Saya yakin, kalian pernah ada dalam kondisi gemas ketika mendengar/membaca suatu argumen. Kalian tahu ada yang janggal di sana, tapi kalian bingung salahnya di mana.

“Aduh, saya tahu itu salah, tapi gimana menjelaskannya ya?”

Nah, bisa jadi kalian tengah mendeteksi adanya kesalahan berlogika (logical fallacy) yang memang lazim menjadi penyakit kita ketika berargumen. Siapa pun tak lepas dari penyakit ini, termasuk saya. Namun, alangkah baiknya apabila kita bisa menyadari kesalahan sendiri, bukan begitu?

Dulu saya pernah membuat utas mengenai 10 kesalahan berlogika di Twitter. Karena banyak yang me-retweet dan banyak pula yang ingin mengetahui lebih, saya memutuskan membuatnya sedikit lebih panjang di sini. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama mengidentifikasi kesalahan tersebut dan menghindarinya sebisa mungkin. Agar mudah mengaitkannya dengan kondisi sehari-hari, saya juga memberikan contohnya. Selamat menyimak!

1. Ad Hominem alias “Ngata-ngatain”
Ad hominem adalah kesalahan logika ketika kita mendebat suatu argumen dengan cara menyerang pribadi penyampainya. Kesalahan logika ini memandang bahwa argumen yang dibawa lawan tidak valid karena sosok pembawanya yang dinilai tidak kredibel.
Contoh: 

  • A: “Pak, sepertinya kita perlu hemat energi”
  • B: “Kenapa?”
  • A: “Berdasarkan berita terbaru, listrik makin mahal”
  • B: “Anak kecil tahu apa!”

Dari contoh di atas, terlihat bahwa B tidak membantah argumen A dengan menggunakan data tandingan. Alih-alih, B mementahkan argumen A dengan mengungkit sosoknya yang dinilai masih kecil.

2. Slippery Slope alias “Ya-Nggak-Gitu-Juga-Kali Fallacy”
Slippery slope adalah kesalahan logika ketika kita beranggapan bahwa satu hal kecil dapat berujung pada rantai konsekuensi yang besar. Umumnya ini digunakan untuk mendebat sesuatu yang kita anggap kontroversial. Hal ini masuk kesalahan logika karena ia mengasumsikan kondisi-kondisi ekstrem akan terjadi walau tanpa adanya pembuktian yang valid di baliknya.
Contoh:

  • Suku Wakanda adalah kaum minoritas di negeri kita
  • Hari ini mereka minta kesetaraan hak 
  • Besok mereka minta hak lebih dari kaum mayoritas
  • Lusa mereka bisa-bisa menindas kita, lalu kita yang jadi minoritas
  • Oleh karena itu, jangan berikan Wakanda kesetaraan hak

Familiar dengan contoh tersebut? Ya, slippery slope memang kerap digunakan untuk menebarkan rasa takut berlebihan dengan menganggap bahwa suatu kondisi akan serta-merta berbuntut pada efek domino (yang umumnya negatif). 
Untuk menjadikan suatu slope valid, pembawa argumen perlu memberikan argumen yang bisa menjelaskan hubungan kausal A dengan B, B dengan C, begitu seterusnya. Semakin sulit kita menemukan hubungan langsung, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal lain, semakin mungkin pernyataan itu menjadi sebuah slippery slope.

3. Red Herring alias “Bahas apa jawabnya apa”
Tahu ikan herring? Itu adalah ikan sebangsa sarden. Apabila dimasak dengan cara diasap, ia akan berubah warna menjadi kemerahan dan berbau menyengat sampai-sampai orang yang lewat akan teralihkan perhatiannya. Begitu pula dengan red herring fallacy, ia merupakan kesalahan berpikir yang membawa topik yang tidak relevan dengan perdebatan demi mengalihkan pembicaraan.
Contoh 1: 

  • A: “Pak, ekonomi kita memburuk selama 3 tahun belakangan. Kebijakan Anda kurang pro-rakyat.”
  • B: “Benar, tapi jangan lupa bahwa di pemerintahan saya, Timnas Karambol kita juara 1.”

Contoh 2:

  • A: “#PrayForNewZealand”
  • B: “Peduli New Zealand oke sih, tapi saudara kita di Suriah mati setiap hari.”

Dua contoh di atas pasti membuat kita berpikir, “Heee, bahas apa kok jawabnya apa…”
Untuk mencegah kita melakukan red herring, kita perlu memperhatikan relevansi topik yang akan kita angkat dengan topik yang tengah dibahas. Pun, membahas sesuatu belum tentu berarti kita mengabaikan hal lain, yang kemudian mengantarkan kita pada kesalahan berlogika berikutnya yakni…

4. False Dichotomy alias “Hitam-Putih”
Hidup ini berwarna, dan setiap warna punya gradasinya masing-masing. Begitu pula dengan pernyataan seseorang. False dichotomy adalah kesalahan berlogika tatkala kita beranggapan bahwa hanya ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, mengabaikan segala kemungkinan lain yang ada.
Contoh:

  • “Kamu tidak suka komunisme, kamu pasti kapitalis.”
  • “Dia tidak belajar malam itu, pasti dia keluyuran.”
  • “Hanya teroris yang tidak mau setuju dengan kami.”
  • “Lebih baik nikah dini daripada zina dini.”
  • “Orang itu mengkritik Jokowi, pasti dia pendukung Prabowo.”

Apa yang bermasalah dari semua pernyataan di atas? Ya, betul sekali, adanya anggapan bahwa dua hal memiliki hubungan kebalikan secara langsung, padahal tidak demikian. Hanya karena ia menyatakan A, belum tentu ia kontra terhadap pendapat B. Bisa jadi ada kemungkinan C, D, E, hingga Z. 
Mari kita ambil salah satu contoh di atas. Apakah kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang yang “tidak belajar” berarti “keluyuran”? Tidak semudah itu, Sumanto. Bisa jadi dia sakit, tertidur, sudah belajar hari sebelumnya, atau mungkin sedang latihan untuk menjadi Pokemon Master, siapa tahu?
Oleh karena itu, mari kita hindari false dichotomy. Selain salah kaprah secara tata logika, ia juga menyebalkan karena membuat kita berprasangka terhadap orang lain.

5. Tu Quoque alias “Kamu juga begitu!”
Tu quoque (“kamu juga” dalam bahasa Latin) adalah kesalahan berlogika dalam bentuk menyanggah pendapat lawan karena ia kita anggap munafik. Serupa dengan ad hominem, ia menganggap bahwa argumen lawan kita tidak valid karena karakter personalnya. Dalam hal ini, yang tu quoque muncul ketika kita anggap bahwa lawan gagal menunjukkan karakter yang konsisten dengan pendapat yang ia sampaikan.
Contoh:

  • A: “Jangan menyontek tugasku dong…itu pelanggaran akademik namanya”
  • B: “Halah, kamu dulu pasti pernah menyontek kan waktu SD?”

B tidak membela diri dengan argumen mengapa menyontek itu dibolehkan. Alih-alih, ia membalasnya dengan menuding A munafik karena pernah menyontek di waktu SD. Kalaupun A memang pernah menyontek, hal itu tidak membatalkan pendapat A bahwa menyontek adalah suatu pelanggaran akademik.

6. Strawman alias “Melintir Omongan”
Bayangkan kalian sedang bermusuhan dengan orang lain. Suatu hari, kalian membuat sebuah boneka jerami, kalian beri nama seperti nama musuh kalian itu, lalu boneka itu kalian pukuli sampai ia hancur. Itulah perumpamaan strawman fallacy. Menurut saya, strawman adalah kesalahan berlogika paling menyebalkan dari semua yang ada. Kadangkala, ad hominem maupun tu quoque bisa sedikit ditoleransi karena hanya diri kita yang diserang, sementara argumen kita dibiarkan begitu saja. Namun, dalam kasus strawman, pihak lawan sengaja memelintir argumen kita seolah-olah itu keluar dari mulut kita. Pelaku strawman akan mengutip argumen kita secara salah, memelintirnya sedemikian rupa (membangun boneka jerami), kemudian dia menyerang argumen kita yang sudah dipelintir tadi agar ia terkesan menang.
Contoh:

  • A: “Pengadilan tak bisa sewenang-wenang memutuskan hukuman. Bukti dan saksi harus disiapkan selengkap mungkin untuk menghindari kecacatan hukum.”
  • B: “Jadi kamu membela pelaku? Saya tidak habis pikir kamu masih menolak pelaku dihukum.”
  • A: “Lho, yang membela pelaku siapa?”
  • B: “Kamu! Pengadilan kok mau dilemahkan demi mendukung penjahat?”

Yak, tahu kesalahannya di mana? Tepat sekali: B salah menerjemahkan argumen A, lalu menyerang A berdasarkan tafsirannya sendiri. A menginginkan proses hukum yang adil, sementara B memelintir argumen A seolah-olah ia membela pelaku kejahatan.
Selain menyebalkan, strawman juga relatif sulit terdeteksi karena kita perlu teliti untuk tidak terjebak pada pelintiran tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari strawman, kita harus paham betul argumen kita dan jangan sampai terbawa emosi.

7. No True Scotsman alias “Bukan Golongan Kami”
Yang satu ini tentu cukup akrab dengan kita. No true Scotsman adalah sebuah kesalahan berlogika ketika kita mencoba mempertahankan sebuah generalisasi sekuat mungkin, sampai-sampai menolak segala contoh yang berlawanan sebagai pengecualian dalam generalisasi kita tersebut. Masih bingung? Mari simak contoh di bawah:
Contoh:

  • A: “Kelompok kami tidak pernah melakukan kekerasan!”
  • B: “Lapor, saya kemarin dikeroyok anggota kelompok situ!”
  • A: “Orang itu berarti bukan kelompok kami.”

Bagaimana, sudah merasa familiar? Nah, umumnya no true Scotsman ini kita temui dalam kasus-kasus ketika ada sekelompok orang “cuci tangan” atas tindakan buruk yang telah dilakukan sesamanya. Hal ini merupakan kesalahan berlogika karena menolak bentuk kritik valid yang ditujukan kepada suatu kelompok. Akhirnya, semeyakinkan apa pun bukti yang dihadirkan, pelaku akan terus mementahkannya.

8. Anecdotal alias “Saya sih beda”
Kesalahan berpikir anecdotal adalah ketika kita menggunakan pengalaman pribadi untuk menyanggah suatu argumen, alih-alih menggunakan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh:

  • “Nenek saya merokok dan sehat sampai usia 90. Itu berarti merokok tidak merugikan kesehatan.”
  • “Pemanasan global itu hoax. Kota saya baru saja turun salju kemarin.”
  • “Tidak usah imunisasi, saya sejak kecil tidak diimunisasi juga tidak kena polio.”

Di mana masalahnya? Tentu saja karena pengalaman personal belum tentu dapat menjadi generalisasi yang sah bagi setiap orang. Untuk menarik sebuah kesimpulan, diperlukan sekumpulan data yang dapat diterapkan dalam kondisi-kondisi lainnya. Soal imunisasi misalnya, kita tak dapat menyimpulkan bahwa ia tidak berguna hanya karena kita “tidak diimunisasi dan masih sehat”. Sanggahan yang valid adalah apabila kita mampu menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara imunisasi dan menghilangnya suatu wabah.

9. Appeal to authority alias “Nderek mawon”
Kesalahan berlogika ini terjadi ketika kita menganggap sesuatu benar hanya karena seseorang berpengaruh mengatakannya.
Contoh:

  • “Tingkat korupsi pemerintahan kita tinggi. Pemimpin oposisi yang mengatakan, jadi itu benar.”
  • “Bumi itu datar. Seorang tokoh spiritual menafsirkan seperti demikian, jadi itu benar.”
  • “Negara kita terbaik di dunia. Presiden kita yang bilang, jadi itu benar.”

Appeal to authority menjadi bermasalah karena ia menempatkan penarikan kesimpulan pada otoritas seseorang, bukan pada validitas klaim. Hal ini tentu berbeda dengan kasus “merujuk pada ahli” yang lazim ditemui dalam penelitian ilmiah. Apabila kita merujuk pada ahli, kita berusaha mengambil data yang mendukung klaim tersebut, bukan hanya menyebutkan nama mereka sebagai dasar pembenaran lalu menelannya mentah-mentah.
Untuk contoh pertama, misalnya, penarikan kesimpulan akan menjadi sah apabila ia mampu membuktikan bahwa si pemimpin oposisi memiliki data-data terukur mengenai tingkat korupsi pemerintahan. 

10. Personal incredulity alias “Sulit dipercaya, tidak mungkin!”
Hal ini adalah kesalahan logika saat kita menganggap sesuatu tak mungkin terjadi hanya karena ia sulit dipahami. Umumnya ini terjadi untuk menolak argumen-argumen ilmiah yang masih terdengar asing bagi kita, sehingga kita pun menolaknya atas dasar ketidakmungkinan tadi. 
Contoh:

  • “Kita sudah berlatih sekeras mungkin kok bisa kalah? Barangkali kita kena santet.”
  • Black hole terlalu sulit untuk dipahami manusia, jadi barangkali dia sebenarnya tidak ada.”
  • “Mana ada manusia berevolusi dari mahkluk bersel satu, nggak mungkin itu.”

Personal incredulity terjadi ketika ada celah lebar antara suatu realita dan kemampuan kita dalam memahami mekanismenya. Karena kita tidak cukup memahami penjelasan di baliknya, kita pun lebih memilih untuk mengabaikannya sebagai suatu hal yang tidak mungkin terjadi.
Untuk menghindari diri dari kesalahan berlogika tipe ini, biasakan menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai sesuatu yang tidak terlalu kita pahami. Selain itu, kita juga perlu meningkatkan pengetahuan kita agar mampu menjelaskan hal-hal yang awalnya sulit kita pahami.

11. Burden of Proof alias “Buktikan kalau saya salah”
Pada saat Indonesia tengah membangun diri, negara ini sibuk dengan bagaimana membentuk narasi pemersatu bangsa. Muhammad Yamin, salah satu sejarawan yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan, kemudian berinisiatif meneliti Gajah Mada sebagai sosok yang dulu pernah mencoba mempersatukan Nusantara.
Suatu hari, beliau mengunjungi Trowulan dan menemukan sebongkah terakota berwujud wajah pria gempal. Pecahan terakota itulah yang kemudian diklaim Yamin sebagai ilustrasi Gajah Mada. Tatkala pendapatnya itu didebat oleh sejarawan-sejarawan lain, Yamin membalas, “Buktikan kalau itu bukan wajah Gajah Mada.” Inilah kesalahan logika berikutnya, yakni burden of proof atau memindahkan beban pembuktian pada orang yang menerima klaim kita.
Contoh:

  • A: “Di kehidupan sebelumnya, saya adalah pemain bola yang lebih hebat dari Cristiano Ronaldo.”
  • B: “Ah ngarang kamu.”
  • A: “Buktikan kalau saya salah. Nggak bisa kan? Berarti saya benar!”

Penarikan kesimpulan seperti itu salah karena beban pembuktian selalu ada pada pembuat klaim, bukan pada orang yang mendengar klaim kita. Ketidakmampuan orang lain membuktikan kesalahan klaim kita bukanlah tanda bahwa kita benar.

12. Appeal to popularity alias “Semua gitu kok”
Kesalahan logika ini ada saat kita percaya sesuatu itu benar hanya karena banyak orang yang menganggapnya benar pula. Kurang lebih, ini serupa dengan bandwagoning, atau mengikuti tren yang sedang ada hanya karena orang-orang lain tengah mengikutinya.
Contoh:

  • “Selebtwit X mengatakan bahwa memalsu ijazah itu boleh. Kicauannya mendapatkan seribu retweet, jadi ia tidak mungkin salah.”
  • “Banyak orang menerobos lampu merah, jadi ia tidak apa-apa dilakukan.”
  • “Semakin banyak orang berpikir bahwa bumi itu datar, jadi people power ini tidak mungkin salah.”

Kesalahan berlogika ini kian berbahaya di era post-truth, ketika fakta-fakta tak lagi lebih berharga dibandingkan dengan klaim tanpa dasar. Orang-orang percaya apa yang ingin mereka percaya, dan itu diperparah dengan orang dalam jumlah besar yang menelannya bulat-bulat.

13. False cause atau “The Cocoklogi”
Apabila kita tadi sudah membahas false dichotomy sebagai salah satu bentuk kesalahan berpikir, kita juga punya false cause. Kali ini, ia terjadi apabila kita mengasosiasikan suatu akibat dengan sebuah sebab yang bisa jadi sama sekali tidak berkaitan. 
Contoh 1:

  • A: “Bro, aku yakin si X itu pembawa sial!”
  • B: “Kok bisa?”
  • A: “Waktu si X pergi ke Desa Sukadugem, besoknya ada kebakaran hutan!”
  • B: “Bro…”

Perlu kita ketahui bahwa korelasi belum tentu berarti adanya hubungan sebab-akibat. Ada kalanya dua hal terjadi beriringan karena suatu kebetulan. Untuk menghindari kesalahan tipe ini, kita harus dapat membedakan mana dua hal yang keterkaitannya dapat dijelaskan dan mana yang tidak. Apabila hari ini saya makan rawon dan nun jauh di sana Justin Bieber tersandung batu, apakah ia tersandung karena saya makan rawon? Tentu tidak demikian.

14. Circular reasoning alias “Mbuletisasi”
Kesalahan logika ini muncul ketika kita memulai argumen dengan suatu pernyataan, lalu pernyataan itu kita gunakan pula sebagai kesimpulan di akhir. Circular reasoning masuk ke dalam bentuk kesalahan logika karena baik pernyataan maupun kesimpulannya sama-sama memerlukan pembuktian yang sah. 
Contoh:

  • A: “Senior selalu benar.”
  • B: “Kok bisa?”
  • A: “Karena senior berkata demikian.”
  • B: “Lha kamu kok bisa nyimpulkan kalau dia nggak sedang ngibul?”
  • A: “Karena senior selalu benar.”

Lihat contoh di atas, maka dapat kita lihat bahwa argumen A berputar-putar dengan format P benar maka Q benar, Q benar maka P benar. Ia tidak berusaha memberikan alasan valid mengapa “senior selalu benar” namun berlindung di balik premis kedua bahwa “senior berkata demikian”.

15. The Fallacy Fallacy alias “Argumenmu-cacat-bye”
Setelah kita membaca panjang lebar contoh-contoh kecacatan logika di atas, jangan lupa bahwa ada sebuah kesalahan lain bernama the fallacy fallacy. Lho, maksudnya gimana tuh? 
The fallacy fallacy adalah kesalahan logika ketika kita menganggap suatu hal salah hanya karena penarikan kesimpulan yang cacat.
APA??? JADI APA GUNANYA KITA BELAJAR TIPE-TIPE KESALAHAN LOGIKA?
Sebentar…sebentar…sebelum kalian merasa tertipu, mari kita lihat contohnya.
Contoh:

  • A: “Jangan makan gula kebanyakan, nanti gendut lho.”
  • B: “Nggak percaya ah.”
  • A: “Ih dibilangin kok. Tuh, dokterku kemarin yang ngasih tahu.”
  • B: “AHA! APPEAL TO AUTHORITY. Argumenmu cacat, aku ogah ndengerin. Bye.”

Dari ilustrasi di atas, memang benar bahwa A telah melakukan kesalahan logika yakni appeal to authority. Namun, itu tidak membatalkan fakta bahwa konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Sehingga, di sini B juga melakukan fallacy fallacy dengan mementahkan argumen A sebagai suatu hal yang tidak valid.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk tidak cepat puas dengan memahami segala tipe kesalahan berpikir yang ada. Apabila kita tidak bijak, justru kitalah yang terjebak di dalam fallacy fallacy ​ini.

Fiuh, susah ya?

Memang. Membangun argumen berdasarkan logika adalah sebuah seni. Memahaminya tidak hanya membuat percakapan kita jadi lebih efektif, namun juga untuk menghindarkan kita dari kemarahan-kemarahan tidak perlu akibat kegagalan menangkap makna.

15 Tipe Kesalahan Berlogika dan Cara Mendeteksinya

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *