Bagi mahasiswa asing, kesempatan berkuliah di luar negeri adalah suatu momen menjadi duta kecil bagi negara asal. Namun demikian, bagi mahasiswa muslim seperti saya, peran itu tergandakan: selain menjaga nama baik Indonesia, saya juga membawa identitas sebagai seorang muslim.

Sejumlah kawan bertanya, pernahkah saya mengalami peristiwa islamofobia selama di sana? Jawabannya pernah, walaupun tidak dalam skala parah sehingga saya mengalami kekerasan fisik. Namun demikian, terkadang kita harus siap meluruskan stigma-stigma negatif yang terlanjur beredar di masyarakat. Untuk kasus ini, saya punya sejumlah pengalaman aktual.

Yang pertama terjadi ketika saya belum genap sebulan di Australia.

Suatu hari, di tengah libur akhir pekan, saya pergi ke Wollongong. Kota yang terletak di selatan Sydney ini berjarak sekitar dua jam perjalanan naik kereta. Mungkin karena ukuran dan tingkat kesibukan yang bisa dibilang kecil, Wollongong tidak se-multikultural Sydney. Wajar halnya apabila kalangan imigran jarang terlihat di kota ini, mereka barangkali hanya terkonsentrasi di sekitaran University of Wollongong.

Setelah turun dari kereta, saya memutuskan pergi ke pantai yang kira-kira berjarak satu kilometer dari pusat kota.

Di pantai, saya melihat beberapa pemuda tanggung tengah bermain bola. Melihat saya berjalan-jalan sendiri, mereka memanggil saya. Saya membandingkan respons tersebut mirip dengan kehebohan sebagian masyarakat kita tatkala melihat bule di tempat umum.

Mereka bertanya kepada saya, “Which country are you from?”
“Indonesia,” jawab saya singkat.
“Muslim?” tanya mereka lagi.
“Yes,” tambah saya.
Sembari tertawa, pemuda itu menoleh ke belakang dan berteriak kepada teman-temannya yang lain, “Hey, look, I’m here with an Indonesian terrorist!”  

Dalam sekejap, sekitar sepuluh pemuda datang mengerumuni saya.

Bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya saya. Itu adalah bulan pertama saya di Australia, kemudian saya disebut teroris ketika pertama kali berjalan-jalan keluar Sydney sendirian. Hal-hal yang jadi kemungkinan terburuk sudah terlintas di kepala. Kondisi pantai sangat sepi, hanya ada kami di sana, dan sangat mungkin tak ada yang bisa menolong bila saya dikeroyok di tempat.

Untunglah hal itu tak terbukti. Mereka rupanya hanya mengajak saya, si teroris ini, berfoto selfie. Setelah itu, mereka pun pergi, walau sempat terdengar ada yang melontarkan sedikit sumpah serapah sembari tertawa ke arah saya. 

Saya menghela nafas panjang. Lega.
Apakah saya teroris? Sekali-sekali pun bukan.
Apakah saya simpatisan Al Qaeda? Bukan, kalau Al Jarreau sih iya. Lagunya enak-enak.
Apakah saya doyan membunuh? Sekalipun tidak. Bahkan, kalau ada lalat hanyut di bak mandi, saya lebih memilih mengambilnya dan menaruhnya di secarik tisu kering hingga ia bisa terbang lagi ketimbang mem-flush-nya di kloset.

Saya hanya kebetulan seagama dan senegara dengan para teroris simelekete itu. 

Kalau boleh dikata, saya justru salah satu orang yang paling marah ketika identitas saya dibajak untuk melakukan teror kepada sesama manusia, tak kurang nilainya dari kemarahan mereka.

Boleh jadi ia hanya bercanda, namun itu menunjukkan bahwa umat Islam masih memiliki stigma negatif di mata sejumlah warga Australia. Di sisi lain, saya tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Sebagian orang Australia memang masih dipenuhi trauma tragedi Bom Bali I, II, ataupun teror di Kedubes Australia. Orang-orang seperti itu hanyalah korban dari kebencian yang ditularkan secara berkelanjutan.

Insiden kedua adalah ketika saya mengikuti sebuah kelas bertajuk International Security. Sebagaimana namanya, kelas ini membahas isu-isu keamanan internasional masa kini. Berbeda dengan perkuliahan pada umumnya, kelas dilaksanakan dalam bentuk diskusi, sehingga setiap mahasiswa diwajibkan untuk bersuara. Dalam hal ini, dosen bersifat sebagai moderator yang cenderung pasif. Ketika itu, topik yang dibahas adalah terorisme internasional. Kami memulai diskusi dengan membahas apa itu terorisme, bagaimana terorisme muncul, dan apa akar dari terorisme.

Ketika diskusi kian dalam, dosen pun menyebutkan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebagai salah satu objek studi. Ketika nama ISIS disebutkan, saya sudah membatin, “Waduh, pasti nyinggung Islam ini, siap-siap aja”. Benar saja, dari pembahasan seputar aktivitas ISIS, diskusi pun kian merembet ke Islam sebagai agama.
Seorang mahasiswa mengajukan pendapatnya mengenai akar terorisme. “Menurut saya, bisa saja masalahnya ada pada ajaran Islam itu sendiri. Seperti ajaran melakukan bom bunuh diri, atau membunuh nonmuslim untuk mendapatkan bidadari,” ungkapnya.

Dosen saya, yang mungkin menyadari bahwa ada seorang muslim di kelas, buru-buru mengoreksi pendapat mahasiswa tersebut.

“Mungkin saya perlu meluruskanmu di sini. Masalahnya bukan pada Islam, namun pada interpretasi Islam. Dalam hal ini, ISIS mewakili interpretasi Islam yang ekstrem,” ujarnya. Sesekali, matanya melirik ke saya, seakan takut bahwa saya akan tersinggung, sekaligus memberi saya sinyal untuk angkat bicara.

Saya pun mengambil kesempatan tersebut,

“Terima kasih untuk pendapat Anda, namun di sini saya ingin meluruskan beberapa hal,” saya mencoba untuk memasang wajah setenang mungkin, mengingat suasana kelas yang mendadak tegang.

“Saya muslim, dan berdasarkan apa yang saya pelajari, membunuh orang tak berdosa adalah dosa besar dalam Islam. Selain itu, bunuh diri juga termasuk dosa besar. Apakah logis bila teroris melakukan dua dosa besar sekaligus, sementara mereka mengaku mewakili muslim?” jelas saya. Ingin sekali saya mengutip beberapa dalil, tapi apa daya, saya hanya muslim awam. Saya hanya menyampaikan nilai-nilai Islam yang saya pahami sedari kecil, yakni cinta kasih.

Dosen saya pun terlihat sedikit lega melihat saya yang tidak terprovokasi.

Suasana diskusi pun kembali kondusif, dan kelas pun sepakat bahwa terorisme tidak dapat dipandang sebagai isu yang sederhana. Agama bisa saja dijadikan salah satu alat, namun faktor-faktor lain seperti kesenjangan ekonomi dan rendahnya pendidikan adalah hal lain yang patut diperhatikan.

Setelah kelas selesai, mahasiswa tadi bergegas menghampiri saya. Ia meminta maaf apabila pendapatnya tadi membuat saya marah.

Jujur, tidak ada rasa marah, karena itulah sebuah realita pahit: Islam kini identik dengan terorisme, perilaku negatif yang—ironisnya—dilarang dalam ajarannya. Saya tidak dapat menyalahkan kawan saya tadi, karena itulah citra Islam yang ia terima. Islam tercoreng karena perilaku buruk penganutnya sendiri.

Dalam perjalanan pulang, kami pun mengobrol sejenak mengenai topik yang dibahas di kelas.
“Menurutmu, mengapa banyak orang mengaku beragama tapi menjadi teroris?” tanyanya.
“Banyak orang relijius, tapi sedikit dari mereka yang spiritual,” jawab saya.
“Maksudmu?”
“Menurutku, disebut relijius itu mudah: lakukan saja semua ritual yang diperintahkan. Sementara itu, menjadi spiritual adalah hal berbeda. Kita tidak hanya percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi kita juga yakin bahwa Tuhan hadir di setiap tindakan kita. Sebagai dampaknya, kita mampu melihat esensi dari ritual tersebut,” jawab saya.

Kawan saya pun tersenyum lalu mengangguk. Ia sepertinya puas dengan jawaban saya. Belakangan saya ketahui bahwa ia seorang agnostik: tidak beragama, namun mengakui kemungkinan adanya Tuhan.

“Kalau ada hal-hal lain yang ingin Anda tanyakan seputar Islam, silakan tanyakan langsung, nanti akan saya jawab,” tutup saya sebelum pamit untuk pulang ke rumah.

Pengalaman tersebut cukup berkesan bagi saya. Secara pribadi, mungkin saya bukanlah muslim yang taat-taat amat. Namun begitu, dengan pengetahuan agama saya yang masih pas-pasan ini, saya cukup bangga saat mampu meluruskan pandangan negatif orang lain mengenai Islam.

Setelah kejadian itu, saya menyadari bahwa menjadi muslim adalah sebuah tanggung jawab. Kita pasti sudah sering mendengar konsep umat Islam yang seperti tubuh: apabila satu sakit, maka yang lain bereaksi. Sebaiknya, konsep ini diterapkan tak hanya ketika muslim disakiti. Lebih dari itu, seharusnya konsep umat bisa jadi pengingat bagi kita: untuk setiap perilaku negatif yang kita lakukan atas nama agama, ada saudara kita di belahan bumi lain yang dapat terkena getahnya.

Dengan memberikan saya kesempatan menjadi minoritas, sepertinya Allah ingin saya belajar untuk menjadi muslim yang lebih baik lagi: sehingga kelak bila saya kembali ke Indonesia sebagai mayoritas, saya mampu menjadi bagian dari umat Islam yang mengayomi, dan mencerminkan rahmatan lil alamin.

“Look, an Indonesian Terrorist!”

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *