“Sulit nggak cari makanan halal?”

Orang Indonesia hobi makan, sehingga bukan rahasia lagi kalau pertanyaan yang paling kerap diajukan adalah soal makanan.

Sebagaimana kita ketahui, Australia bukanlah negara dengan mayoritas penduduk muslim. Makanan halal, walaupun relatif mudah ditemui, tetap saja tidak seperti di Indonesia yang ada di mana saja. Untuk urusan ini, saya akhirnya mencari info soal tempat-tempat penyedia makanan halal yang ada di Sydney melalui Google, aplikasi HalalGuide, ataupun melalui teman-teman yang sudah lebih dahulu sampai di sana.

Soal belanja makanan, kawan-kawan senior memiliki tips tersendiri. Menurut mereka, lebih aman bagi kita untuk belanja bahan-bahan mentah ketimbang membeli makanan jadi. Selain lebih murah, kehalalannya bisa kita jaga lewat bahan yang kita pilih. Segi murahnya juga tak kalah penting sih. Sydney adalah kota yang memberi upah yang besar terhadap jasa, termasuk pengolahan makanan. Hal ini tercermin dalam perbandingan harga bahan mentah dan makanan olahan yang lumayan njomplang. Bayangkan saja, dengan 15 dolar, kita umumnya hanya bisa memesan satu porsi makanan jadi, seperti nasi goreng atau ayam bakar.

Di sisi lain, dengan nominal sama, kita bisa membeli sekilo daging sapi dan beberapa bungkus bumbu instan. Itu sudah cukup untuk makan sekitar tiga hari, belum lagi kalau kita memilih potongan daging yang murah sehingga kembaliannya masih ada.

Untuk urusan daging, kita yang muslim masih bisa bernapas lega. Ada banyak kawasan yang menyediakan produk daging halal. Di Botany, tempat saya tinggal selama sebulan, ada sejumlah toko daging halal yang tersebar di kawasan pertokoan. Di Maroubra, dekat University of New South Wales, ada TJ Halal Meats yang dimiliki oleh warga Australia asal Yogyakarta. Di luar itu, tak terlalu sulit mencari daging halal, apalagi ketika sejumlah supermarket seperti Coles dan Woolworths juga menyediakan daging dengan standar halal.

Namun demikian, apabila kita ingin punya banyak pilihan, maka suburb-suburb di kawasan Canterbury-Bankstown jawabannya. Suburb yang masuk ke dalam kawasan ini misalnya Canterbury, Belmore, Lakemba, Wiley Park, Punchbowl, serta Bankstown, Di antara semuanya, Lakemba adalah suburb favorit saya karena ia menyediakan pilihan halal butchery paling banyak di antara yang lain. Di kawasan yang banyak disinggahi imigran dari Lebanon ini, halal butchery tersebar di sepanjang jalan, tentunya dengan variasi daging yang bermacam-macam. Tidak hanya sapi, domba, atau ayam. Kalau beruntung, kalian bisa menemukan daging halal “unik” lainnya seperti rusa, kanguru, atau unta, walau tidak selalu tersedia setiap hari.

​Sayangnya, kekurangan dari Lakemba adalah ia jauh dari pusat kota Sydney. Untuk mencapai kawasan ini dari Central, kurang lebih kita perlu naik kereta selama 30 menit. Namun demikian, dengan banyaknya pilihan yang tersedia di sana, agaknya pengorbanan kita untuk jauh-jauh ke sana akan langsung terobati. Lakemba tak hanya terkenal akan pilihan halal butchery-nya yang melimpah, namun juga dengan potensi wisata kulinernya yang beragam. Jika kita berkunjung ke sana, sepertinya belum sah apabila tidak mengunjungi salah satu restoran yang ada. Tak hanya makanan khas Lebanon, di Lakemba, kita bisa menjumpai kuliner India, Turki, bahkan Indonesia. Ya, di Lakemba ada Warung Ita yang menjual masakan minang dengan harga cukup terjangkau: hanya 10 dolar untuk tiga jenis lauk plus nasi yang bisa dibilang melimpah ruah. Sederhananya, kalau kalian mencari one stop solution makanan halal di Sydney, maka Lakemba adalah jawabannya.

Bagaimana kalau saya sedang ada di kampus, adakah gerai halal di sana? Tentu saja ada. Di University of Sydney, ada gerai yang menyediakan makanan halal, salah satu yang menjadi favorit saya yakni Uni Brothers Kebab and Pizza. Uni Brothers menyediakan varian makanan yang terdiri dari kebab, kebab plate (plus nasi), halal snack pack, salad, roti pita, maupun pizza. Hanya saja, jangan bayangkan kebab yang ada di Indonesia; kebab di sini ukurannya super jumbo, dan sepertinya cukup untuk dimakan dua orang. Soal rasa tidak perlu ditanya lagi keasliannya karena pemilik gerai ini adalah sekelompok orang asli Turki. Di hari pertama berkunjung ke kampus, saya terkejut dengan besarnya porsi kebab di sana, sehingga saya masih bisa menyisakannya untuk makan malam. Hal lain yang saya suka adalah mereka begitu royal dalam memberi daging kebab, begitu menyenangkan bagi karnivora macam saya, tidak seperti kebab depan swalayan Indonesia dengan daging yang ekonomis.

Well, itu dulu sih, setelah lama di kampus, makan dua kebab sekaligus pun saya kuat, apalagi kalau sedang masa ujian.

Oh iya, ada sedikit rahasia: kalau kita mencoba berbahasa Turki, walau sebatas memesan makanan atau sekadar mengucapkan terima kasih, tak jarang si penjualnya memberi kita sejumlah bonus. Orang-orang Turki dikenal sangat bangga dengan bahasa mereka dan sangat senang kalau kita bisa mengucapkannya barang sepatah. Saya pernah mencobanya dan beberapa kali mendapatkan ekstra keju dan ekstra daging.

Mencari Makanan Halal

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *