Hidup di tengah masyarakat, terutama dengan kultur komunal seperti Indonesia, memiliki konsekuensi baik positif maupun negatif. Positifnya, masyarakat kita telah lama dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan menjunjung tinggi kepedulian. Di sisi lain, kultur komunal itu pun membuat kita kerap harus hidup di tengah ekspektasi orang lain. Dengan tingginya tingkat kepedulian orang lain, tak jarang kita harus berhenti dan berpikir: “apa yang orang-orang pikirkan tentang saya?” atau “apakah keputusan saya mengambil hal ini sudah baik di mata orang?”

Agaknya itu juga yang membuat lebaran di masa-masa quarter life crisis begitu melelahkan. Lebaran bukanlah momen yang kita kenal dulu, ketika ia hanya berarti makan-makan, berkunjung ke rumah kakek-nenek, serta menerima THR dari kerabat yang lebih tua dari kita. Di usia 20-an, perlahan segala kebiasaan di masa lalu bergeser. Kita mulai dipanggil om/tante oleh keponakan yang lahir satu per satu, THR yang tak lagi datang karena kita dianggap sudah dewasa, sampai pertanyaan-pertanyaan menyebalkan tentang pilihan hidup.

Untuk yang terakhir, tentu masing-masing dari kita sudah punya gambaran apa saja pertanyaan itu.

Hal sama juga saya rasakan pada lebaran kali ini. Banyak hal yang terasa berbeda karena kini kita harus mengelola diri kita di hadapan segala ekspektasi. Bahkan, pada hari terakhir Ramadan kemarin, saya meng-uninstall Instagram agar mencegah saya dari godaan update yang kiranya mampu mengundang komentar orang. Sekilas memang nampak egois, namun itu cara saya menyaring residu-residu informasi agar tetap waras di hari lebaran. Lebih baik menjauh dari media sosial saat tidak stabil daripada menyesal kemudian.

Sebenarnya kita tidak lelah dengan momen silaturahim itu sendiri. 
Kita lelah dengan ekspektasi orang lain.

Hidup adalah serangkaian pertanyaan “kapan” yang datang silih berganti. Kapan kawin, kapan sekolah lagi, kapan punya anak, kapan punya cucu. Selagi kita hidup, agaknya pertanyaan-pertanyaan semacam itu tak akan pernah ada habisnya.

Pada akhirnya, saya pun harus berdamai dengan realita bahwa orang-orang akan selalu menyoroti hal yang kurang dari kita. Lulus S2 dari kampus ternama? Masih akan “kalah” dengan yang sudah menikah. Sudah bekerja? Masih akan “kalah” dengan yang bergaji jauh lebih banyak dari kita. Sudah menikah? Masih akan “kalah” dengan yang punya anak banyak. Begitu pun seterusnya.

Memang, melelahkan untuk selalu berhadapan dengan ekspektasi orang (yang kadang terlalu tinggi) terhadap kita. Seringkali, mereka pun tak peduli dengan kisah di balik segala keputusan yang kita ambil. Mereka hanya mendengar sekilas, lantas kecewa ketika mengetahui bahwa apa yang kita ambil tak sesuai dengan imajinasi mereka. Padahal, kalaupun kita bisa mengubah keadaan agar ia lebih berpihak pada kita, amat mungkin keputusan lain itulah yang kita ambil. Namun, tentu saja rencana hidup tak selamanya mulus.

Contohnya adalah keputusan saya mengambil studi doktoral. Memang tak banyak yang tahu, namun kini saya sedang melanjutkan kuliah program doktor Ilmu Sosial di Universitas Airlangga. Pilihan melanjutkan studi di dalam negeri adalah keputusan saya berdasarkan sejumlah pertimbangan. Salah satu alasan utama adalah tingkat kebugaran ibu saya yang tidak sebaik dulu sejak divonis mengidap hipertiroidisme pada 2016. Atas pertimbangan itulah, saya memutuskan kuliah di Surabaya agar masih bisa meringankan pekerjaan-pekerjaan rumah yang seabreg. Ilmu mungkin bisa didapat di mana saja, namun kesempatan berbakti pada orang tua hanya ada sekali saja.

Lebaran lalu, saya harus berkali-kali menghadapi pertanyaan mengapa saya tidak mengambil studi doktoral di luar negeri.  Tak dapat dipungkiri, saya (amat) ingin kembali studi di luar negeri. Walau begitu, tak mungkin saya meninggalkan Indonesia selama 3-4 tahun tanpa mempertimbangkan segala konsekuensi yang ada. Pasti ada sedikit sakit hati ketika pilihan tersebut disambut dengan tuduhan “cari aman” atau “tidak berani ambil tantangan” oleh mereka yang tak tahu beratnya mengambil pertimbangan.

Belum lagi ditambah dengan pertanyaan standar “kapan nikah?” yang total saya terima tiga kali selama lebaran.

*maaf kalau sedikit curhat, tapi apa gunanya punya blog kalau bukan untuk itu?*

Saya yakin bahwa kawan-kawan memiliki kisah yang sama, atau paling tidak serupa, mengenai dihadapkan pada ekspektasi lebih dari orang lain. Apa pun kisah yang kalian jalani, terimalah empati saya.

Melatih diri untuk tidak kehilangan zen saat menghadapi ekspektasi orang lain adalah sebuah seni. Begitu juga dengan kelihaian untuk tidak melihat satu keputusan dari satu sisi saja. Bisa jadi orang lain mengambil keputusan karena memang itulah yang terbaik bagi dirinya. Kehidupan kita bukan kehidupan mereka. Kalaupun kita kecewa dengan pilihan yang mereka ambil, bisa jadi mereka sudah terlebih dahulu merasakan sakitnya menelan kekecewaan tersebut sebelum akhirnya memutuskan sesuatu.

Di sisi lain, kita juga perlu sepakat untuk tidak sepakat. Inilah hal yang kemudian saya sadari belakangan. Komentar orang-orang akan selalu ada, dan kita tak mungkin selamanya bersungut-sungut akibat ekspektasi orang. Kita pantas mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Cara yang bisa kita lakukan adalah mengingat kembali mengapa kita memilih keputusan tersebut. Setiap orang pasti memiliki sebuah misi dalam hidup, dan mengingat misi tersebut kerapkali efektif untuk memantik kembali semangat yang padam. Ingatlah bahwa kita pernah berdoa siang-malam demi posisi yang kita tempati saat ini. Ingat kembali mengapa kita memutuskan kuliah, ingat kembali mengapa kita memutuskan menikah lebih awal, ingat kembali mengapa kita memutuskan bekerja di tempat yang kita inginkan saat ini.

Saya teringat tips seorang kawan untuk menuliskan impian-impian dalam sebuah catatan. Setiap kali semangatnya kendor, ia akan membuka catatan tersebut. Secara instan, ia pun teringat kembali bahwa langkahnya telah jauh hingga titik yang ia singgahi saat ini hingga semangatnya kembali.

Pada akhirnya, mungkin kelelahan atas ekspektasi itu hanya bisa sembuh dengan mengungkapkannya. Menyangkal bahwa kita sedang lelah bisa jadi adalah sumber kelelahan itu sendiri. Saya yakin, kekuatan seseorang bukan ada pada kemampuannya menghindari perasaan negatif, melainkan pada bagaimana ia mengelola perasaan tersebut. Itulah mengapa saya menuangkan kekesalan tersebut dalam wujud artikel ini. Selain menulis, bercerita pada orang-orang kepercayaan bisa menjadi solusi agar jiwa kita yang lelah akan ekspektasi dapat menemukan istirahatnya sejenak. Pun, boleh jadi berkomunikasi dengan orang lain akan membuat mereka sedikit lebih sensitif mengenai ekspektasi-ekspektasi yang mereka punya terhadap kita. Siapa tahu, dari komunikasi tersebut akan terjalin hubungan saling mendukung dan memahami.

Namun, yang tak kalah pentingnya bagi kita adalah untuk menjadi orang yang peka. Setiap orang memiliki pergulatan batinnya sendiri, sehingga ada baiknya kita berhati-hati mengeluarkan pertanyaan (atau pernyataan) yang tak didasarkan pada pengetahuan lebih dalam akan latar belakang lawan bicara kita. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, dan hal tersebut bisa dimulai dari tidak kementhus dengan pilihan-pilihan hidup orang lain.

Lelah dengan Ekspektasi? Saya Juga!

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *