Quarter-life crisis memang melelahkan, bukan begitu?

Pasti kita pernah atau sedang ada di fase itu. Entah melihat kawan seumuran lulus kuliah cepat, menyaksikan tetangga mendapatkan kerja dengan gaji bersatuan dolar, atau mengetahui bahwa sepupu yang lebih muda menikah duluan.

Untuk yang contoh terakhir, belum lagi kalau tiba-tiba orang tuanya, kegirangan lantaran punya menantu, bertanya: “Kapan nyusul? Masa kalah sama anak tante…”

Lalu kalian hanya bisa tersenyum masam.
Karena men-smackdown saudara hukumnya haram.

Kalian tidak sendirian. Saya pun pernah mengalami hal seperti itu, puncaknya adalah saat masa transisi setelah wisuda sarjana. Percayalah, skripsian itu tidak enak, tapi menganggur jauh lebih tidak enak. Masa-masa setelah wisuda benar-benar menguras habis tenaga, karena saya tak henti-hentinya membandingkan diri dengan mereka yang sudah jauh lebih sukses di umur sebaya.

Hingga pada suatu titik, saya memikirkan, bahwa perspektif seperti ini mulai menggerogoti semangat bagaikan rayap memakan kusen. Pola pikir ini hanya membuat hari-hari saya jauh dari produktif. Only a fool breaks his own heart, begitu kata Mighty Sparrow. Akhirnya, saya pun mengambil momen untuk merombak ulang cara pandang saya terhadap meraih impian hidup.

Catur vs Tetris
Tom Bair, dalam artikelnya di Medium, menuliskan bahwa hidup ini lebih mirip sebuah permainan tetris ketimbang catur. Dalam analogi permainan catur, ada dua hal yang menjadi penekanan: (1) perspektif hidup yang serba hitam-putih: zero-sum, pandangan hidup yang serba membagi hidup menjadi kutub “aku” melawan “mereka”; (2) gagasan bahwa hidup ini terdiri atas rangkaian sebab-akibat yang kaku: benar menggerakkan pion, satu jalur terbuka; salah menggerakkan pion, maka skakmat kaudapatDalam perspektif catur, hidup adalah sebuah pertempuran yang hanya memberikan satu kesempatan, tanpa ampun.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan bagaimana Bair menyajikan analogi tetris. Tetris adalah permainan yang repetitif dan tidak mungkin dimenangkan, tulis Bair, namun di sanalah pelajarannya. Permainan yang sering kita temui lewat game watch 1990-an ini tidak menghadapkan kita dengan seorang lawan—kecuali diri kita sendiri. Fokus dalam permainan ini adalah bagaimana kita menyusun bongkahan-bongkahan, yang datang tanpa jeda, menjadi sebuah rangkaian yang akan membuka jalan menuju kesempatan berikutnya. Bahkan, ketika kita salah menaruh bongkahan, masih ada kesempatan dalam bentuk bongkahan lain. Tidak seperti catur, tidak ada langkah-langkah spesifik memenangkan permainan, tidak ada lawan untuk disalahkan, dan tidak ada final boss–semua hanya bagaimana soal konsentrasi terhadap diri kita sendiri. Well, bukankah hidup juga seperti itu? Hidup sebenarnya adalah seni melukis tanpa menggunakan penghapus.

Menyimak Filsafat Jawa
Di samping membuka artikel-artikel yang datang dari negeri Barat, saya menyempatkan diri pula kembali ke akar saya dengan mengamati bagaimana budaya Jawa melihat masalah ini. Setelah saya amati, rupanya budaya Jawa juga tak kalah dahsyatnya dengan ajaran Zen yang begitu memfokuskan keseimbangan dalam diri. Ada sebuah prinsip yang kurang lebih sama dengan pernyataan-pernyataan di atas: “wong menang iku wong sing bisa ngasorake priyanggane dewe”, atau dalam bahasa Indonesia, pemenang adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Dalam Islam pun, ada sebuah riwayat—walaupun ada sebagian ulama menganggap lemah—yang menyatakan bahwa jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.

Ada prinsip lain yang menegaskan pentingnya pengembangan diri sendiri, seperti (1) sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, atau segala sifat angkara murka akan kalah oleh kelembutan hati; (2) ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, atau berjuang tanpa mengandalkan bala bantuan, menang tanpa merendahkan, sakti tanpa jimat, dan kaya tanpa mengandalkan materi; ataupun (3) sapa weruh ing panuju sasad sugih pager wesi, siapa yang tahu tujuannya, maka ia akan terarah jalan hidupnya. Walaupun berbeda-beda pesan, semua prinsip yang saya kutip bermuara pada satu pemahaman: bahwa fokus terbesar tetap patut diberikan kepada diri sendiri. Pada kutipan (2) yang terkesan seperti ajaran Sun Tzu tentang seni peperangan saja, nasihat tetap ditujukan agar seorang individu memiliki integritas dalam berperilaku, bukan kepada bagaimana kita menaklukkan lawan.

Belajar Menghargai Progres
Saya pernah menjadi seseorang dengan prinsip “hidup adalah sebuah kompetisi” terpatri secara kokoh di otak. Rupanya, inilah akar permasalahannya. Pertama, memikirkan hidup sebagai sebuah arena persaingan tak akan ada habisnya. Kita akan selalu bertendensi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, selalu ada langit di atas langit, dan manusia diciptakan tidak pernah merasa puas.

Akan selalu ada orang lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, dan lebih-lebih segalanya dari saya. Dengan realita itulah saya harus berdamai. Kalaupun kita bisa menjadi terbaik di satu aspek, pasti ada aspek-aspek lain yang membuat kita tidak ada apa-apanya.

Kita boleh berpendapat bahwa Lionel Messi adalah salah satu pemain sepak bola terbaik dunia. Namun, saya yakin klub Liga Indonesia pun tidak akan mempercayainya dalam hal menjaga gawang.

Theodore Roosevelt pernah berkata bahwa comparison is the thief of joy: membanding-bandingkan diri adalah pencuri kebahagiaan kita. Berdasarkan sebuah lokakarya psikologi yang saya pernah datangi pun, manusia memiliki tendensi untuk berpikiran negatif. Saat membandingkan diri kita dengan orang lain, pikiran negatif akan lebih dulu memasuki alam bawah sadar kita, dan secara tidak langsung membuat kita buta akan progres yang kita buat sendiri. Hasilnya, kita akan lebih cepat putus asa dalam berjuang, atau kata orang Jawa, mutung.

Satu-satunya orang yang perlu kita bandingkan dengan diri kita di masa kini, adalah diri kita di masa lalu. Mungkin hal tersebut terdengar klise, namun tidak semua orang mampu mempraktikannya—sedikit yang melakukan upaya nyata untuk mengukur sejauh mana mereka telah melangkah. Dalam seminggu, ada baiknya kita luangkan satu hari untuk merenungi sejauh apa diri ini berprogres.

Ya, progres apa pun!
Dulu tidak sabaran, sekarang lebih sabar.
Dulu hanya mampu membaca satu buku dalam satu minggu, sekarang dua buku.
Dulu belum bisa menyetir mobil, sekarang bisa.
Itu semua pencapaian kecil yang kerap luput dari pengamatan kita. Karena luput itulah, kita gagal mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar.

Dengan demikian, menghargai progres, dan merasa lebih baik akan hal tersebut adalah sangat penting. Tentu saja hal ini lebih produktif ketimbang membandingkan diri dengan orang lain—karena kadang kita lupa, bahwa kita lebih suka membandingkan hasil, abai akan proses bagaimana orang tersebut sampai di titik yang ia tempati.

Don’t compare your backstage to someone’s front stage, or your first chapter to someone’s epilogue.

Mulai hari ini, mari rombak cara pandang dan mencoba hidup lebih tenang dengan menanamkan: “Saya tidak sedang bersaing dengan siapa pun kecuali diri sendiri. Ketika saya berhasil menaklukkan diri sendiri, banyak hal di masa depan telah menanti untuk direngkuh.” 

Haruskah Membandingkan Diri?

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *