa adalah hal yang harus diprioritaskan di dalam setiap kegiatan Ospek. Perguruan tinggi adalah tempat untuk memupuk insan-insan yang diharapkan mampu membangun  peradaban. Sehingga, pengenalan lingkungan kampus idealnya dikembalikan pada paradigma pengembangan kemampuan berpikir. Materi kedisiplinan kolektif mungkin baik, namun jangan lupa bahwa mahasiswa merupakan individu-individu dewasa dengan karakter yang tak dapat diseragamkan.
            Informasi-informasi mutakhir adalah kunci agar Ospek bisa tetap relevan bagi mahasiswa. Dengan demikian, Ospek tak hanya dianggap menjadi sebuah formalitas, namun sebagai sebuah kegiatan esensial yang manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah para pesertanya lulus dari bangku perkuliahan.]]>
<![CDATA[Teori Konspirasi]]>Sat, 15 Jun 2019 13:45:13 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/teori-konspirasiSeorang berbaju koko itu terlihat berapi-api meski berdiri di bawah naungan tenda. Suaranya menggelegar, menggetarkan sound system yang terpasang di sisi kanan dan kiri panggung.

"WTC itu adalah pusat kezaliman dunia!" telunjuk kirinya terangkat. Pada bibirnya tersungging senyum, walaupun sekilas harusnya kalimat itu terucap penuh amarah.

Begitu semangat ia menjelaskan bahwa peristiwa 11 September 2001 adalah sebuah konspirasi global untuk memperburuk citra Islam.

"Mau bukti? Coba masukkan Q33NY ke Microsoft Word, itu adalah kode penerbangan pesawat yang menabrak WTC. Coba ganti font-nya jadi Wingdings, maka kalian akan lihat itu..."
"Huruf Q akan berubah menjadi pesawat,"
"...angka 33 akan berubah menjadi dua gedung,"
"...huruf N akan berubah menjadi tengkorak,"
"...dan huruf Y akan berubah menjadi bintang David, simbol Yahudi!"
"...itu berarti Microsoft sudah memprediksi ini jauh-jauh hari. Semua aksi teror ini direncanakan!"

Bagaikan paduan suara, audiens berseru: "Wuooooohhhh..."

Mind = blown, kalau kata warganet zaman sekarang.

Saya, yang masih berusia sekitar 13 tahun, begitu terkesima dengan retorikanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya begitu mantap. Tak terasa jiwa muda ikut berkobar ketika "mengungkap" bahwa Islam sedang menjadi korban konspirasi, karena selama itu saya hanya tahu bahwa teror 11 September dilakukan oleh Al-Qaeda, kelompok yang notabene seiman dengan saya.

Siang itu adalah peringatan Isra Miraj di sekolah. Sebagaimana umum dilakukan di tempat-tempat lain, terdapat kegiatan ceramah dengan mengundang seorang dai. Walaupun momen saat itu adalah Isra Miraj, ceramah lebih banyak dihabiskan untuk membahas 11 September, Amerika, Yahudi, dan terorisme. Saya tak mengerti apa latar belakang beliau. Jangankan begitu, saya bahkan baru mengenalnya saat ia naik panggung. Namun, embel-embel "ustad" itu sudah cukup membuat saya (kalau terlalu luas menyebut "kami") tak dapat membantah apa yang ia katakan. Di akhir, sang dai menyimpulkan bahwa kita jangan sampai lupa terhadap konspirasi Amerika pada 11 September 2001, agar peradaban Islam bisa kembali jaya.

Benar saja, ceramah siang itu tak akan pernah saya lupakan.

Butuh waktu sekitar lima tahun setelah ceramah tersebut, tepatnya setelah ponsel saya dapat digunakan membuka Google, untuk mencek dan ricek kebenaran soal "Q33NY" tersebut. Rupanya, Q33NY bukanlah kode penerbangan pesawat di peristiwa 11 September. Kode pesawat yang menabrak WTC adalah AA11 dan UA175. Entah didapat dari mana kode Q33NY itu.

Lagipula, kalau kita menyimak simbol yang dihasilkan dari konversi "Q33NY" ke Wingdings, kita akan tahu bahwa angka "33" tidak akan berubah menjadi gedung. Itu adalah simbol kertas bergaris. Tidak percaya? Silakan buka Microsoft Word sekarang juga. Ketik 1234, lalu ubah font menjadi Wingdings. Angka 1 dalam Wingdings akan berubah jadi map, angka 2 menjadi kertas terlipat, lalu angka 4 menjadi tiga lembar kertas yang saling bertumpuk. Akan sangat konyol apabila angka 3 sendirian yang berubah jadi gedung.

Main-main sedikit dengan cocoklogi? Boleh. Kalau kita ubah "Q33NY" dari Wingdings ke Webdings, hasilnya akan lucu. Q berubah jadi simbol perkemahan33 berubah menjadi panah ke kiri, N berubah menjadi mata, sementara Y berubah menjadi simbol hati.

Horrrotokono...

Boleh dong saya menafsirkan "Q33NY" sebagai "pergi kemping yuk, buat cuci mata!"

***

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan artikel mengenai kasus Ridwan Kamil dan cocoklogi masjid Illuminati. Kala itu, saya hanya terpikir untuk mengaitkan isu tersebut dengan "matinya kepakaran" yang ditulis Tom Nichols dalam bukunya. Namun, saya masih gemas melihat banyak orang yang memilih percaya pada konspirasi masjid Illuminati tersebut walau Kang Emil sudah membantah dengan segala data yang ia ketahui. Sehingga, ada ketidakpuasan yang masih mengganjal, saya masih bertanya-tanya mengapa orang bisa begitu percayanya pada teori konspirasi. 

Anggap saja tulisan ini sebagai sekuelnya.


Teori konspirasi secara umum dipahami sebagai teori yang meyakini bahwa peristiwa-peristiwa yang ada di dunia ini telah diatur oleh sekelompok elite yang bersekongkol. Michael Barkun (2003), seorang ilmuwan politik, membagi tipe teori konspirasi menjadi tiga:
  1. Teori konspirasi kejadian. Dalam skala kecil ini, teori konspirasi meyakini bahwa ada kekuatan yang mengontrol suatu kejadian secara terbatas. Misalnya: konspirasi tentang terbunuhnya Presiden Kennedy.
  2. Teori konspirasi sistemik. Dalam tingkatan kedua ini, teori konspirasi beranggapan bahwa ada suatu kekuatan besar yang mengendalikan segala sistem kehidupan demi menguasai suatu negara, daerah, hingga dunia. Contoh: konspirasi Illuminati dan tatanan dunia baru.
  3. Teori konspirasi super. Kalian anggap teori konspirasi sistemik sudah gila? Belum. Masih ada lagi teori superkonspirasi yang berasumsi bahwa konspirasi-konspirasi yang terjadi di muka bumi adalah rangkaian dari satu konspirasi besar yang dikendalikan oleh entitas jahat yang jauh dari jangkauan manusia. Misalnya? Alien.
Dalam sains, sebuah "teori" baru bisa lahir berdasarkan generalisasi data yang ada di dunia nyata. Jadi, salah besar kalau ada yang mengatakan bahwa "teori" hanyalah hasil celetukan yang tak terbukti di lapangan. Namun, teori akan selalu dapat diuji atau dikoreksi apabila terbukti ada kesalahan di sana.  

Masalah dengan "teori konspirasi" adalah sifatnya yang tak dapat difalsifikasi (diuji). Teori konspirasi hanya membutuhkan keyakinan mutlak untuk mengubah sesuatu yang ngasal menjadi sebuah kebenaran. Memanfaatkan keengganan kita untuk mencari tahu, ia mereduksi kejadian-kejadian yang kompleks menjadi sebuah sebab tunggal: konspirasi. Seorang penganut teori konspirasi bumi datar akan lebih mudah percaya bahwa "Antartika merupakan dinding es yang dijaga elit global" ketimbang mencari tahu bahwa ada Traktat Antartika yang memang membatasi kegiatan negara-negara di sana.

Jangan salah, saya pun akrab dengan teori konspirasi. Bisa dikatakan bahwa ada satu titik dalam kehidupan ketika saya hampir percaya pada teori konspirasi. Di masa SMA, saya rajin membaca web-web semacam VigilantCitizen hingga buku-buku macam "Hitler Mati di Indonesia" atau "Borobudur Peninggalan Sulaiman". Sebutkan teori konspirasi apa saja yang beredar di internet, besar kemungkinan saya akan tahu. Silakan tertawa, namun seperti itu kenyataannya. Untunglah, di saat yang sama, saya memiliki teman-teman diskusi yang membuat saya tetap "waras". Ditambah dengan metode membaca kritis yang dibekali saat kuliah, kini teori-teori konspirasi itu pun masih sering saya kunjungi kembali, walau sebagai lelucon.

Meski demikian, tidak semua orang seberuntung saya. Masih amat banyak orang yang menelan bulat-bulat teori konspirasi walau seabsurd apa pun itu. 

Sialnya, teori konspirasi memiliki "jaring pengaman" yang membuatnya kebal kritikan. Apa itu? Tuduhan bahwa semua sanggahan adalah bagian dari konspirasi!

Teori-teori konspirasi akan mengklaim bahwa konspirasi global terlalu kuat untuk dilawan, sehingga segala sumber informasi arus utama sudah tercemar. Hal ini mengembalikan kita ke topik "matinya kepakaran" yang menyebabkan universitas, guru, dosen, dokter, dan semua pakar akan dipandang sebagai bagian dari konspirasi. Kalau sudah begitu, apa pun yang dikatakan pakar akan selalu tertolak.

Pada akhirnya, hal ini memunculkan sebuah cara berpikir yang sarat akan paranoia dan tidak tertib logika. Penganut teori konspirasi tak akan lagi sibuk mencari tahu dari mana sumber pengetahuan mereka, karena jalan penuju pengetahuan itu telah dianggap ternodai oleh konspirasi yang mereka yakini.

Astronom yang tidak percaya bumi datar? Sebut saja elit global.
Dokter yang tak percaya vaksin merupakan program depopulasi? Sebut saja bersekongkol dengan Zionis.
Ulama yang tidak percaya Illuminati? Sebut saja liberal.

Kemudian, mengapa orang percaya pada konspirasi? Imhoff dan Lamberty (2016) mengatakan, ada hubungan terkait antara kepercayaan akan konspirasi dengan kebutuhan seseorang untuk dianggap unik. Penganut teori konspirasi sebenarnya adalah orang-orang dengan kepercayaan diri rendah. Dengan menganut suatu teori konspirasi, orang tersebut akan dapat merasa 
spesial dibanding kawan-kawannya. Di sisi lain, teori konspirasi dan komunitasnya juga membuat mereka merasa aman karena menemukan orang-orang sepemikiran. 

Kunjungi saja salah satu akun bumi datar. Kita akan dengan mudah menemukan pengguna yang dengan fasihnya menyebut mereka yang kontra sebagai "globtard", "awam", atau "belum sadar". Orang-orang seperti ini merasa aman di dalam komunitasnya, sehingga ia pun menemukan sarana aktualisasi diri untuk menjadi sosok yang merasa "tercerahkan" sembari memiliki justifikasi untuk membodoh-bodohkan orang lain. Padahal, saya yakin tak seorang pun di antara mereka yang memiliki kualifikasi di bidang astronomi atau geografi. Kebutuhan merasa spesial itu mungkin muncul karena dalam kehidupan nyata, mereka tak memiliki keunggulan di bidang akademik.


Hart (2018) juga menulis bahwa penganut teori konspirasi memiliki kondisi yang disebut "schizotypy", atau kecenderungan merasakan sesuatu yang sebenarnya tak ada di sana. Mungkin ini dapat menjelaskan mengapa sebagian orang bisa melihat bentuk-bentuk tertentu sebagai sesuatu yang mengancam, ketika orang-orang pada umumnya tidak demikian. Pengidap gejala ini akan melihat Illuminati pada bentuk segitiga, mata Horus pada bentuk lingkaran, simbol Freemason pada garis-garis berpotongan, dan seterusnya.

Sedihnya, hari ini pengusung teori konspirasi juga terdapat dari kalangan yang mendaku pemuka agama, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Masjid Al-Safar tempo hari. Hal tersebut membuat kesan seolah-olah agama membenarkan penyebaran teori konspirasi. Padahal, verifikasi harusnya bukan hal asing dalam keilmuan agama. Ketika kita melihat Islam, contohnya, hadis (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad yang dijadikan sumber hukum) saja memiliki sejumlah tingkatan yang menentukan derajat kekuatannya. Ada yang valid sehingga sah dijadikan sumber hukum, hingga ada yang palsu sehingga tak dapat dijadikan sumber hukum. Ilmunya pun amat rumit, sehingga ulama ngetop pun harus belajar selama puluhan tahun. Mengapa kehati-hatian ini seolah lenyap ketika dihadapkan pada teori konspirasi?

Berita bohong yang dibalut dengan kalimat suci tak akan membuatnya jadi benar. Pun, menyebut bismillah sebelum makan babi tidak akan membuatnya halal. Sudah saatnya kita lebih berhati-hati mengolah informasi, mari hindari melandaskan pemikiran pada teori konspirasi. Jangan sampai ketidakmampuan kita berpikir kritis berpotensi memperburuk citra kita sendiri.

Sekalipun tujuannya untuk membangkitkan semangat kejayaan peradaban, saya tidak setuju apabila teori konspirasi digunakan sebagai sumber. Bagi saya, peradaban yang berjaya dipupuk dengan cara berpikir secara ilmiah dan menebar manfaat seluas mungkin, bukan hanya dengan membangun kecurigaan. Dengan itulah kejayaan sejati dilahirkan.]]>
<![CDATA[Lelah Dengan Ekspektasi? Saya Juga!]]>Sun, 09 Jun 2019 10:52:12 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/lelah-dengan-ekspektasi-saya-jugaHidup di tengah masyarakat, terutama dengan kultur komunal seperti Indonesia, memiliki konsekuensi baik positif maupun negatif. Positifnya, masyarakat kita telah lama dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan menjunjung tinggi kepedulian. Di sisi lain, kultur komunal itu pun membuat kita kerap harus hidup di tengah ekspektasi orang lain. Dengan tingginya tingkat kepedulian orang lain, tak jarang kita harus berhenti dan berpikir: "apa yang orang-orang pikirkan tentang saya?" atau "apakah keputusan saya mengambil hal ini sudah baik di mata orang?"

Agaknya itu juga yang membuat lebaran di masa-masa quarter life crisis begitu melelahkan. Lebaran bukanlah momen yang kita kenal dulu, ketika ia hanya berarti makan-makan, berkunjung ke rumah kakek-nenek, serta menerima THR dari kerabat yang lebih tua dari kita. Di usia 20-an, perlahan segala kebiasaan di masa lalu bergeser. Kita mulai dipanggil om/tante oleh keponakan yang lahir satu per satu, THR yang tak lagi datang karena kita dianggap sudah dewasa, sampai pertanyaan-pertanyaan menyebalkan tentang pilihan hidup.

Untuk yang terakhir, tentu masing-masing dari kita sudah punya gambaran apa saja pertanyaan itu.

Hal sama juga saya rasakan pada lebaran kali ini. Banyak hal yang terasa berbeda karena kini kita harus mengelola diri kita di hadapan segala ekspektasi. Bahkan, pada hari terakhir Ramadan kemarin, saya meng-uninstall Instagram agar mencegah saya dari godaan update yang kiranya mampu mengundang komentar orang. Sekilas memang nampak egois, namun itu cara saya menyaring residu-residu informasi agar tetap waras di hari lebaran. Lebih baik menjauh dari media sosial saat tidak stabil daripada menyesal kemudian.

Sebenarnya kita tidak lelah dengan momen silaturahim itu sendiri. 
Kita lelah dengan ekspektasi orang lain.

Hidup adalah serangkaian pertanyaan "kapan" yang datang silih berganti. Kapan kawin, kapan sekolah lagi, kapan punya anak, kapan punya cucu. Selagi kita hidup, agaknya pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak akan pernah ada habisnya.

Pada akhirnya, saya pun harus berdamai dengan realita bahwa orang-orang akan selalu menyoroti hal yang kurang dari kita. Lulus S2 dari kampus ternama? Masih akan "kalah" dengan yang sudah menikah. Sudah bekerja? Masih akan "kalah" dengan yang bergaji jauh lebih banyak dari kita. Sudah menikah? Masih akan "kalah" dengan yang punya anak banyak. Begitu pun seterusnya.

Memang, melelahkan untuk selalu berhadapan dengan ekspektasi orang (yang kadang terlalu tinggi) terhadap kita. Seringkali, mereka pun tak peduli dengan kisah di balik segala keputusan yang kita ambil. Mereka hanya mendengar sekilas, lantas kecewa ketika mengetahui bahwa apa yang kita ambil tak sesuai dengan imajinasi mereka. Padahal, kalaupun kita bisa mengubah keadaan agar ia lebih berpihak pada kita, amat mungkin keputusan lain itulah yang kita ambil. Namun, tentu saja rencana hidup tak selamanya mulus.

Contohnya adalah keputusan saya mengambil studi doktoral. Memang tak banyak yang tahu, namun kini saya sedang melanjutkan kuliah program doktor Ilmu Sosial di Universitas Airlangga. Pilihan melanjutkan studi di dalam negeri adalah keputusan saya berdasarkan sejumlah pertimbangan. Salah satu alasan utama adalah tingkat kebugaran ibu saya yang tidak sebaik dulu sejak divonis mengidap hipertiroidisme pada 2016. Atas pertimbangan itulah, saya memutuskan kuliah di Surabaya agar masih bisa meringankan pekerjaan-pekerjaan rumah yang seabreg. Ilmu mungkin bisa didapat di mana saja, namun kesempatan berbakti pada orang tua hanya ada sekali saja.

Lebaran lalu, saya harus berkali-kali menghadapi pertanyaan mengapa saya tidak mengambil studi doktoral di luar negeri.  Tak dapat dipungkiri, saya (amat) ingin kembali studi di luar negeri. Walau begitu, tak mungkin saya meninggalkan Indonesia selama 3-4 tahun tanpa mempertimbangkan segala konsekuensi yang ada. Pasti ada sedikit sakit hati ketika pilihan tersebut disambut dengan tuduhan "cari aman" atau "tidak berani ambil tantangan" oleh mereka yang tak tahu beratnya mengambil pertimbangan.

Belum lagi ditambah dengan pertanyaan standar "kapan nikah?" yang total saya terima tiga kali selama lebaran.

*maaf kalau sedikit curhat, tapi apa gunanya punya blog kalau bukan untuk itu?*

Saya yakin bahwa kawan-kawan memiliki kisah yang sama, atau paling tidak serupa, mengenai dihadapkan pada ekspektasi lebih dari orang lain. Apa pun kisah yang kalian jalani, terimalah empati saya.


Melatih diri untuk tidak kehilangan zen saat menghadapi ekspektasi orang lain adalah sebuah seni. Begitu juga dengan kelihaian untuk tidak melihat satu keputusan dari satu sisi saja. Bisa jadi orang lain mengambil keputusan karena memang itulah yang terbaik bagi dirinya. Kehidupan kita bukan kehidupan mereka. Kalaupun kita kecewa dengan pilihan yang mereka ambil, bisa jadi mereka sudah terlebih dahulu merasakan sakitnya menelan kekecewaan tersebut sebelum akhirnya memutuskan sesuatu.

Di sisi lain, kita juga perlu sepakat untuk tidak sepakat. Inilah hal yang kemudian saya sadari belakangan. Komentar orang-orang akan selalu ada, dan kita tak mungkin selamanya bersungut-sungut akibat ekspektasi orang. Kita pantas mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Cara yang bisa kita lakukan adalah mengingat kembali mengapa kita memilih keputusan tersebut. Setiap orang pasti memiliki sebuah misi dalam hidup, dan mengingat misi tersebut kerapkali efektif untuk memantik kembali semangat yang padam. Ingatlah bahwa kita pernah berdoa siang-malam demi posisi yang kita tempati saat ini. Ingat kembali mengapa kita memutuskan kuliah, ingat kembali mengapa kita memutuskan menikah lebih awal, ingat kembali mengapa kita memutuskan bekerja di tempat yang kita inginkan saat ini.

Saya teringat tips seorang kawan untuk menuliskan impian-impian dalam sebuah catatan. Setiap kali semangatnya kendor, ia akan membuka catatan tersebut. Secara instan, ia pun teringat kembali bahwa langkahnya telah jauh hingga titik yang ia singgahi saat ini hingga semangatnya kembali.

Pada akhirnya, mungkin kelelahan atas ekspektasi itu hanya bisa sembuh dengan mengungkapkannya. Menyangkal bahwa kita sedang lelah bisa jadi adalah sumber kelelahan itu sendiri. Saya yakin, kekuatan seseorang bukan ada pada kemampuannya menghindari perasaan negatif, melainkan pada bagaimana ia mengelola perasaan tersebut. Itulah mengapa saya menuangkan kekesalan tersebut dalam wujud artikel ini. Selain menulis, bercerita pada orang-orang kepercayaan bisa menjadi solusi agar jiwa kita yang lelah akan ekspektasi dapat menemukan istirahatnya sejenak. Pun, boleh jadi berkomunikasi dengan orang lain akan membuat mereka sedikit lebih sensitif mengenai ekspektasi-ekspektasi yang mereka punya terhadap kita. Siapa tahu, dari komunikasi tersebut akan terjalin hubungan saling mendukung dan memahami.

Namun, yang tak kalah pentingnya bagi kita adalah untuk menjadi orang yang peka. Setiap orang memiliki pergulatan batinnya sendiri, sehingga ada baiknya kita berhati-hati mengeluarkan pertanyaan (atau pernyataan) yang tak didasarkan pada pengetahuan lebih dalam akan latar belakang lawan bicara kita. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, dan hal tersebut bisa dimulai dari tidak kementhus dengan pilihan-pilihan hidup orang lain. 

“I'm not saying it's going to be easy; I'm saying it's going to be worth it." - B. Dave Walters.]]>
<![CDATA[Tentang "Pulang" dan Merayakan "Rumah"]]>Sun, 02 Jun 2019 14:49:56 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/tentang-pulang-dan-merayakan-rumahSejak 2011 hingga 2017, saya selalu menghabiskan sebagian atau keseluruhan Ramadan di perantauan. Pada 2014 dan 2017, bahkan saya harus merayakan Idul Fitri (lebaran) jauh dari rumah. Pertama, 2014 adalah ketika saya menjalani KKN di Wonosobo. Sementara itu, 2017 adalah ketika saya sedang menghadapi semester akhir program magister di Sydney.

Sebelum 2011 pun, lebaran hampir selalu dihabiskan di Nganjuk yang merupakan kampung halaman keluarga besar ayah saya. Namun, kebiasaan itu terhenti tepat tahun 2011 ketika eyang wafat. Pada tahun yang sama pulalah, saya harus hijrah ke Yogyakarta demi melanjutkan studi sarjana.

Dapat disimpulkan, bahwa di masa lalu, baik Ramadan atau lebaran bagi saya tak pernah lepas dari konsep "pulang".  Ia adalah momen yang dapat dirayakan untuk melupakan rutinitas dan mengakarkan diri kembali pada lingkungan yang telah kita tinggalkan selama ini. Namun, sejak memutuskan berkarier di Surabaya, Ramadan dan lebaran berarti menghabiskan waktu di rumah. Sehingga, tahun 2019 adalah tahun kedua bagi saya ketika Ramadan dan lebaran dilalui tanpa adanya momen "pulang".

Bukan saya tak bahagia kembali ke kota kelahiran, nope, menghabiskan hari besar bersama keluarga tak akan pernah ada tandingannya. Namun, harus diakui ada kekosongan tersendiri tatkala rutinitas "pulang" itu tak lagi saya jalani. Perasaan antusias dan penuh antisipasi akan suatu zona nyaman, yang membuat kita mampu melepas segala kepalsuan akibat ekspektasi orang lain, perasaan itulah yang hilang.

Seorang bijak mengatakan bahwa rumah adalah tempat di mana hati kita tertambat. Dengan definisi seperti itu, agaknya saya baru memahami bahwa kekosongan itu muncul karena setiap perantauan saya telah menciptakan "rumah" masing-masing.

Saya merindukan Yogyakarta dan segala pengalaman subjektif yang pernah menghiasi hari-hari menjelang lebaran. Melaksanakan tarawih keliling di masjid-masjid, menghabiskan waktu berbincang mengenai perkuliahan (termasuk ngrasani dosen) ditemani secangkir kopi dan sepiring sate klathak, menahan lapar dan dahaga sembari mengerjakan kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa. Yogyakarta memang dekat, namun "rumah" itu kini telah terbagi dua. Satu "rumah" berupa sewujud kota sepi yang pernah memuat cerita-cerita masa lalu, sementara "rumah" lain berupa isinya yang dulu selalu ada: kawan-kawan yang kini telah juga telah pergi mengejar impiannya masing-masing. 

Pun, saya juga merindukan persinggahan singkat saya di Sydney. Walau tak genap dua tahun tinggal di sana, Ramadan dan lebaran di Sydney adalah dua momen tak terlupakan. "Rumah" yang saya bangun di sana adalah pelajaran mengenai perjuangan menuntut ilmu sembari mempertahankan iman di tengah lingkungan berbeda, ditemani oleh teman-teman sebangsa sebagai pengganti saudara di tanah air. Mungkin suatu hari saya akan kembali ke sana, entah sebagai turis atau sebagai akademisi, namun tentu segalanya akan terasa berbeda tanpa "rumah" yang saya ketahui dulu. 

Saya lalu tersadar, tak mungkin lagi untuk benar-benar "pulang" ke tempat-tempat tersebut. Hal yang mungkin hanyalah membuat cerita baru atau sekadar mengenang segala wujud "rumah" yang pernah terbangun di sana. Tak ada lagi "pulang" bagi saya, karena kini saya telah kembali ke rumah yang sebenarnya (tanpa tanda kutip). Ya, rumah yang sejak 2011 selalu ada pada ujung angan-angan saya setiap akhir Ramadan, dua tahun belakangan telah memanggil untuk menetap. Entah sampai kapan, namun saya bersyukur kini telah ada di sana. Ini menunjukkan betapa waktu cepat berlalu, dan sudah seharusnya kita menikmati segala momen yang ada selagi mampu.

Untuk yang terpaksa tak dapat pulang lebaran tahun ini, semoga perantauan kalian menjadi "rumah" yang nyaman sebagai pengganti kampung halaman. Saya pun tak lupa berdoa bahwa keluarga di rumah selalu diberikan perlindungan dan kesehatan. Kiranya pengorbanan kalian bernilai manfaat bagi orang lain. Amin.

Di manapun kita berada, mari rayakan pengalaman "rumah" yang tengah kita jalani masing-masing. Karena percayalah, suatu hari nanti kita semua akan merindukan "pulang".

Selamat menuntaskan Ramadan, selamat mengawali libur lebaran.


Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.]]>
<![CDATA[Wahai Pakar, Yang Sabar!]]>Fri, 31 May 2019 14:36:34 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/wahai-pakar-yang-sabarPicture
Kemarin, puasa saya hampir batal lebih awal karena sebuah tweet. Di dalam tweet itu, terdapat sebuah video penceramah mengatakan bahwa Masjid Al-Safar, sebuah masjid di Jawa Barat yang dirancang Ridwan Kamil, memuat "pesan-pesan Illuminati". Hal yang jadi dasarnya adalah banyak struktur berbentuk segitiga di sana, mengingatkan si penceramah pada simbol Illuminati.

Dhuh Gusti paringi arta.

Mungkin saking jengkelnya karya beliau ditafsirkan sedemikian rupa, Kang Emil lalu turun gunung untuk menjawab tuduhan tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa Masjid Al-Safar menganut gaya folding architecture. Bahkan, masjid tersebut dinominasikan sebagai salah satu masjid berarsitektur terbaik dari sebuah lembaga Arab Saudi. Memang, klarifikasi tersebut membuat semuanya jelas. Namun, tak sedikit pula yang memilih percaya dengan narasi "Masjid Illuminati" sehingga menyebut Kang Emil ngeles hingga baper. 

Dalam kesempatan lain, saya pernah mampir salat Jumat di sebuah masjid. Waktu itu, penceramahnya membawakan topik mengenai "sifat orang Yahudi". Sejak awal pun saya menebak bahwa konten ceramah yang dibawakan tak akan jauh-jauh dari teori konspirasi. Tebakan saya tepat.

Hingga di suatu titik, khatib mengeluarkan pernyataan yang tak akan saya lupa sampai kapan pun:
"Yahudi itu satu, tapi di berbagai belahan bumi namanya berbeda-beda. Di barat, kita mengenal Yahudi itu sebagai Amerika Serikat. Di timur, kita mengenal Yahudi itu sebagai Cina."

Di saat itu, saya merasa sia-sia menghabiskan waktu 5 tahun belajar Hubungan Internasional. 

Betapa tidak, sekali mengajar, saya paling banter menjangkau audiens sebanyak 80 orang mahasiswa. Itu pun memakai rujukan dan ada sesi tanya jawab yang memungkinkan saya dikoreksi apabila salah. Lha si bapak ini, sekali ceramah bisa menjangkau jamaah yang berjumlah ratusan orang. Pun, saya yakin mayoritas adalah kalangan awam yang tak mempelajari politik internasional. Amat besar kemungkinan bahwa pernyataan ngawur tersebut akan ditelan bulat-bulat.

Sesi khotbah tersebut mungkin adalah 15 menit terlama dalam hidup saya. Tak berhenti di 
statement ngasal bahwa Yahudi adalah Amerika dan Cina, ia juga menambahkan bahwa Yahudi adalah penyebab tersebarnya narkotika di dunia. Padahal, menurut World Drug Report, nama Israel yang merupakan markas besar Yahudi global bahkan hampir tak disebut. Negara dengan ladang opium terbesar di dunia justru Afghanistan, yang kebetulan juga merupakan pusat persebaran narkotika ke belahan dunia lainnya. Sementara itu, Pakistan dan Iran juga tercatat sebagai negara dengan jumlah sitaan heroin dan morfin terbesar dunia.

Jangan salah paham. Saya menghormati tema relasi Muslim-Yahudi sebagai bahasan penting di dalam Islam. Namun, mengada-ada isu hingga mengatakan bahwa Yahudi = Cina tentu saja merupakan sebuah...









​​



Semoga setelah ini tak ada yang mengira bahwa Mark Zuckerberg adalah reinkarnasi Mao Zedong.

***

Saya yakin, kalian pun menjumpai kejadian-kejadian serupa. Terlebih, apabila kalian merupakan orang yang sudah capek-capek belajar suatu bidang ilmu, namun tiba-tiba ada seorang "pakar dadakan" yang berani berucap ini-itu mengenai suatu topik, yang sejatinya tak mereka kuasai benar-benar. Padahal, selama ini kalian amat berhati-hati dalam menyampaikannya. Jangankan begitu, melabeli diri sendiri sebagai "pakar" saja tidak berani!

Gemes-gemes sampai pengen nyubit ginjalnya, gitu kan?

Mengapa orang-orang percaya isu kebangkitan suatu partai yang sudah mati? Mengapa orang-orang percaya bahwa vaksin menimbulkan autisme? Mengapa orang-orang percaya isu "telur palsu" yang sebenarnya hanya isapan jempol? Gejala ini tak hanya menjangkiti mereka yang berpendidikan rendah; masyarakat berpendidikan tinggi pun rawan info salah kaprah seperti itu. 

Saya pernah menjumpai seorang lulusan magister yang percaya NASA tengah berkonspirasi dengan lembaga-lembaga antariksa dunia (termasuk LAPAN) untuk menyembunyikan "fakta" bahwa bumi itu datar. Sumbernya? Video YouTube.

Lantas, m
engapa pendapat pakar seolah-olah tak ada harganya saat ini? 

Fenomena ini digambarkan Tom Nichols dalam bukunya, The Death of Expertise (2017), atau Matinya Kepakaran dalam bahasa Indonesia. Bagi saya, buku ini amat menarik karena mengangkat permasalahan yang sangat aktual saat ini. Ia adalah kondisi paradoks informasi: ketika melimpahnya keterbukaan informasi justru berbanding terbalik dengan kemampuan kita memilah dan memilih kebenaran. Sehingga, setiap orang dengan akses pada informasi pun bisa menyebarkan apa pun yang mereka inginkan. 

Selain itu, terdapat "kelemahan" para pakar yang kemudian dimanfaatkan oleh para "pakar dadakan" tersebut. Di satu sisi, para ilmuwan selalu memiliki sikap skeptis. Mereka kerap dihantui kepecayaan diri yang yang rendah, bahkan pada kemampuan mereka sendiri di bidang yang ditekuni. Sehingga, mereka tak dapat mengklaim bahwa mereka 100% benar.

​Di sisi lain, para "pakar dadakan" itu begitu yakin akan cocoklogi/spekulasi/terawangan mereka, sekaligus menganggap bahwa "ilmuwan bisa salah" sebagai landasan dari kepercayaan diri mereka tadi. Hal ini yang kemudian dikenal sebagai Dunning-Krueger effect: semakin tidak tahu (baca: bodoh) kita di suatu bidang, makin tinggi pula kecenderungan kita untuk sok tahu. Bias pengetahuan ini terjadi karena kegagalan kita memahami bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Dunning-Krueger effect sebenarnya pernah diprediksi Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ilmu memiliki tiga tahapan:

1.) Pada tahapan pertama, orang akan sombong.
2.) Pada tahapan kedua, orang akan rendah hati.
​3.) Pada tahapan ketiga, orang akan sadar bahwa ia tak tahu apa-apa.

Nichols mengatakan bahwa internet adalah biang keroknya. Internet, yang seharusnya menjadi jalan tol bagi pengetahuan, kini menjadi penghancur komunikasi antara pakar dan orang awam. Ia menggambarkan fenomena ini sebagai "tersesat di mesin pencari".  Apabila dahulu orang-orang meminta nasihat ke pakar untuk sesuatu yang tidak mereka tahu, kini mereka memiliki jawaban di genggaman. Tidak ada pertanyaan yang tak bisa dijawab! (Ingat ya, "dijawab", karena belum tentu jawabannya benar).

Anda merasakan nyeri di dada? Silakan konsultasi ke Mbah Google. Ia akan memberikan jawaban yang amat beragam: mulai dari salah tidur hingga jantung koroner. Lalu, berapa orang yang mungkin akan merasa puas begitu saja, sehingga melakukan diagnosis pribadi tanpa berkunjung ke dokter?

Anda menerima sebuah broadcast yang menyebutkan bahwa kaum komunis dan liberal bersekongkol untuk menghancurkan Indonesia. Berapakah orang yang kemudian mau cek-ricek pada dosen Ilmu Politik sebelum akhirnya terhasut ikut menyebarkan?

Masalah yang amat sentral dalam kasus internet adalah polusi ruang publik. Setiap orang dapat mengunggah konten semau mereka, tak peduli apakah info tersebut sahih, setengah matang, atau bahkan 100% bokis. Ingat artikel soal "Bernard Mahfoudz", sosok yang diklaim sebagai "dokter anti-vaksin" namun sebenarnya adalah seorang bintang film porno bernama Johnny Sins? Mungkin kita yang paham bisa tertawa mengetahui konyolnya artikel tersebut. Namun, kita tak pernah tahu berapa orang yang akhirnya paranoid dengan vaksin hanya karena membaca artikel bergambar sesosok pria botak berjas putih di sana.

​Nichols juga menyinggung bahwa internet telah memunculkan salah satu sifat dasar manusia, yakni egois. Internet memunculkan gelembung-gelembung informasi yang membuat orang hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar. Lihat saja bagaimana sebagian dari kita mudah mementahkan suatu fakta, hanya karena pihak seberang memiliki afiliasi politik berbeda. Inilah yang disebut sebagai post-truth era, masa ketika pengambilan kesimpulan seseorang lebih didasarkan perasaan dibanding fakta-fakta yang ada.

Sikap inilah yang kemudian disebut Nichols sebagai anti-rasionalisme. Orang-orang kemudian amat jarang terpapar pada gagasan yang berbeda dari mereka, sehingga proses verifikasi fakta pun tak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal, sikap kritis perlu dikembangkan dalam menyaring informasi yang datang silih berganti seperti saat ini. 

Nichols menutup bukunya dengan nada sedikit pesimistik, bahwa tantangan dari masyarakat internet adalah disinformasi yang datang silih berganti. Terlebih, dengan kondisi masyarakat yang demokratis, tak jarang suara yang lebih nyaring adalah suara yang dianggap benar. Di Twitter, seorang profesor yang telah mempelajari ilmunya berpuluh tahun pun bisa saja dimaki-maki oleh seorang lulusan SD. Sehingga, pakar harus menerima keadaan bahwa pemikiran mereka tak akan menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Pun, apabila menjangkau, tak semua pemikiran tersebut akan diterima oleh masyarakat. Kasus Ridwan Kamil dan masjidnya itu pun menjadi contoh yang amat aktual.

Namun, ada satu hal yang kemudian ditawarkan Nichols, yakni bagi para pakar untuk "melawan serangan terhadap kepakaran mereka". Dalam bukunya, Nichols mencontohkan sebuah adegan dalam Jimmy Kimmel Live dengan para dokter sebagai bintang tamu. Secara sarkastik, para dokter tersebut bertanya pada pemirsa: "Ingat terakhir kali Anda terkena polio? Tentu tidak, itu karena orang tua Anda memvaksin Anda!" Dengan kata lain, para pakar masing-masing bidang ilmu perlu turun ke masyarakat dan melawan segala "pelintiran" yang menjangkiti pengetahuan masyarakat.

Memang sulit. Namun, bukankah sesuatu yang patut diperjuangkan itu memang sulit?


​Pakar-pakar di seluruh dunia, bersatulah!

“Of course, there’s also the basic problem that some people just aren’t very bright. And as we’ll see, the people who are the most certain about being right tend to be the people with the least reason to have such self-confidence.” 
― Thomas M. Nichols

]]>
<![CDATA[Menuju Perdamaian Paripurna]]>Wed, 08 May 2019 05:39:24 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/menuju-perdamaian-paripurnaIndonesia hampir selalu digadang-gadang sebagai negara yang aman dan damai. Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Itulah yang sering kita citrakan pada dunia setiap berinteraksi dengan warga dari belahan lain. Tak jarang, kita membumbuinya dengan poin bahwa kita merupakan negara yang amat majemuk. Negara yang menyatukan diri sebagai Indonesia, yang kita kenal saat ini, sebenarnya adalah persatuan dari banyak suku, etnis, agama, bahasa, dan adat istiadat.

Namun, melihat kondisi yang ada saat ini, rasa-rasanya perdamaian kita tengah diuji. Belakangan kita melihat maraknya kasus intoleransi yang terjadi di beberapa tempat. Menurut laporan Komnas HAM sebagaimana dilansir VOA Indonesia, kasus intoleransi berlatar agama terus meningkat. Pada 2014, ia mencapai 74 kasus, terus meningkat menjadi 87 kasus pada 2015, dan akhirnya mencapai angka hampir 100 pada 2016. Yang cukup populer dan mencengangkan belakangan ini, tentu saja adalah polemik diusirnya seorang seniman dari sebuah desa di Bantul. Belakangan, diketahui bahwa ia ditolak tinggal di desa bersangkutan karena ia beragama Katolik. Sementara itu, masyarakat setempat telah membuat aturan tak tertulis bahwa hanya Muslim yang berhak mendiami desa tersebut.

Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah kita selalu mendaku sebagai bangsa yang cinta damai?

Menurut hemat saya, hal ini terjadi salah satunya karena kita terlalu sempit memaknai "perdamaian". Kita cepat puas dengan hanya mengartikan perdamaian sebagai kondisi "tidak adanya konflik", bukan sebagai kondisi sosial yang memungkinkan seluruh elemen masyarakat hidup dengan harmonis. Dalam hal ini, seorang sosiolog Norwegia, Johan Galtung, merangkumnya dalam konsep perdamaian negatif (negative peace) dan perdamaian positif (positive peace).

Bagi Galtung, perdamaian memiliki dua sisi, yakni sisi personal dan struktural. Dari situlah kita dapat memaknai perbedaan perdamaian negatif dan positif. Perdamaian negatif dimaknai dengan ketiadaan kekerasan personal, sedangkan perdamaian positif ditandai dengan hilangnya struktur-struktur yang melanggengkan ketidakadilan di dalam masyarakat.

Mudah saja mencari contoh perdamaian negatif. Asal tidak ada konflik saja, kita sudah dapat menemukannya. Perang yang berhenti setelah dua pihak mengumumkan gencatan senjata, itu perdamaian negatif. Tidak ada konflik antarpersonal yang terjadi. Itu sudah cukup sebagai definisi dari perdamaian negatif.

Perdamaian dalam jenis inilah yang akhirnya membuat kita cepat puas. Ketiadaan konflik acapkali kita anggap sebagai kondisi yang telah ideal. Akhirnya, ia membutakan kita dalam melihat adanya struktur-struktur yang membuat keadilan sosial belum dapat terwujud.

Perdamaian positif, di sisi lain, adalah kondisi tiadanya konflik namun juga ditambah dengan adanya keadilan bagi semua. Tak hanya berhenti pada menghapuskan kekerasan, perdamaian jenis ini juga mengingatkan kita untuk memanfaatkan segala sumber daya demi berlangsungnya kondisi harmonis. Sehingga, di dalamnya tidak ada diskriminasi, ketidakadilan, ataupun kesenjangan antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Perdamaian positif meyakini bahwa ketiadaan konflik tak dapat sepenuhnya dimaknai sebagai kondisi damai yang ideal.

Apalah artinya ketiadaan konflik bila masih hidup dalam diskriminasi, bukan begitu?

Contoh perbedaan antara perdamaian negatif dan positif adalah kasus apartheid yang terjadi di Afrika Selatan pada 1940-an hingga 1990-an. Berdasarkan hukum yang berlaku pada saat itu, masyarakat Afrika Selatan dibagi menjadi empat: kulit putih, kulit hitam, kleurlinge (kulit "berwarna" atau campuran), serta India.

Selanjutnya, terjadilah segregasi-segregasi yang kemudian memosisikan masyarakat Afrika Selatan non-kulit putih sebagai warga kelas bawah. Salah satunya adalah Land Act (Undang-Undang Pertanahan) yang membuat masyarakat kulit non-putih tak boleh tinggal di luar kawasan yang telah ditentukan negara. Tak hanya berhenti di sana, sejumlah aturan pun memisahkan fasilitas publik, kesempatan kerja, maupun acara publik antara kelompok satu dan kelompok lainnya. 

Berdasarkan konsep dari Galtung, kondisi di atas sudah memenuhi syarat perdamaian negatif. Selama segregasi tersebut tidak berujung kepada konflik terbuka, maka perdamaian negatif telah dipenuhi. Namun, apakah itu berarti sudah terwujud kondisi yang memungkinkan adilnya kesempatan hidup bagi seluruh elemen masyarakat? Tentu saja tidak.

Hal itulah yang kemudian disebut Galtung sebagai "kekerasan struktural": ia tak langsung mewujud dalam bentuk kekerasan terbuka, namun ia membuat masyarakat tak mampu meraih potensi maksimalnya akibat kekangan struktur yang ada. Dengan adanya pemisahan fasilitas publik, tentu saja masyarakat kulit hitam akan kesulitan untuk menjalani hidup sebagaimana halnya masyarakat kulit putih. Begitu pun dengan pemisahan kesempatan kerja. Karena terdapat sejumlah pekerjaan yang hanya diberikan untuk ras tertentu, mereka yang berasal dari ras non-kulit putih akan cenderung mendapatkan penghidupan di bawah standar rata-rata.

Dalam kata lain, orang-orang non-kulit putih Afrika Selatan tidak menderita karena ia merupakan korban konflik terbuka, namun karena haknya dibatasi oleh aturan-aturan negara yang diskriminatif. Ini juga bentuk kekerasan.

Untuk menjadikannya sebagai perdamaian positif, Afrika Selatan lalu menghapuskan segala aturan diskriminatif tersebut. Pada 1991, akhirnya, Afrika Selatan pun selangkah lebih dekat dengan perdamaian positif melalui dihapuskannya apartheid. Salah satu pemrakarsanya adalah tokoh yang saya rasa tak asing bagi kita semua: Nelson Mandela.

Upaya-upaya integrasi sosial lain pun dilakukan, seperti membuat lagu kebangsaan dalam lima bahasa nasional (Xhosa, Zulu, Sesotho, Afrikaans, Inggris) dan membuat federasi sepak bola yang utuh. Sebelumnya, Afrika Selatan memiliki federasi yang terpisah-pisah oleh perbedaan ras. Perlahan tapi pasti, Afrika Selatan pun bangkit menjadi negara yang menghargai multikulturalisme. Tentu kita masih bisa mengingat gegap gempitanya Piala Dunia Afrika Selatan 2010. Bagi suatu negara dengan masa lalu begitu kelam, hal semacam itu merupakan prestasi tak ternilai.

Sekarang, mari kita kembali ke Indonesia. Sudahkah kita mewujudkan sistem masyarakat yang diliputi perdamaian positif? Memang, kondisi Indonesia tidak (dan jangan sampai) konfliktual seperti Suriah, Myanmar, atau Palestina. Namun, jangan lantas itu membuat kita berpuas diri, apalagi mengatakan bahwa kita tak perlu lagi belajar soal toleransi.

Kehancuran dimulai dari kesombongan,
dan kesombongan dimulai dari perasaan tak lagi perlu belajar.

Perdamaian negatif tak seharusnya menjadi garis finis, karena masih ada pekerjaan rumah lain yaitu membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan penuh welas asih. Sehingga, gabungan kondisi tanpa konflik dan ketiadaan sistem diskriminatif itulah yang kita harapkan bersama demi terwujudnya perdamaian yang paripurna.

Maukah kita?
]]>
<![CDATA[Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Pengikut Fanatik?]]>Thu, 18 Apr 2019 15:04:42 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/mengapa-seseorang-bisa-menjadi-pengikut-fanatikPernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa jadi fanatik?
 
            Beberapa waktu lalu, saya membaca buku karangan Eric Hoffer (1998) dengan judul Gerakan Massa. Buku ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Inggrisnya yang berjudul The True Believer. Gagasan utamanya menarik, bahwa semua gerakan massa memiliki pola seragam: yakni adanya kemampuan mengubah individu menjadi sosok fanatik, rela berkorban, dan memiliki kesetiaan tunggal. Individu-individu itulah yang disebut Hoffer sebagai “Pemeluk Teguh” atau “The True Believer”. Menurut Hoffer, ciri tersebut bersifat universal karena tidak memandang apakah gerakan itu bersifat kesukuan, keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.

           Tak hanya ditujukan untuk satu jenis gerakan saja, buku ini mencoba menarik benang merah dari segala tipe gerakan massa yang ada di dunia. Hoffer menilai bahwa tidak ada beda antara kaum Islam fanatik, Kristen fanatik, Nazi fanatik, maupun kelompok-kelompok fanatik lainnya dalam hal motivasi bergerak.

             Hoffer memulai karyanya dengan menjelaskan hal-hal apa saja yang membuat sebuah gerakan massa terlihat begitu menarik.  Pertama, ia berpendapat bahwa gerakan massa menarik karena ia selalu menawarkan perubahan. Untuk mewujudkan perubahan ini, diperlukan semangat yang dapat digali dari dua hal: (1) harapan untuk mengembangkan diri atau (2) semangat gerakan yang dipupuk dari sentimen-sentimen yang dapat memunculkan gairah seperti agama, ras, atau kebangsaan apabila pengembangan diri itu tak dapat dicapai.

               Hoffer beranggapan bahwa keinginan manusia akan perubahan ini dapat ditelisik dari naluri mereka. Naluri manusia punya kecenderungan untuk mengaitkan keberhasilan maupun kegagalan dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Manusia yang merasa berhasil melihat kebaikan dunia ini akan condong kepada mempertahankan kondisi tersebut. Di sisi lain, terdapat manusia yang merasa tidak puas dengan kondisi dunia yang ia tinggali pada saat ini. Orang yang merasa perlu mempertahankan kesetimbangan tersebut adalah orang-orang konservatif, sedangkan yang mencoba untuk mengubah arah kesetimbangan tersebut adalah mereka yang disebut sebagai orang radikal.

            Kemudian, bagaimana memunculkan gairah dalam gerakan? Hoffer menyimpulkan bahwa gerakan perlu memiliki visualisasi masa depan—walaupun berlebih-lebihan dan terkesan tak masuk akal. Contohnya adalah bagaimana Hitler membayangkan Jerman menjadi sebuah negara ras Arya yang paling unggul di dunia. Kemudian? Gerakan perlu juga membuat sesuatu untuk dijadikan musuh abadi. Tanpanya, gerakan tidak memiliki makna karena tidak ada yang dilawan.

                “Sebuah gerakan massa tidak selalu memerlukan Tuhan, namun ia selalu memerlukan iblis,”

             Dalam gerakan-gerakan agama, iblis diterjemahkan secara literal, yakni sebagai sesosok makhluk jahat musuh ajaran Tuhan. Bagi gerakan-gerakan politik yang bersifat lebih sekuler, misalnya, “iblis” itu ada dalam wujud ideologi lawan, sebagaimana komunisme menganggap kapitalisme sebagai penyakit.

            Siapa sajakah orang-orang yang berpeluang menjadi “Pemeluk Teguh” di dalam gerakan massa? Hoffer menyebutkan paling tidak delapan golongan, yakni: (1) orang miskin baru, (2) orang miskin merdeka, (3) orang canggung abadi, (4) orang yang mementingkan diri sendiri, (5) orang yang berambisi akan peluang tak terbatas, (6) minoritas, (7) orang bosan, dan (8) orang berdosa. Detailnya? Silakan baca sendiri, terlalu panjang untuk ditulis. Namun, ada satu karakter yang ditemukan dari seluruhnya, yaitu adanya kekecewaan atas kondisi hidup mereka. Hal tersebut membuat mereka cenderung lebih mudah dipengaruhi untuk bergabung menjadi anggota gerakan massa yang patuh.

             Tahap selanjutnya membuat individu-individu tersebut berkenan mengorbankan diri untuk gerakan. Nah, bagaimana caranya?

          Pertama, gerakan massa harus dapat membuat anggotanya “melepaskan diri” dan melebur secara penuh ke dalam gerakan. Betul! Pengikut harus berhenti menjadi seorang “George", "Hans", "Ivan", atau "Tadao” yang berkesadaran penuh, dan mulai mengidentifikasi dirinya dengan identitas baru yang dibawa oleh penguasa gerakan: entah itu "Komunis", "Nazi", "ISIS", "Zionis", dan lain-lain. Itulah mengapa banyak orang yang sekilas tak berdaya apabila sendirian, namun begitu beringas tatkala sudah berganti identitas.

             Untuk mencegah solidaritas ini runtuh, gerakan massa membangun doktrin. Cara membuat individu menjadi seorang fanatik adalah dengan menanamkan doktrin yang “kedap fakta”. Maksud dari kedap fakta adalah ia dapat diterima sebagai kebenaran mutlak, tanpa pembantahan. Sehingga, doktrin ini bukanlah sesuatu yang dapat diuji kesahihannya secara akal sehat. Tidak peduli seberapa konyolnya doktrin itu, ia tetap harus ada demi menjaga keutuhan anggota. Setelah individu-individu itu memegang doktrin, ia akan menganggap gerakan sebagai sebuah “perjuangan suci” yang harus dilakukan.

            Hoffer menilai bahwa gerakan massa tidak dapat serta-merta dibangun. Ia perlu dibangkitkan dari dasar oleh sesosok dengan kemampuan kharismatik untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang dinilai salah di lingkungannya, kemudian untuk diterjemahkan ke dalam kata-kata. Setelah itulah, kata-kata itu perlu diarahkan menjadi sebuah gerakan oleh apa yang disebut sebagai “manusia fanatik”, ia bertugas memantik segala sentimen yang telah menumpuk menjadi sebuah gerakan.

            Hoffer menyimpulkan bahwa ia tidak mengklaim bahwa “Pemeluk Teguh” adalah sesuatu yang selalu berkonotasi buruk. Ia mengutip beberapa contoh penggerak massa yang mampu membawa gerakan perlawanan tanpa berusaha menghancurkan dunia yang telah mapan, contohnya adalah Gandhi dan Lincoln.

            Bisakah kita menggunakan Hoffer untuk menjelaskan kondisi hari ini? Bisa sekali.

          Mari lihat keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa (Brexit) sebagai salah satu hal yang menandai gerakan sayap kanan di dunia Barat. Dari sini, terdapat sejumlah kemiripan karakter dari gerakan Brexit dengan model gerakan massa yang telah dikonsepkan Hoffer.

               Dalam konteks Brexit, populisme dimulai oleh kaum “miskin baru” sebagai kelompok utama yang mampu digerakkan menjadi pengikut fanatik. Dalam studi kasus Brexit, kaum sayap kanan yang mendukung keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa adalah mereka yang terpinggirkan dari sistem pasar bebas yang dibangun sejak 1970-an. Sebuah studi dari Becker et.al (2017) membuktikan bahwa terdapat karakter umum dari para warga yang cenderung memilih untuk keluar dari Uni Eropa, yakni (1) akses pendidikan rendah, (2) tingkat penghasilan rendah, dan (3) pengangguran di level tinggi.

               Rasa kekecewaan yang dialami kaum “miskin baru” Britania ini kemudian diterjemahkan oleh para politisi sayap kanan melalui doktrin perlawanan terhadap imigrasi—yang notabene merupakan konsekuensi terbukanya akses tenaga kerja yang didukung oleh Uni Eropa. Rzepnikowska (2018) meneliti bahwa doktrin tersebut berhasil, ditandai dengan meningkatnya serangan-serangan yang ditujukan kepada masyarakat imigran, terutama dari Eropa Timur dari tahun 2015 hingga tahun 2016. Uniknya, laporan lain dari Burnett (2017) mengindikasikan bahwa serangan terjadi tak hanya pada imigran Eropa, namun juga menimpa warga negara Britania Raya dengan identitas etnis minoritas seperti orang-orang Pakistan.

             Usut punya usut, menyalahkan imigrasi rupanya tak seratus persen benar. Studi dari London School of Economics (2015) justru menyanggah klaim tersebut. Studi ini melaporkan bahwa tidak ada dampak signifikan dari imigrasi terhadap ketimpangan ekonomi. Justru sebaliknya, imigran membantu meningkatkan lapangan pekerjaan. Ini menandai bahwa doktrin tidak perlu masuk akal untuk dapat menggaet dukungan. Imigrasi telah terbukti menjadi salah satu narasi yang cukup efektif dalam menggaet suara Brexit (Eatwell 2003, Goodwin dan Milazzo 2017, Joppke 1998).

           Maka, “perjuangan suci” bagi kalangan Brexit adalah bagaimana membawa Britania Raya kembali ke masa yang dinilai era kejayaan—era sebelum regionalisme Uni Eropa menciptakan kelompok-kelompok miskin baru tersebut.  Gerakan Brexit yang tak jarang dibalut oleh narasi-narasi anti-imigran inilah yang kemudian memenangkan referendum, sehingga kini pun Britania Raya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Sekali lagi, apakah doktrin anti-imigrasi itu didukung data penelitian? Bisa jadi tidak. Namun, apakah ia efektif? Ya, paling tidak dalam memenangkan Brexit.

            Bagi saya, Gerakan Massa adalah sebuah karya yang padat dan ringkas mengenai isu yang tak akan lekang oleh waktu: kemunculan masyarakat fanatik yang rela berkorban dan melepaskan identitas ke-diri-an mereka untuk sebuah doktrin gerakan. Hoffer menyimpulkan bahwa fanatisme memiliki akar psikologis dari rasa frustrasi, kekecewaan, dan penolakan atas dunia yang dihidupi oleh sekelompok individu. Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman yang menarik sekaligus menegangkan, karena relevansinya yang seolah tak lekang oleh waktu.]]>
<![CDATA[15 Tipe Kesalahan Berlogika dan Contohnya]]>Fri, 12 Apr 2019 17:11:43 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/15-tipe-kesalahan-berlogika-dan-contohnyaSaya yakin, kalian pernah ada dalam kondisi gemas ketika mendengar/membaca suatu argumen. Kalian tahu ada yang janggal di sana, tapi kalian bingung salahnya di mana.

"Aduh, saya tahu itu salah, tapi gimana menjelaskannya ya?"

Nah, bisa jadi kalian tengah mendeteksi adanya kesalahan berlogika (logical fallacy) yang memang lazim menjadi penyakit kita ketika berargumen. Siapa pun tak lepas dari penyakit ini, termasuk saya. Namun, alangkah baiknya apabila kita bisa menyadari kesalahan sendiri, bukan begitu?

Dulu saya pernah membuat utas mengenai 10 kesalahan berlogika di Twitter. Karena banyak yang me-retweet dan banyak pula yang ingin mengetahui lebih, saya memutuskan membuatnya sedikit lebih panjang di sini. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama mengidentifikasi kesalahan tersebut dan menghindarinya sebisa mungkin. Agar mudah mengaitkannya dengan kondisi sehari-hari, saya juga memberikan contohnya. Selamat menyimak!

1. Ad Hominem alias "Ngata-ngatain"
Ad hominem adalah kesalahan logika ketika kita mendebat suatu argumen dengan cara menyerang pribadi penyampainya. Kesalahan logika ini memandang bahwa argumen yang dibawa lawan tidak valid karena sosok pembawanya yang dinilai tidak kredibel.
Contoh: 
  • A: "Pak, sepertinya kita perlu hemat energi"
  • B: "Kenapa?"
  • A: "Berdasarkan berita terbaru, listrik makin mahal"
  • B: "Anak kecil tahu apa!"
Dari contoh di atas, terlihat bahwa B tidak membantah argumen A dengan menggunakan data tandingan. Alih-alih, B mementahkan argumen A dengan mengungkit sosoknya yang dinilai masih kecil.

2. Slippery Slope alias "Ya-Nggak-Gitu-Juga-Kali Fallacy"
Slippery slope adalah kesalahan logika ketika kita beranggapan bahwa satu hal kecil dapat berujung pada rantai konsekuensi yang besar. Umumnya ini digunakan untuk mendebat sesuatu yang kita anggap kontroversial. Hal ini masuk kesalahan logika karena ia mengasumsikan kondisi-kondisi ekstrem akan terjadi walau tanpa adanya pembuktian yang valid di baliknya.
Contoh:
  • Suku Wakanda adalah kaum minoritas di negeri kita
  • Hari ini mereka minta kesetaraan hak 
  • Besok mereka minta hak lebih dari kaum mayoritas
  • Lusa mereka bisa-bisa menindas kita, lalu kita yang jadi minoritas
  • Oleh karena itu, jangan berikan Wakanda kesetaraan hak
Familiar dengan contoh tersebut? Ya, slippery slope memang kerap digunakan untuk menebarkan rasa takut berlebihan dengan menganggap bahwa suatu kondisi akan serta-merta berbuntut pada efek domino (yang umumnya negatif). 
Untuk menjadikan suatu slope valid, pembawa argumen perlu memberikan argumen yang bisa menjelaskan hubungan kausal A dengan B, B dengan C, begitu seterusnya. Semakin sulit kita menemukan hubungan langsung, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal lain, semakin mungkin pernyataan itu menjadi sebuah slippery slope.

3. Red Herring alias "Bahas apa jawabnya apa"
Tahu ikan herring? Itu adalah ikan sebangsa sarden. Apabila dimasak dengan cara diasap, ia akan berubah warna menjadi kemerahan dan berbau menyengat sampai-sampai orang yang lewat akan teralihkan perhatiannya. Begitu pula dengan red herring fallacy, ia merupakan kesalahan berpikir yang membawa topik yang tidak relevan dengan perdebatan demi mengalihkan pembicaraan.
Contoh 1: 
  • A: "Pak, ekonomi kita memburuk selama 3 tahun belakangan. Kebijakan Anda kurang pro-rakyat."
  • B: "Benar, tapi jangan lupa bahwa di pemerintahan saya, Timnas Karambol kita juara 1."
Contoh 2:
  • A: "#PrayForNewZealand"
  • B: "Peduli New Zealand oke sih, tapi saudara kita di Suriah mati setiap hari."
Dua contoh di atas pasti membuat kita berpikir, "Heee, bahas apa kok jawabnya apa..."
Untuk mencegah kita melakukan red herring, kita perlu memperhatikan relevansi topik yang akan kita angkat dengan topik yang tengah dibahas. Pun, membahas sesuatu belum tentu berarti kita mengabaikan hal lain, yang kemudian mengantarkan kita pada kesalahan berlogika berikutnya yakni...

4. False Dichotomy alias "Hitam-Putih"
Hidup ini berwarna, dan setiap warna punya gradasinya masing-masing. Begitu pula dengan pernyataan seseorang. False dichotomy adalah kesalahan berlogika tatkala kita beranggapan bahwa hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, mengabaikan segala kemungkinan lain yang ada.
Contoh:
  • "Kamu tidak suka komunisme, kamu pasti kapitalis."
  • "Dia tidak belajar malam itu, pasti dia keluyuran."
  • "Hanya teroris yang tidak mau setuju dengan kami."
  • "Lebih baik nikah dini daripada zina dini."
  • "Orang itu mengkritik Jokowi, pasti dia pendukung Prabowo."
Apa yang bermasalah dari semua pernyataan di atas? Ya, betul sekali, adanya anggapan bahwa dua hal memiliki hubungan kebalikan secara langsung, padahal tidak demikian. Hanya karena ia menyatakan A, belum tentu ia kontra terhadap pendapat B. Bisa jadi ada kemungkinan C, D, E, hingga Z. 
Mari kita ambil salah satu contoh di atas. Apakah kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang yang "tidak belajar" berarti "keluyuran"? Tidak semudah itu, Sumanto. Bisa jadi dia sakit, tertidur, sudah belajar hari sebelumnya, atau mungkin sedang latihan untuk menjadi Pokemon Master, siapa tahu?
Oleh karena itu, mari kita hindari false dichotomy. Selain salah kaprah secara tata logika, ia juga menyebalkan karena membuat kita berprasangka terhadap orang lain.

5. Tu Quoque alias "Kamu juga begitu!"
Tu quoque ("kamu juga" dalam bahasa Latin) adalah kesalahan berlogika dalam bentuk menyanggah pendapat lawan karena ia kita anggap munafik. Serupa dengan ad hominem, ia menganggap bahwa argumen lawan kita tidak valid karena karakter personalnya. Dalam hal ini, yang tu quoque muncul ketika kita anggap bahwa lawan gagal menunjukkan karakter yang konsisten dengan pendapat yang ia sampaikan.
Contoh:
  • A: "Jangan menyontek tugasku dong...itu pelanggaran akademik namanya"
  • B: "Halah, kamu dulu pasti pernah menyontek kan waktu SD?"
B tidak membela diri dengan argumen mengapa menyontek itu dibolehkan. Alih-alih, ia membalasnya dengan menuding A munafik karena pernah menyontek di waktu SD. Kalaupun A memang pernah menyontek, hal itu tidak membatalkan pendapat A bahwa menyontek adalah suatu pelanggaran akademik.

6. Strawman alias "Melintir Omongan"
Bayangkan kalian sedang bermusuhan dengan orang lain. Suatu hari, kalian membuat sebuah boneka jerami, kalian beri nama seperti nama musuh kalian itu, lalu boneka itu kalian pukuli sampai ia hancur. Itulah perumpamaan strawman fallacy. Menurut saya, strawman adalah kesalahan berlogika paling menyebalkan dari semua yang ada. Kadangkala, ad hominem maupun tu quoque bisa sedikit ditoleransi karena hanya diri kita yang diserang, sementara argumen kita dibiarkan begitu saja. Namun, dalam kasus strawman, pihak lawan sengaja memelintir argumen kita seolah-olah itu keluar dari mulut kita. Pelaku strawman akan mengutip argumen kita secara salah, memelintirnya sedemikian rupa (membangun boneka jerami), kemudian dia menyerang argumen kita yang sudah dipelintir tadi agar ia terkesan menang.
Contoh:
  • A: "Pengadilan tak bisa sewenang-wenang memutuskan hukuman. Bukti dan saksi harus disiapkan selengkap mungkin untuk menghindari kecacatan hukum."
  • B: "Jadi kamu membela pelaku? Saya tidak habis pikir kamu masih menolak pelaku dihukum."
  • A: "Lho, yang membela pelaku siapa?"
  • B: "Kamu! Pengadilan kok mau dilemahkan demi mendukung penjahat?"
Yak, tahu kesalahannya di mana? Tepat sekali: B salah menerjemahkan argumen A, lalu menyerang A berdasarkan tafsirannya sendiri. A menginginkan proses hukum yang adil, sementara B memelintir argumen A seolah-olah ia membela pelaku kejahatan.
Selain menyebalkan, strawman juga relatif sulit terdeteksi karena kita perlu teliti untuk tidak terjebak pada pelintiran tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari strawman, kita harus paham betul argumen kita dan jangan sampai terbawa emosi.

7. No True Scotsman alias "Bukan Golongan Kami"
Yang satu ini tentu cukup akrab dengan kita. No true Scotsman adalah sebuah kesalahan berlogika ketika kita mencoba mempertahankan sebuah generalisasi sekuat mungkin, sampai-sampai menolak segala contoh yang berlawanan sebagai pengecualian dalam generalisasi kita tersebut. Masih bingung? Mari simak contoh di bawah:
Contoh:
  • A: "Kelompok kami tidak pernah melakukan kekerasan!"
  • B: "Lapor, saya kemarin dikeroyok anggota kelompok situ!"
  • A: "Orang itu berarti bukan kelompok kami."
Bagaimana, sudah merasa familiar? Nah, umumnya no true Scotsman ini kita temui dalam kasus-kasus ketika ada sekelompok orang "cuci tangan" atas tindakan buruk yang telah dilakukan sesamanya. Hal ini merupakan kesalahan berlogika karena menolak bentuk kritik valid yang ditujukan kepada suatu kelompok. Akhirnya, semeyakinkan apa pun bukti yang dihadirkan, pelaku akan terus mementahkannya.

8. Anecdotal alias "Saya sih beda"
Kesalahan berpikir anecdotal adalah ketika kita menggunakan pengalaman pribadi untuk menyanggah suatu argumen, alih-alih menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh:
  • "Nenek saya merokok dan sehat sampai usia 90. Itu berarti merokok tidak merugikan kesehatan."
  • "Pemanasan global itu hoax. Kota saya baru saja turun salju kemarin."
  • "Tidak usah imunisasi, saya sejak kecil tidak diimunisasi juga tidak kena polio."
Di mana masalahnya? Tentu saja karena pengalaman personal belum tentu dapat menjadi generalisasi yang sah bagi setiap orang. Untuk menarik sebuah kesimpulan, diperlukan sekumpulan data yang dapat diterapkan dalam kondisi-kondisi lainnya. Soal imunisasi misalnya, kita tak dapat menyimpulkan bahwa ia tidak berguna hanya karena kita "tidak diimunisasi dan masih sehat". Sanggahan yang valid adalah apabila kita mampu menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara imunisasi dan menghilangnya suatu wabah.

9. Appeal to authority alias "Nderek mawon"

Kesalahan berlogika ini terjadi ketika kita menganggap sesuatu benar hanya karena seseorang berpengaruh mengatakannya.
Contoh:
  • "Tingkat korupsi pemerintahan kita tinggi. Pemimpin oposisi yang mengatakan, jadi itu benar."
  • "Bumi itu datar. Seorang tokoh spiritual menafsirkan seperti demikian, jadi itu benar."
  • "Negara kita terbaik di dunia. Presiden kita yang bilang, jadi itu benar."
Appeal to authority menjadi bermasalah karena ia menempatkan penarikan kesimpulan pada otoritas seseorang, bukan pada validitas klaim. Hal ini tentu berbeda dengan kasus "merujuk pada ahli" yang lazim ditemui dalam penelitian ilmiah. Apabila kita merujuk pada ahli, kita berusaha mengambil data yang mendukung klaim tersebut, bukan hanya menyebutkan nama mereka sebagai dasar pembenaran lalu menelannya mentah-mentah.
Untuk contoh pertama, misalnya, penarikan kesimpulan akan menjadi sah apabila ia mampu membuktikan bahwa si pemimpin oposisi memiliki data-data terukur mengenai tingkat korupsi pemerintahan. 

10. Personal incredulity alias "Sulit dipercaya, tidak mungkin!"
Hal ini adalah kesalahan logika saat kita menganggap sesuatu tak mungkin terjadi hanya karena ia sulit dipahami. Umumnya ini terjadi untuk menolak argumen-argumen ilmiah yang masih terdengar asing bagi kita, sehingga kita pun menolaknya atas dasar ketidakmungkinan tadi. 
Contoh:
  • "Kita sudah berlatih sekeras mungkin kok bisa kalah? Barangkali kita kena santet."
  • "Black hole terlalu sulit untuk dipahami manusia, jadi barangkali dia sebenarnya tidak ada."
  • "Mana ada manusia berevolusi dari mahkluk bersel satu, nggak mungkin itu."
Personal incredulity terjadi ketika ada celah lebar antara suatu realita dan kemampuan kita dalam memahami mekanismenya. Karena kita tidak cukup memahami penjelasan di baliknya, kita pun lebih memilih untuk mengabaikannya sebagai suatu hal yang tidak mungkin terjadi.
Untuk menghindari diri dari kesalahan berlogika tipe ini, biasakan menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai sesuatu yang tidak terlalu kita pahami. Selain itu, kita juga perlu meningkatkan pengetahuan kita agar mampu menjelaskan hal-hal yang awalnya sulit kita pahami.

11. Burden of Proof alias "Buktikan kalau saya salah"
Pada saat Indonesia tengah membangun diri, negara ini sibuk dengan bagaimana membentuk narasi pemersatu bangsa. Muhammad Yamin, salah satu sejarawan yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan, kemudian berinisiatif meneliti Gajah Mada sebagai sosok yang dulu pernah mencoba mempersatukan Nusantara.
Suatu hari, beliau mengunjungi Trowulan dan menemukan sebongkah terakota berwujud wajah pria gempal. Pecahan terakota itulah yang kemudian diklaim Yamin sebagai ilustrasi Gajah Mada. Tatkala pendapatnya itu didebat oleh sejarawan-sejarawan lain, Yamin membalas, "Buktikan kalau itu bukan wajah Gajah Mada." Inilah kesalahan logika berikutnya, yakni burden of proof atau memindahkan beban pembuktian pada orang yang menerima klaim kita.
Contoh:
  • A: "Di kehidupan sebelumnya, saya adalah pemain bola yang lebih hebat dari Cristiano Ronaldo."
  • B: "Ah ngarang kamu."
  • A: "Buktikan kalau saya salah. Nggak bisa kan? Berarti saya benar!"
Penarikan kesimpulan seperti itu salah karena beban pembuktian selalu ada pada pembuat klaim, bukan pada orang yang mendengar klaim kita. Ketidakmampuan orang lain membuktikan kesalahan klaim kita bukanlah tanda bahwa kita benar.

12. Appeal to popularity alias "Semua gitu kok"
Kesalahan logika ini ada saat kita percaya sesuatu itu benar hanya karena banyak orang yang menganggapnya benar pula. Kurang lebih, ini serupa dengan bandwagoning, atau mengikuti tren yang sedang ada hanya karena orang-orang lain tengah mengikutinya.
Contoh:
  • "Selebtwit X mengatakan bahwa memalsu ijazah itu boleh. Kicauannya mendapatkan seribu retweet, jadi ia tidak mungkin salah."
  • "Banyak orang menerobos lampu merah, jadi ia tidak apa-apa dilakukan."
  • "Semakin banyak orang berpikir bahwa bumi itu datar, jadi people power ini tidak mungkin salah."
Kesalahan berlogika ini kian berbahaya di era post-truth, ketika fakta-fakta tak lagi lebih berharga dibandingkan dengan klaim tanpa dasar. Orang-orang percaya apa yang ingin mereka percaya, dan itu diperparah dengan orang dalam jumlah besar yang menelannya bulat-bulat.

13. False cause atau "The Cocoklogi"
Apabila kita tadi sudah membahas false dichotomy sebagai salah satu bentuk kesalahan berpikir, kita juga punya false cause. Kali ini, ia terjadi apabila kita mengasosiasikan suatu akibat dengan sebuah sebab yang bisa jadi sama sekali tidak berkaitan. 
Contoh 1:
  • A: "Bro, aku yakin si X itu pembawa sial!"
  • B: "Kok bisa?"
  • A: "Waktu si X pergi ke Desa Sukadugem, besoknya ada kebakaran hutan!"
  • B: "Bro..."
Perlu kita ketahui bahwa korelasi belum tentu berarti adanya hubungan sebab-akibat. Ada kalanya dua hal terjadi beriringan karena suatu kebetulan. Untuk menghindari kesalahan tipe ini, kita harus dapat membedakan mana dua hal yang keterkaitannya dapat dijelaskan dan mana yang tidak. Apabila hari ini saya makan rawon dan nun jauh di sana Justin Bieber tersandung batu, apakah ia tersandung karena saya makan rawon? Tentu tidak demikian.

14. Circular reasoning alias "Mbuletisasi"
Kesalahan logika ini muncul ketika kita memulai argumen dengan suatu pernyataan, lalu pernyataan itu kita gunakan pula sebagai kesimpulan di akhir. Circular reasoning masuk ke dalam bentuk kesalahan logika karena baik pernyataan maupun kesimpulannya sama-sama memerlukan pembuktian yang sah. 
Contoh:
  • A: "Senior selalu benar."
  • B: "Kok bisa?"
  • A: "Karena senior berkata demikian."
  • B: "Lha kamu kok bisa nyimpulkan kalau dia nggak sedang ngibul?"
  • A: "Karena senior selalu benar."
Lihat contoh di atas, maka dapat kita lihat bahwa argumen A berputar-putar dengan format P benar maka Q benar, Q benar maka P benar. Ia tidak berusaha memberikan alasan valid mengapa "senior selalu benar" namun berlindung di balik premis kedua bahwa "senior berkata demikian".

15. The Fallacy Fallacy alias "Argumenmu-cacat-bye"
Setelah kita membaca panjang lebar contoh-contoh kecacatan logika di atas, jangan lupa bahwa ada sebuah kesalahan lain bernama the fallacy fallacy. Lho, maksudnya gimana tuh? 
The fallacy fallacy adalah kesalahan logika ketika kita menganggap suatu hal salah hanya karena penarikan kesimpulan yang cacat.
APA??? JADI APA GUNANYA KITA BELAJAR TIPE-TIPE KESALAHAN LOGIKA?
Sebentar...sebentar...sebelum kalian merasa tertipu, mari kita lihat contohnya.
Contoh:
  • A: "Jangan makan gula kebanyakan, nanti gendut lho."
  • B: "Nggak percaya ah."
  • A: "Ih dibilangin kok. Tuh, dokterku kemarin yang ngasih tahu."
  • B: "AHA! APPEAL TO AUTHORITY. Argumenmu cacat, aku ogah ndengerin. Bye."
Dari ilustrasi di atas, memang benar bahwa A telah melakukan kesalahan logika yakni appeal to authority. Namun, itu tidak membatalkan fakta bahwa konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Sehingga, di sini B juga melakukan fallacy fallacy dengan mementahkan argumen A sebagai suatu hal yang tidak valid.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk tidak cepat puas dengan memahami segala tipe kesalahan berpikir yang ada. Apabila kita tidak bijak, justru kitalah yang terjebak di dalam fallacy fallacy ​ini.

Fiuh, susah ya?

Memang. Membangun argumen berdasarkan logika adalah sebuah seni. Memahaminya tidak hanya membuat percakapan kita jadi lebih efektif, namun juga untuk menghindarkan kita dari kemarahan-kemarahan tidak perlu akibat kegagalan menangkap makna.]]>
<![CDATA[Jangan Mau Jadi Cebong atau Kampret!]]>Wed, 03 Apr 2019 13:29:47 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/jangan-mau-jadi-cebong-atau-kampretDi hadapan mahasiswa, saya pernah mengatakan bahwa ada satu hal sia-sia selain menggarami lautan.

Apa itu? Membela politisi mati-matian.

Saya tidak main-main saat mengatakan itu. Banyak sekali orang yang rela menanggalkan idealismenya demi mendukung politisi junjungan mereka secara membabi buta. Ini kian nampak saat pemilihan presiden makin dekat. Sedihnya, itu diikuti dengan tindakan tidak rasional seperti persekusi hingga pembunuhan terhadap yang berbeda pilihan.

Seandainya kita mau melihat secara rasional, kita dapat melihat bawa politik adalah soal kepentingan. Ia adalah nilai tukar utama di dalam politik. Politik adalah tentang menggunakan segala sumber daya yang kita miliki untuk meraih kepentingan itu tadi.

Berbicara mengenai politik, maka ia merupakan sebuah sistem yang penuh ketidaktentuan. Terlebih, hal itu diterapkan di dalam konteks Indonesia yang amat mudah berubah-ubah. Mereka yang kita bela mati-matian tahun ini, bisa jadi lima tahun ke depan akan berseberangan dengan kita. Pun, mereka yang kita benci hingga ke ubun-ubun, suatu hari bisa jadi akan merapat ke kubu yang kita dukung hari ini.

Lantas, bagaimana kita sebaiknya menyikapi hal tersebut?

Ada sebuah cerita tentang pemilik kos (landlord) saya di Sydney. Nama beliau adalah Duc. Beliau adalah seorang imigran asal Vietnam yang kemungkinan merupakan salah satu dari pengungsi saat Perang Vietnam pecah. Lambat laun, Duc pun beradaptasi dengan masyarakat Australia hingga kini menjadi warga negara sekaligus pemilik usaha persewaan rumah yang cukup sukses di kalangan mahasiswa.

Setiap pemilu, Duc tidak pernah bingung tentang siapa yang akan dipilih, karena ia selalu terfokus pada dua isu: (1) perlindungan imigran, dan (2) pajak bangunan. Siapa pun kandidat yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya terkait dua isu tersebut, ialah yang terpilih. Sebagai imigran, tentu ia dapat merasakan penderitaan yang sama dengan mereka yang terusir dari tanah airnya, sehingga ia senantiasa menginginkan negara yang ramah pada imigran. Di sisi lain, sebagai pengusaha kos-kosan, ia berpihak pada partai yang mampu memperjuangkan pajak bangunan agar tidak terlalu mencekik pemilik properti.

Seumpama pada pemilu ia memilih suatu partai karena komitmennya meningkatkan intake pengungsi, ia tak segan-segan mencabut dukungan bila di masa depan partainya gagal memenuhi janjinya. Duc terlibat secara aktif menyimak kebijakan-kebijakan mereka di media massa. Tugasnya tak berhenti di bilik suara. Justru sebaliknya, tugas Duc baru dimulai ketika politisi pilihannya berhasil menduduki jabatan.

Sayangnya, hal ini masih belum terlalu membudaya di kalangan kita. Berdasarkan pengamatan saya, ada kecenderungan bahwa mendukung politisi tertentu berarti membenarkan segala ucapan dan tindakannya, seirasional apa pun itu. Padahal, mendukung berarti menaruh kepercayaan kita pada mereka, bukan menjual jiwa kita kepada kepentingan mereka. Ketika kepercayaan kita disalahgunakan, kita pula yang berhak meluruskan agar mereka kembali memperjuangkan kepentingan kita.

Contohlah suporter sepak bola. Walaupun mereka mendukung klub kebanggaan mereka setengah mati, mereka jugalah orang pertama yang akan memaki-maki manajemen seandainya klub tidak beres. Bukan, saya tidak mengajak Anda memaki-maki politisi pilihan, namun semangat kritis inilah yang harus kita contoh. Itulah sikap warga negara yang aktif.

Sudah bukan masanya lagi kita hanya dijadikan lumbung suara, kita harus dapat rasional melihat mana yang terbaik. Syukur-syukur apabila kita dapat melakukan pertukaran ide untuk menguji klaim-klaim yang dibuat pada masa kampanye, sehingga tidak ada tempat lagi bagi hoax ataupun hasutan kebencian. Pun, kita tidak akan mudah termakan oleh slogan-slogan bombastis yang dibawa para politisi (seperti "pilih orang baik" atau "pilih akal sehat"), karena semuanya sudah tersaring melalui proses berpikir kritis. Kita tak akan mudah percaya figur, karena prinsip sudah terlanjur ada dalam jati diri kita sebagai warga negara.

Sudahlah, pemilu ini hanyalah sebuah ajang biasa dalam demokrasi. Sebagai "pesta demokrasi", lebih baik kita menyambutnya dengan gembira layaknya ajang mengadu gagasan. Tak ada gunanya berkelahi demi sebuah ajang 5-tahunan, apalagi hingga mengorbankan persatuan yang telah berdiri hampir 74 tahunan.

Apabila kita sampai kehilangan sahabat atau kerabat karena pemilu, jangan kaget apabila lima tahun dari sekarang kita menyesal. Peta akan berubah, tokoh yang kita hujat habis-habisan hari ini kelak berubah haluan, begitu pun sebaliknya.

Lantas, apa junjungan kita mau bertanggung jawab menyambung rantai silaturahim yang sudah kita putuskan?

Gak blas.

Milikilah prinsip. Jangan menjadi pengekor apalagi juru sorak politisi.
Bukan cebong atau kampret; jadilah warga negara aktif.]]>
<![CDATA[Stop Membandingkan Diri Dengan Orang Lain]]>Mon, 01 Apr 2019 05:06:52 GMThttp://ariobimoutomo.com/halaman-depan/tentang-membanding-bandingkan-diriQuarter-life crisis memang melelahkan, bukan begitu?

Pasti kita pernah atau sedang ada di fase itu. Entah melihat kawan seumuran lulus kuliah cepat, menyaksikan tetangga mendapatkan kerja dengan gaji bersatuan dolar, atau mengetahui bahwa sepupu yang lebih muda menikah duluan.

Untuk yang contoh terakhir, belum lagi kalau tiba-tiba orang tuanya, kegirangan lantaran punya menantu, bertanya: "Kapan nyusul? Masa kalah sama anak tante..."

Lalu kalian hanya bisa tersenyum masam.
Karena men-smackdown saudara hukumnya haram.

Kalian tidak sendirian. Saya pun pernah mengalami hal seperti itu, puncaknya adalah saat masa transisi setelah wisuda sarjana. Percayalah, skripsian itu tidak enak, tapi menganggur jauh lebih tidak enak. Masa-masa setelah wisuda benar-benar menguras habis tenaga, karena saya tak henti-hentinya membandingkan diri dengan mereka yang sudah jauh lebih sukses di umur sebaya.

Hingga pada suatu titik, saya memikirkan, bahwa perspektif seperti ini mulai menggerogoti semangat bagaikan rayap memakan kusen. Pola pikir ini hanya membuat hari-hari saya jauh dari produktif. Only a fool breaks his own heart, begitu kata Mighty Sparrow. Akhirnya, saya pun mengambil momen untuk merombak ulang cara pandang saya terhadap meraih impian hidup.

Catur vs Tetris
Tom Bair, dalam artikelnya di Medium, menuliskan bahwa hidup ini lebih mirip sebuah permainan tetris ketimbang catur. Dalam analogi permainan catur, ada dua hal yang menjadi penekanan: (1) perspektif hidup yang serba hitam-putih: zero-sum, pandangan hidup yang serba membagi hidup menjadi kutub “aku” melawan “mereka”; (2) gagasan bahwa hidup ini terdiri atas rangkaian sebab-akibat yang kaku: benar menggerakkan pion, satu jalur terbuka; salah menggerakkan pion, maka skakmat kaudapatDalam perspektif catur, hidup adalah sebuah pertempuran yang hanya memberikan satu kesempatan, tanpa ampun.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan bagaimana Bair menyajikan analogi tetris. Tetris adalah permainan yang repetitif dan tidak mungkin dimenangkan, tulis Bair, namun di sanalah pelajarannya. Permainan yang sering kita temui lewat game watch 1990-an ini tidak menghadapkan kita dengan seorang lawan—kecuali diri kita sendiri. Fokus dalam permainan ini adalah bagaimana kita menyusun bongkahan-bongkahan, yang datang tanpa jeda, menjadi sebuah rangkaian yang akan membuka jalan menuju kesempatan berikutnya. Bahkan, ketika kita salah menaruh bongkahan, masih ada kesempatan dalam bentuk bongkahan lain. Tidak seperti catur, tidak ada langkah-langkah spesifik memenangkan permainan, tidak ada lawan untuk disalahkan, dan tidak ada final boss--semua hanya bagaimana soal konsentrasi terhadap diri kita sendiri. Well, bukankah hidup juga seperti itu? Hidup sebenarnya adalah seni melukis tanpa menggunakan penghapus.

Menyimak Filsafat Jawa
Di samping membuka artikel-artikel yang datang dari negeri Barat, saya menyempatkan diri pula kembali ke akar saya dengan mengamati bagaimana budaya Jawa melihat masalah ini. Setelah saya amati, rupanya budaya Jawa juga tak kalah dahsyatnya dengan ajaran Zen yang begitu memfokuskan keseimbangan dalam diri. Ada sebuah prinsip yang kurang lebih sama dengan pernyataan-pernyataan di atas: “wong menang iku wong sing bisa ngasorake priyanggane dewe”, atau dalam bahasa Indonesia, pemenang adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam Islam pun, ada sebuah riwayat—walaupun ada sebagian ulama menganggap lemah—yang menyatakan bahwa jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.

Ada prinsip lain yang menegaskan pentingnya pengembangan diri sendiri, seperti (1) sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, atau segala sifat angkara murka akan kalah oleh kelembutan hati; (2) ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, atau berjuang tanpa mengandalkan bala bantuan, menang tanpa merendahkan, sakti tanpa jimat, dan kaya tanpa mengandalkan materi; ataupun (3) sapa weruh ing panuju sasad sugih pager wesi, siapa yang tahu tujuannya, maka ia akan terarah jalan hidupnya. Walaupun berbeda-beda pesan, semua prinsip yang saya kutip bermuara pada satu pemahaman: bahwa fokus terbesar tetap patut diberikan kepada diri sendiri. Pada kutipan (2) yang terkesan seperti ajaran Sun Tzu tentang seni peperangan saja, nasihat tetap ditujukan agar seorang individu memiliki integritas dalam berperilaku, bukan kepada bagaimana kita menaklukkan lawan.

Belajar Menghargai Progres
Saya pernah menjadi seseorang dengan prinsip “hidup adalah sebuah kompetisi” terpatri secara kokoh di otak. Rupanya, inilah akar permasalahannya. Pertama, memikirkan hidup sebagai sebuah arena persaingan tak akan ada habisnya. Kita akan selalu bertendensi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, selalu ada langit di atas langit, dan manusia diciptakan tidak pernah merasa puas.

Akan selalu ada orang lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, dan lebih-lebih segalanya dari saya. Dengan realita itulah saya harus berdamai. Kalaupun kita bisa menjadi terbaik di satu aspek, pasti ada aspek-aspek lain yang membuat kita tidak ada apa-apanya.

Kita boleh berpendapat bahwa Lionel Messi adalah salah satu pemain sepak bola terbaik dunia. Namun, saya yakin klub Liga Indonesia pun tidak akan mempercayainya dalam hal menjaga gawang.

Theodore Roosevelt pernah berkata bahwa comparison is the thief of joy: membanding-bandingkan diri adalah pencuri kebahagiaan kita. Berdasarkan sebuah lokakarya psikologi yang saya pernah datangi pun, manusia memiliki tendensi untuk berpikiran negatif. Saat membandingkan diri kita dengan orang lain, pikiran negatif akan lebih dulu memasuki alam bawah sadar kita, dan secara tidak langsung membuat kita buta akan progres yang kita buat sendiri. Hasilnya, kita akan lebih cepat putus asa dalam berjuang, atau kata orang Jawa, mutung.

Satu-satunya orang yang perlu kita bandingkan dengan diri kita di masa kini, adalah diri kita di masa lalu. Mungkin hal tersebut terdengar klise, namun tidak semua orang mampu mempraktikannya—sedikit yang melakukan upaya nyata untuk mengukur sejauh mana mereka telah melangkah. Dalam seminggu, ada baiknya kita luangkan satu hari untuk merenungi sejauh apa diri ini berprogres.

Ya, progres apa pun!
Dulu tidak sabaran, sekarang lebih sabar.
Dulu hanya mampu membaca satu buku dalam satu minggu, sekarang dua buku.
Dulu belum bisa menyetir mobil, sekarang bisa.
Itu semua pencapaian kecil yang kerap luput dari pengamatan kita. Karena luput itulah, kita gagal mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar.


Dengan demikian, menghargai progres, dan merasa lebih baik akan hal tersebut adalah sangat penting. Tentu saja hal ini lebih produktif ketimbang membandingkan diri dengan orang lain—karena kadang kita lupa, bahwa kita lebih suka membandingkan hasil, abai akan proses bagaimana orang tersebut sampai di titik yang ia tempati.

Don’t compare your backstage to someone’s front stage, or your first chapter to someone’s epilogue.

Mulai hari ini, mari rombak cara pandang dan mencoba hidup lebih tenang dengan menanamkan: "Saya tidak sedang bersaing dengan siapa pun kecuali diri sendiri. Ketika saya berhasil menaklukkan diri sendiri, banyak hal di masa depan telah menanti untuk direngkuh." ]]>