Beberapa kawan mengira bahwa sebagai negara Persemakmuran, Australia akan tak jauh beda dari Britania Raya soal budaya dan unggah-ungguh. Namun demikian, setelah menjalani kehidupan di Australia selama beberapa saat, ada hal yang membuatnya lumayan berbeda. Apabila kita analogikan dengan budaya Jawa, saya selalu mengatakan bahwa Britania Raya itu semacam Yogyakarta atau Solo, sedangkan Australia adalah Surabaya. Walau secara budaya bisa dikatakan seragam, Australia yang berlokasi jauh dari “keraton” Britania Raya mempunyai karakter khusus yang kemudian menjadi ciri khas setempat. Kurang lebih mirip lah dengan Surabaya yang punya karakter orang Jawa versinya sendiri, blak-blakan dan cenderung lepas dari formalitas ala keraton.

Pertama-tama, mari mulai dengan sebuah pertanyaan: apa yang kita pikirkan tentang gaya hidup masyarakat Barat? Umumnya, stigma yang terbersit di benak kita terhadap gaya hidup bule bernada negatif: acuh tak acuh, individualis, serba bebas, dan tak mau diatur. Benarkah demikian? Dari pengamatan saya selama berada di Australia, negeri selatan ini seakan ingin meruntuhkan pandangan tersebut.

Dalam sistem masyarakat Indonesia, kita sudah lama mengenal konsep gotong royong. Saking pentingnya konsep ini, bapak proklamator kita, Ir. Soekarno, pernah mengatakan: apabila Pancasila masih harus dipadatkan menjadi satu sila, maka sila tersebut adalah gotong royong. Konsep inilah yang kerapkali membuat kita menepuk dada, bangga akan jati diri kita sebagai warga dunia yang bersahabat. Hal serupa saya temukan juga di Australia melalui konsep mateship. Menurut MacGregor Duncan dkk dalam bukunya, Imagining Australia (2004), mateship adalah sebuah budaya yang menjadi ciri khas Australia. Secara harfiah, konsep ini dapat diartikan sebagai pertemanan. Namun, mateship lebih dari sekadar itu. Bagi masyarakat Australia, mateship mencakup persahabatan, kerjasama, tanggung jawab bersama, dan menemani kawan di saat susah atau senang. Konsep mateship sudah mengakar di Australia sejak era kolonial, khususnya di era Perang Dunia I dan II, yang menjadi saksi persaudaraan erat di antara pasukan tempur Australia.

Lantas, bagaimanakah praktik mateship? Pertama, dan mungkin contoh paling mudah, adalah kebiasaan orang Australia yang memanggil siapapun dengan julukan mate. Di Sydney, sudah tak terhitung orang yang menyebut saya mate walaupun kami tak saling kenal: sopir taksi, tukang cukur, pelayan restoran, penjaga perpustakaan, banyak pokoknya. Maka dari itu, tak perlu bingung apabila mendadak lupa nama kenalan baru di negeri kanguru. Cukup panggil dia sebagai mate, selesailah masalah. Sebagaimana panggilan bung di Indonesia, mate adalah sapaan yang bersifat egaliter.

Mateship dapat kita temukan dalam bentuk lain, ungkapan basa-basi untuk membuka percakapan misalnya. Di Australia, jangan heran apabila kita kerap mendapatkan pertanyaan retorik macam “Nice weather, isn’t it?” atau “How are you?” untuk mencairkan suasana. Saat belanja di supermarket pun, kebanyakan kasir akan memulai proses transaksi dengan kalimat “Hey, how is it going?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus kita jawab, cukup respons dengan senyum dan anggukan kecil sebagaimana kita menyapa bapak-bapak pengendara sepeda di sepanjang Malioboro. Praktik basa-basi seperti ini seharusnya bukan hal baru lagi bagi masyarakat kita.

Selanjutnya, warga Australia bisa dikatakan tidak suka kepo, yang bisa kita salah terjemahkan sebagai sikap individualis. Namun begitu, di balik sikap tersebut, ternyata terdapat satu nilai yang dapat kita tiru, yakni menghargai privasi orang lain. Tapi jangan salah, dalam hal tolong-menolong, mungkin kita masih perlu belajar kepada orang Australia. Inilah salah satu wujud mateship lainnya, yakni selalu bersedia membantu dalam kondisi susah ataupun senang. Pernah suatu hari, saya dan seorang teman berjalan-jalan di kampus pada hari pertama kuliah. Sebagaimana mahasiswa asing ndeso lainnya, kami ingin mengambil gambar di beberapa sudut kampus yang keren. Sayangnya, karena hanya berdua, kami kesulitan mengambil gambar secara otomatis. Saat itulah, dari kejauhan, kami lihat ada seorang wanita sedang berjalan terburu-buru, seperti sedang mengejar sesuatu. Uniknya, ketika ia lewat di depan kami yang sedang kebingungan, ia masih sempat menawarkan diri untuk menjadi juru foto. Kami menolak dengan halus, dan mempersilakan wanita tadi melanjutkan urusannya.

Nilai lain dari mateship adalah kesetaraan bagi semua orang. Di kampus, misalnya, adalah hal yang lumrah apabila memanggil dosen dengan nama depannya saja. Praktik inilah yang mungkin sedikit membuat canggung mahasiswa Indonesia pada awalnya. Bayangkan memanggil dosen kita yang bergelar profesor hanya dengan nama depannya saja di Indonesia, bisa-bisa kita diomeli di tempat kalau tidak diganjar nilai E.

Contoh unik berikutnya adalah bagaimana adab masyarakat Australia soal menumpang taksi. Di Australia, adalah hal yang lebih sopan untuk duduk di kursi samping sopir apabila bepergian sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak merasa lebih tinggi dari sang sopir. Praktik seperti inilah yang akhirnya menjadi kebiasaan baru ketika saya pulang ke Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari sebuah artikel di ABC yang ditulis oleh Margaret Burin (2015), mateship masih mengakar kuat di budaya Australia. Bahkan, mantan perdana menteri Australia, John Howard, pernah mengusulkan agar mateship masuk di dalam pembukaan konstitusi. Sayangnya, upaya ini tidak berhasil, karena mendapatkan kritik habis-habisan. Salah satunya dari Les Murray, sastrawan Australia, yang menganggap bahwa mateship “bukan kata baku”. Walau begitu, bukan berarti mateship kehilangan maknanya. Pada 2013, Westpac mensurvei 1.000 orang responden, dan menanyakan mereka tentang hal yang paling mendefinisikan seorang warga Australia. 15 persen dari mereka menjawab mateship, sebagai peringkat pertama, disusul oleh “ramah” dan “santai” sebagai jawaban-jawaban berikutnya (Australian Broadcasting Cooperation, 2015).

Menilik konsep mateship yang dimiliki Australia dan membandingkannya dengan gotong royong yang dimiliki Indonesia, sebenarnya banyak kemiripan yang ada di sana. Nah, apakah gotong royong yang kita banggakan sudah benar-benar kita tanamkan, atau hanya sekadar slogan tanpa makna? Atau justru kita masih harus berguru kepada sang tetangga, yang sering kita tuduh sebagai individualis? Tak perlu dijawab secara langsung, cukup kita resapi dalam hati, sebagaimana saya mengangguk pelan, mengapresiasi ucapan“How are you?” yang saya terima dari seorang kasir siang itu.

Konsep Mateship dalam Masyarakat Australia

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *