Saya mau berbagi cerita soal kawan baru saya. Kalau Liverpool punya John Lennon dan Yoko Ono, maka Sydney punya John Mackie dan Yuki Kumagai. Keduanya, kalau saya boleh sok akrab, merupakan teman-teman pertama saya dari kalangan warga lokal.

Pertemuan saya dengan keduanya terbilang unik. Hari itu Senin, dan saya pulang dari kuliah perdana. Sayangnya, berhubung ketika itu masih tinggal di Botany Bay, saya harus naik bus dari Central Station. Namun cerobohnya, saya lupa harus naik bus dari halte yang mana. Saat kebingungan itulah, saya bertemu seorang musisi jalanan, seorang pemain saksofon. Ketika itu, ia tengah membereskan peralatan-peralatannya, bersiap pulang. Saya memberanikan diri untuk bertanya, dan untunglah dia tahu rute yang saya maksud. Beruntungnya lagi, rupanya dia tinggal tak jauh dari halte yang saya cari, sehingga ia bersedia mengantarkan saya. 

“What’s your name?” tanya pria itu, setelah ia memberi tahu lokasi halte yang saya cari.
“It’s Bimo, Sir. B-I-M-O,” jawab saya.
“Wait, are you from Indonesia?” tambahnya, sepertinya melihat dari baju batik yang saya kenakan,
“Yes I am,” jawab saya.
“I have a friend from Indonesia, he’s also a musician that once lived in Australia. His name is Indra Lesmana,” tambahnya.

Wow! Orang ini rupanya kawan seorang Indra Lesmana. Saya bilang saja, kalau kawan sang musisi sangat terkenal di Indonesia. Rupanya, beliau sempat main satu panggung dengan Indra Lesmana, tepatnya saat mantan suami Sophia Latjuba itu masih tinggal di Sydney. 

“I once searched his name on YouTube, and apparently he is really famous now,” ceritanya.

Saya membenarkan pernyataan beliau, dan ia pun mengenang kembali bagaimana mereka berdua beberapa kali bertemu dan bermain musik bersama.

Dari obrolan singkat tersebut, topik pembicaraan pun merembet ke hal-hal lain seperti perkuliahan, budaya Indonesia, hingga kehidupan di Sydney. Orang ini rupanya juga lumayan mengikuti kabar soal Indonesia, ia sempat bertanya kepada saya bagaimana kondisi demokrasi Indonesia setelah Orde Baru. 

“I believe that Indonesia has a good future,” ungkapnya dengan tersenyum.

John Mackie, itulah nama sang musisi. Dia merupakan warga kelahiran Selandia Baru yang sudah tinggal di Sydney sejak 1981. Ia memiliki seorang istri bernama Yuki Kumagai yang berasal dari Jepang. Sayangnya, saat itu ia sedang tidak ditemani sang istri. John mengaku bahwa ia memang sering “mengamen” di Central Station. 

Sesampainya di rumah, saya kian penasaran dengan identitas John Mackie. Akhirnya saya pun mencari namanya di internet. Hasil pencarian membawa saya pada website YukiJazz.com, yang memuat profil John. Di sana, terpajang foto pria yang saya temui di stasiun sore itu. Benar saja, itulah John Mackie yang saya temui di Central Station, walau ia terlihat lebih muda di foto. Pada halaman profil tersebut, John Mackie dideskripsikan sebagai salah satu dari “three of Australia’s most versatile and legendary Jazz musicians”. Wow untuk kedua kalinya! Rupanya orang ini bukan “pengamen” sembarangan! Sebuah kehormatan bisa mengobrol dengannya, walaupun sebentar.

Setelah saya berpikir bahwa saya tidak akan bertemu John lagi, saya suatu hari dipertemukan lagi dengannya. Ketika itu, saya sedang dalam perjalanan berbelanja mingguan dan hendak naik kereta ke Bankstown. Kali ini, ia ditemani oleh seorang wanita berwajah oriental yang memainkan keyboard di sampingnya. Mereka tengah bermain musik di terowongan Central Station. Saya menyapa John dan rupanya ia masih mengingat saya dengan baik. John pun memperkenalkan saya dengan sang istri, Yuki, seorang warga Jepang. Yuki adalah orang dengan keramahan khas negeri sakura, selalu tersenyum, membuat siapapun yang melihatnya ikut bahagia.

“You are from Indonesia? Do you know any Japanese song?” tanya Yuki.
“Yes, some of them…like Sukiyaki, Kokoronotomo, and…Kimigayo,” balas saya. Yuki merespons jawaban terakhir saya dengan tertawa lepas.
Akhirnya kami pun nyanyi Kimigayo bareng.

Setelah kami rampung dengan lagu kebangsaan Jepang tersebut, John kemudian mengatakan bahwa ada lagu Amerika Latin yang katanya populer di Indonesia. Lagu tersebut judulnya Moliendo Cafe. Saya bilang, kalau saya belum pernah mendengar lagu terbebut. Walau begitu, John yakin bahwa lagu itu terkenal di Indonesia. Ia lalu menyanyikan sedikit bagiannya, dan tidak sampai lama, saya langsung mengenali nada-nada tersebut…

KOPI DANGDUT!

“It’s called Kopi Dangdut in Indonesia! We’ve changed the lyrics a bit,” timpal saya.
“Great! Would you like to sing it in Indonesian while we play the music?” tantang John.

Sungkan menolak, saya pun memenuhi ajakan tersebut. Toh, tidak ada yang kenal saya di sini (walaupun saya sempat berdoa tidak ada awardee LPDP yang sedang ke Central Station). Saya kemudian melantunkan Moliendo Cafe, berdasarkan lirik Kopi Dangdut yang dipopulerkan oleh Fahmi Shahab. Orang lalu-lalang di hadapan saya, seakan memperhatikan bahasa apa yang tengah didendangkan. Sebuah pengalaman yang menarik!

Lagu pun berakhir, Yuki dan John berterima kasih dan memuji kesediaan saya bernyanyi. Berhubung saya masih harus belanja, saya mohon izin pamit kepada mereka. Namun demikian, sebelum saya beranjak ke peron, John menyodorkan sebuah kertas berisi jadwal manggung mereka. Ia menunjukkan jadwal terdekat, yakni pada 1 April, ketika mereka akan tampil di sebuah kafe di Glebe. Saya diundang untuk hadir untuk menyaksikan penampilan mereka. Saya pun berjanji akan hadir, lumayan sembari ngopi.

Hari yang dinanti pun tiba. Tanggal 1 April silam, saya datang ke Well Connected Cafe yang berada di Glebe Point Road, sekitar 200 meter dari rumah. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Di dalamnya, terlihat John dan Yuki sedang menikmati makan malam sebelum tampil. Saya menyalami mereka satu per satu, dan mempersilakan saya duduk terlebih dahulu sembari mereka makan. Saya kemudian memesan secangkir kopi sebagai teman membaca buku. Di sana, John memperkenalkan saya dengan dua orang kawannya: Victor, seorang peneliti di University of New South Wales, dan Nicolas, seorang keturunan Yunani lulusan jurusan sejarah University of Sydney. Kami pun mendiskusikan banyak hal, khususnya seputar bidang yang kami pelajari masing-masing. Usia yang terpaut jauh tidak membuat obrolan canggung, dan inilah yang saya sukai dari orang-orang Australia, yakni budaya egaliter yang mengakar kuat. Obrolan kami pun makin seru dengan diiringi penampilan musik jazz dari John dan Yuki.

Saat tengah asyik berdiskusi, tiba-tiba John memanggil saya.

“We would like to invite a fried from Java, Indonesia, to sing the Indonesian version of Moliendo Cafe! Please welcome Bimo!”

Alamak! Saya disuruh maju. Demi pengalaman berkesan, saya penuhi permintaan tersebut. Sekali lagi, saya berharap agar tidak ada mahasiswa Indonesia yang sedang lewat, atau kebetulan ngopi di sana. Sekadar informasi saja, kafe ini terletak hanya beberapa blok saja dari rumah yang bisa dibilang sebagai salah satu “markas besar” awardee LPDP. 

Penampilan dari John dan Yuki berakhir pada pukul 12 malam, seiring tutupnya Well Connected Cafe. Mereka berterima kasih atas kesediaan saya memenuhi undangan, plus kesediaan saya menyumbangkan suara. Saya kemudian minta maaf apabila tak bisa mendatangi penampilan mereka berikutnya, karena saya akan menghadapi ujian tengah semester.

Benar adanya, bahwa banyak hal besar dimulai dari kejadian-kejadian kecil. Dari sebuah hal tak terduga seperti nyasar di stasiun, saya berhasil dipertemukan dengan kawan-kawan baru di sana. 

Kini, saya masih berhubungan dengan mereka berdua melalui email. Saya berharap suatu hari bisa kembali bertemu mereka apabila kembali ke Sydney.

John dan Yuki

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *