Sebagai daerah pesisir, Sydney dan sekitarnya memiliki pantai-pantai yang indahnya tiada banding. Tak hanya Bondi yang sudah tersohor, ada juga pantai-pantai lain seperti Bronte, Tamarama, Watsons Bay, atau nama-nama lainnya. Kabar gembira bagi penikmat pantai, Sydney tidak hanya menyediakan wisata pantai yang pada umumnya, namun juga menawarkan sebuah fitur coastal walk yang memungkinkan kita berjalan menyusuri bibir pantai sembari melihat pemandangan alam. Coastal walk adalah tipe wisata yang cukup lazim dilakukan di Australia mengingat tingginya budaya berjalan kaki di negara ini. Selain coastal walk, ada pula varian lain yakni bushwalk, kegiatan berpetualang menyusuri hutan sambil berjalan kaki. Keduanya menyenangkan, silakan pilih sesuai selera.

​Salah satu yang bisa kita coba adalah Kiama Coastal Walk yang terletak di Minnamurra, sebuah kota kecil berjarak sekitar 100 kilometer dari Sydney, atau 2 jam 30 menit naik kereta. Kiama Coastal Walk dimulai dari Minnamurra River kemudian bergerak ke selatan menuju Jones Beach, Cathedral Rocks, Bombo Beach, dan berakhir di Kiama Harbour. Coastal walk dengan rute ini memakan waktu kita-kira tiga jam dengan panjang rute sekitar 10 kilometer. Dengan trek yang cukup landai, Kiama Coastal Walk cocok bagi yang masih pemula.

Untuk mencapai Minnamurra dari Sydney, kita bisa naik kereta South Coast Line yang melayani rute dari Sydney menuju kota-kota di pantai selatan New South Wales. Namun demikian, kita harus ingat bahwa kereta ini hanya datang tiap satu jam. Apabila kita ingin melakukan coastal walk sebelum siang menyengat, kita perlu datang sepagi mungkin. Saya dan kawan-kawan dulu berangkat dari Sydney pada pukul 07.30, sehingga kami sampai di Minnamurra kira-kira pukul 10.00, saat sinar matahari belum seberapa terik.

Sebelum memulai perjalanan ke Kiama, saya dan kawan-kawan berhenti dulu di pinggir Minnamurra River untuk sarapan. Beberapa orang bangun terlambat sehingga buru-buru harus ke stasiun tanpa sarapan terlebih dahulu. Kami berbagi bekal, toh nantinya kami akan berjalan sama-sama ke tujuan. Saya membawa bekal berupa nasi goreng yang saya masak pada malam hari sebelumnya. Setelah sarapan, sejumlah dari kami memutuskan untuk bermain-main dengan air terlebih dahulu di Minnamurra River, saya pun tak terkecuali. Ada area permukaan Minnamurra River yang hanya sedalam pinggang sehingga kita yang tak bisa berenang bisa menceburkan diri tanpa khawatir tenggelam. Hanya saja kita perlu waspada, karena area ini banyak dihuni kerang yang menempel di bebatuan, sehingga kaki kita bisa tertancap apabila tak berhati-hati seperti saya. Ketika saya mentas sehabis berendam, saya tak sengaja menginjak kulit kerang yang lumayan tajam. Akhirnya saya pun terpaksa berhenti dulu demi mencabut potongan kulit kerang sebisa mungkin, lalu menutup luka di tumit dengan perban. Pada akhirnya memang tidak sakit, namun ada seserpih potongan kulit kerang yang baru bisa dikeluarkan dari tumit saya setelah kira-kira dua minggu. Oleh karena itu berhati-hatilah, baiknya gunakan sandal atau minimal bawalah obat-obatan pertolongan pertama apabila hal seperti itu terjadi.

Sepanjang perjalanan dari Minnamurra ke Kiama, kami begitu dimanjakan dengan semilir angin serta pemandangan yang amboi indahnya. Berhubung kami bepergian di bulan April, ketika musim gugur mencapai puncaknya, suhu di Kiama begitu menyenangkan untuk dipakai berjalan-jalan, tidak terlalu panas namun juga dengan angin yang tak bikin menggigil. Di sana, kita bisa melihat berbagai macam formasi bebatuan pantai dan debur ombak yang begitu megah. Hal tersebut dipercantik pula dengan tetumbuhan seperti pohon cemara dan bebungaan yang agak sulit kita temui di pantai-pantai Indonesia. Di sisi barat kami, terdapat pula deretan rumah-rumah pinggir pantai yang begitu memikat. Beruntung sekali mereka yang dapat tinggal di kawasan secantik ini, pikir saya.
 
Di tengah perjalanan, tepatnya di kisaran Jones Beach, terdapat kendala. Kami tidak tahu trek melanjutkan perjalanan karena sejumlah rute yang harusnya tertera di peta tiba-tiba ditutup. Beberapa dari kami pun sudah kehabisan air minum.

Meninggalkan kawan-kawan di belakang, saya mencoba sedikit nekad dengan masuk ke area pekarangan warga yang ada di puncak tebing pantai. Saya mencari siapa pun yang ada lalu bertanya mana rute ke Kiama. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada seorang wanita sedang membersihkan halaman belakang rumahnya. Sedikit basa-basi, saya pun bertanya manakah jalan menuju Kiama.

Rupanya wanita itu bukanlah pemilik rumah, melainkan hanya asisten rumah tangga. Ia lalu memanggil orang lain dari dalam rumah, keluarlah seorang kakek-kakek berwajah ramah yang sejatinya adalah sang pemilik rumah. Saya mengulangi pertanyaan yang sama lalu kakek tersebut menunjukkan jalan alternatif ke Kiama, yakni lewat lorong kecil di sebelah rumahnya. Saya berterima kasih dan memanggil kawan-kawan yang masih di bawah. Mereka langsung berhamburan naik begitu mengetahui bahwa jalan menuju Kiama sudah ditemukan.

Kembali menggunakan jurus nekad, saya bertanya apakah kami boleh meminta air minum karena bekal sudah menipis. Si kakek kemudian memanggil wanita tadi dan terlihat membisikkan sesuatu sehingga ia masuk ke dapur. Sekejap kemudian, wanita tadi kembali ke halaman belakang dengan membawa satu pitcher air es beserta gelas-gelasnya! Rezeki nomplok! Kami pun seketika sumringah dan minum sebanyak-banyaknya, tak lupa ada yang mengisi botol bekal agar cukup menyelesaikan perjalanan yang masih menyisakan separuh rute itu.

Kami mengobrol sejenak dengan sang kakek pemilik rumah yang ramahnya luar biasa itu. Ia senang sekali bisa mengenal lebih jauh kami yang berasal dari Indonesia. Rupanya ia sudah lama tinggal di kawasan Minnamurra walau berasal dari kawasan lain di New South Wales. Berbincang selama kurang lebih sepuluh menit untuk melepaskan lelah, kami lalu meneruskan perjalanan dengan tak lupa berterima kasih kepada para penghuni rumah atas kesediaan mereka menampung kami. Rute yang dipilihkan oleh beliau rupanya tersambung dengan jalan raya, saat menengok ke kiri, terlihat pemandangan laut dengan segala kegagahannya. Sungguh beruntungnya kami hari itu.

Kami tiba di Kiama Harbor sekitar oukul 16.00 waktu setempat. Matahari masih bersinar terang namun terasa bahwa suhu perlahan turun. Kiama adalah sebuah kota kecil yang cantik, di sekitar pelabuhan, terdapat bangunan-bangunan kuno bergaya eropa dengan jalanan yang sepi dan bersih. Sesampainya di Kiama, kami disambut dengan deretan penjaja suvenir maupun makanan yang rupanya sudah bersiap diri di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Beberapa kawan pergi sejenak untuk membeli fish and chips, sementara saya dan kawan-kawan yang tersisa memilih pergi ke Kiama Blowhole, sebuah lubang di antara cadas tebing pantai yang memungkinkan ombak laut menyembur secara spektakuler dari sana. Pada jam-jam tertentu, terutama ketika pasang, Kiama Blowhole dapat menyemburkan air dengan ketinggian 25 meter.
               
Tak jauh dari Kiama Blowhole, terdapat sebuah mercusuar. Tidak terlalu istimewa memang, hanya mercusuar biasa. Namun begitu, tentu saja kurang sah apabila tidak berfoto di tempat tersebut.
Setelah puas berfoto-foto, matahari pun tenggelam. Bergegaslah kami ke Kiama Station agar tidak ketinggalan kereta ke Sydney, tentu kami semua tidak ingin menunggu lebih malam. Tepat pukul 6 sore, kami pulang ke Sydney membawa setumpuk kenangan akan indahnya panorama Kiama dan tentang pertemanan yang makin kompak. Kereta pun tiba di Sydney dengan selamat pada pukul 20.15.
Sesampainya di rumah, saya langsung mengambil baskom dan merendam kaki saya yang tertusuk serpihan kerang dengan larutan antiseptik.

Asyiknya Coastal Walk

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *