Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang bisa jadi fanatik?
 
            Beberapa waktu lalu, saya membaca buku karangan Eric Hoffer (1998) dengan judul Gerakan Massa. Buku ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Inggrisnya yang berjudul The True Believer. Gagasan utamanya menarik, bahwa semua gerakan massa memiliki pola seragam: yakni adanya kemampuan mengubah individu menjadi sosok fanatik, rela berkorban, dan memiliki kesetiaan tunggal. Individu-individu itulah yang disebut Hoffer sebagai “Pemeluk Teguh” atau “The True Believer”. Menurut Hoffer, ciri tersebut bersifat universal karena tidak memandang apakah gerakan itu bersifat kesukuan, keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.

           Tak hanya ditujukan untuk satu jenis gerakan saja, buku ini mencoba menarik benang merah dari segala tipe gerakan massa yang ada di dunia. Hoffer menilai bahwa tidak ada beda antara kaum Islam fanatik, Kristen fanatik, Nazi fanatik, maupun kelompok-kelompok fanatik lainnya dalam hal motivasi bergerak.

             Hoffer memulai karyanya dengan menjelaskan hal-hal apa saja yang membuat sebuah gerakan massa terlihat begitu menarik.  Pertama, ia berpendapat bahwa gerakan massa menarik karena ia selalu menawarkan perubahan. Untuk mewujudkan perubahan ini, diperlukan semangat yang dapat digali dari dua hal: (1) harapan untuk mengembangkan diri atau (2) semangat gerakan yang dipupuk dari sentimen-sentimen yang dapat memunculkan gairah seperti agama, ras, atau kebangsaan apabila pengembangan diri itu tak dapat dicapai.

               Hoffer beranggapan bahwa keinginan manusia akan perubahan ini dapat ditelisik dari naluri mereka. Naluri manusia punya kecenderungan untuk mengaitkan keberhasilan maupun kegagalan dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Manusia yang merasa berhasil melihat kebaikan dunia ini akan condong kepada mempertahankan kondisi tersebut. Di sisi lain, terdapat manusia yang merasa tidak puas dengan kondisi dunia yang ia tinggali pada saat ini. Orang yang merasa perlu mempertahankan kesetimbangan tersebut adalah orang-orang konservatif, sedangkan yang mencoba untuk mengubah arah kesetimbangan tersebut adalah mereka yang disebut sebagai orang radikal.

            Kemudian, bagaimana memunculkan gairah dalam gerakan? Hoffer menyimpulkan bahwa gerakan perlu memiliki visualisasi masa depan—walaupun berlebih-lebihan dan terkesan tak masuk akal. Contohnya adalah bagaimana Hitler membayangkan Jerman menjadi sebuah negara ras Arya yang paling unggul di dunia. Kemudian? Gerakan perlu juga membuat sesuatu untuk dijadikan musuh abadi. Tanpanya, gerakan tidak memiliki makna karena tidak ada yang dilawan.

                “Sebuah gerakan massa tidak selalu memerlukan Tuhan, namun ia selalu memerlukan iblis,”

             Dalam gerakan-gerakan agama, iblis diterjemahkan secara literal, yakni sebagai sesosok makhluk jahat musuh ajaran Tuhan. Bagi gerakan-gerakan politik yang bersifat lebih sekuler, misalnya, “iblis” itu ada dalam wujud ideologi lawan, sebagaimana komunisme menganggap kapitalisme sebagai penyakit.

            Siapa sajakah orang-orang yang berpeluang menjadi “Pemeluk Teguh” di dalam gerakan massa? Hoffer menyebutkan paling tidak delapan golongan, yakni: (1) orang miskin baru, (2) orang miskin merdeka, (3) orang canggung abadi, (4) orang yang mementingkan diri sendiri, (5) orang yang berambisi akan peluang tak terbatas, (6) minoritas, (7) orang bosan, dan (8) orang berdosa. Detailnya? Silakan baca sendiri, terlalu panjang untuk ditulis. Namun, ada satu karakter yang ditemukan dari seluruhnya, yaitu adanya kekecewaan atas kondisi hidup mereka. Hal tersebut membuat mereka cenderung lebih mudah dipengaruhi untuk bergabung menjadi anggota gerakan massa yang patuh.

             Tahap selanjutnya membuat individu-individu tersebut berkenan mengorbankan diri untuk gerakan. Nah, bagaimana caranya?

          Pertama, gerakan massa harus dapat membuat anggotanya “melepaskan diri” dan melebur secara penuh ke dalam gerakan. Betul! Pengikut harus berhenti menjadi seorang “George”, “Hans”, “Ivan”, atau “Tadao” yang berkesadaran penuh, dan mulai mengidentifikasi dirinya dengan identitas baru yang dibawa oleh penguasa gerakan: entah itu “Komunis”, “Nazi”, “ISIS”, “Zionis”, dan lain-lain. Itulah mengapa banyak orang yang sekilas tak berdaya apabila sendirian, namun begitu beringas tatkala sudah berganti identitas.

             Untuk mencegah solidaritas ini runtuh, gerakan massa membangun doktrin. Cara membuat individu menjadi seorang fanatik adalah dengan menanamkan doktrin yang “kedap fakta”. Maksud dari kedap fakta adalah ia dapat diterima sebagai kebenaran mutlak, tanpa pembantahan. Sehingga, doktrin ini bukanlah sesuatu yang dapat diuji kesahihannya secara akal sehat. Tidak peduli seberapa konyolnya doktrin itu, ia tetap harus ada demi menjaga keutuhan anggota. Setelah individu-individu itu memegang doktrin, ia akan menganggap gerakan sebagai sebuah “perjuangan suci” yang harus dilakukan.

            Hoffer menilai bahwa gerakan massa tidak dapat serta-merta dibangun. Ia perlu dibangkitkan dari dasar oleh sesosok dengan kemampuan kharismatik untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang dinilai salah di lingkungannya, kemudian untuk diterjemahkan ke dalam kata-kata. Setelah itulah, kata-kata itu perlu diarahkan menjadi sebuah gerakan oleh apa yang disebut sebagai “manusia fanatik”, ia bertugas memantik segala sentimen yang telah menumpuk menjadi sebuah gerakan.

            Hoffer menyimpulkan bahwa ia tidak mengklaim bahwa “Pemeluk Teguh” adalah sesuatu yang selalu berkonotasi buruk. Ia mengutip beberapa contoh penggerak massa yang mampu membawa gerakan perlawanan tanpa berusaha menghancurkan dunia yang telah mapan, contohnya adalah Gandhi dan Lincoln.

            Bisakah kita menggunakan Hoffer untuk menjelaskan kondisi hari ini? Bisa sekali.

          Mari lihat keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa (Brexit) sebagai salah satu hal yang menandai gerakan sayap kanan di dunia Barat. Dari sini, terdapat sejumlah kemiripan karakter dari gerakan Brexit dengan model gerakan massa yang telah dikonsepkan Hoffer.

               Dalam konteks Brexit, populisme dimulai oleh kaum “miskin baru” sebagai kelompok utama yang mampu digerakkan menjadi pengikut fanatik. Dalam studi kasus Brexit, kaum sayap kanan yang mendukung keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa adalah mereka yang terpinggirkan dari sistem pasar bebas yang dibangun sejak 1970-an. Sebuah studi dari Becker et.al (2017) membuktikan bahwa terdapat karakter umum dari para warga yang cenderung memilih untuk keluar dari Uni Eropa, yakni (1) akses pendidikan rendah, (2) tingkat penghasilan rendah, dan (3) pengangguran di level tinggi.

               Rasa kekecewaan yang dialami kaum “miskin baru” Britania ini kemudian diterjemahkan oleh para politisi sayap kanan melalui doktrin perlawanan terhadap imigrasi—yang notabene merupakan konsekuensi terbukanya akses tenaga kerja yang didukung oleh Uni Eropa. Rzepnikowska (2018) meneliti bahwa doktrin tersebut berhasil, ditandai dengan meningkatnya serangan-serangan yang ditujukan kepada masyarakat imigran, terutama dari Eropa Timur dari tahun 2015 hingga tahun 2016. Uniknya, laporan lain dari Burnett (2017) mengindikasikan bahwa serangan terjadi tak hanya pada imigran Eropa, namun juga menimpa warga negara Britania Raya dengan identitas etnis minoritas seperti orang-orang Pakistan.

             Usut punya usut, menyalahkan imigrasi rupanya tak seratus persen benar. Studi dari London School of Economics (2015) justru menyanggah klaim tersebut. Studi ini melaporkan bahwa tidak ada dampak signifikan dari imigrasi terhadap ketimpangan ekonomi. Justru sebaliknya, imigran membantu meningkatkan lapangan pekerjaan. Ini menandai bahwa doktrin tidak perlu masuk akal untuk dapat menggaet dukungan. Imigrasi telah terbukti menjadi salah satu narasi yang cukup efektif dalam menggaet suara Brexit (Eatwell 2003, Goodwin dan Milazzo 2017, Joppke 1998).

           Maka, “perjuangan suci” bagi kalangan Brexit adalah bagaimana membawa Britania Raya kembali ke masa yang dinilai era kejayaan—era sebelum regionalisme Uni Eropa menciptakan kelompok-kelompok miskin baru tersebut.  Gerakan Brexit yang tak jarang dibalut oleh narasi-narasi anti-imigran inilah yang kemudian memenangkan referendum, sehingga kini pun Britania Raya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Sekali lagi, apakah doktrin anti-imigrasi itu didukung data penelitian? Bisa jadi tidak. Namun, apakah ia efektif? Ya, paling tidak dalam memenangkan Brexit.

            Bagi saya, Gerakan Massa adalah sebuah karya yang padat dan ringkas mengenai isu yang tak akan lekang oleh waktu: kemunculan masyarakat fanatik yang rela berkorban dan melepaskan identitas ke-diri-an mereka untuk sebuah doktrin gerakan. Hoffer menyimpulkan bahwa fanatisme memiliki akar psikologis dari rasa frustrasi, kekecewaan, dan penolakan atas dunia yang dihidupi oleh sekelompok individu. Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman yang menarik sekaligus menegangkan, karena relevansinya yang seolah tak lekang oleh waktu.

Mengapa Seseorang Menjadi Fanatik?

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *