Orang-orang Australia suka berpesta, itu sudah jadi rahasia umum. Memanggang daging di pekarangan, menyetel musik keras-keras sambal bernyanyi, menenggak minuman beralkohol sudah jadi hal lazim di sana. Bagi teman-teman mahasiswa Indonesia yang tinggal di shared house bersama mahasiswa Indonesia lain, mereka belum tentu merasakan fenomena tersebut secara langsung.

Apesnya, berhubung saya harus tinggal di homestay untuk sebulan pertama¸ pengalaman menghadapi pesta yang digelar tuan rumah adalah sesuatu yang tak mungkin dilupakan.

Siang itu, sebelum saya berangkat kuliah, Rhea (ibu kos) memanggil saya. Ia mengatakan bahwa dirinya akan menggelar pesta di rumah dan mengundang beberapa kawan terdekatnya. Rhea mengetahui bahwa saya tidak minum minuman beralkohol, sehingga ia mempersilakan seandainya saya tidak ingin ikut.

Sepulangnya saya dari kampus, kita-kira pukul tujuh malam, saya melihat setumpuk krat berisi botol-botol bir sudah bertebaran di dekat kulkas. Rhea, yang tengah merapikan ruang tamu, berkata bahwa teman-temannya akan segera datang. Dengan ransel masih tergantung di punggung, saya meminta izin padanya untuk tinggal di kamar saja. Saya sama sekali tidak tertarik ikut pesta, apalagi saat itu saya pulang dengan kondisi memiliki PR berupa esai untuk digarap. Tak hanya ogah ikut pesta, saya juga bertekad untuk tidak keluar sama sekali dari kamar. Untuk berjaga-jaga, saya sudah membeli sepaket jumbo ayam goreng beserta mashed potato untuk dimakan di dalam kamar. Mau bagaimana lagi, memang dasarnya saya ini introvert sejati.

Sebelum teman-teman Rhea datang, saya mandi terlebih dahulu. Saya tidak mau ritual mengurung diri di kamar ini nantinya tergangggu oleh badan gatal-gatal setelah seharian terpapar debu jalanan. Setelah memastikan semua kebutuhan saya terpenuhi tanpa harus keluar kamar, saya lalu menutup pintu dan membuka laptop—tenggelam dalam zona nyaman saya sendiri. Kira-kira setengah jam setelahnya, terdengar suara pintu dibuka dan riuh orang saling menyapa. Agaknya kawan-kawan Rhea sudah datang dan pesta akan dimulai.

Awalnya, saya pikir bahwa saya tetap bisa belajar walaupun kondisi di luar sedang penuh dengan jedab-jedub. Well, rupanya tidak. Walaupun sudah mengenakan earphone¸ itu tidak cukup untuk membendung musik kencang yang diputar di luar sana. Salah satu lagu yang saya ingat sampai sekarang adalah All That She Wants milik band lawas, Ace of Base. Bukan hanya karena saya hobi mendengarkan lagu-lagu tahun 1990-an, namun karena Rhea dan kawan-kawannya menyanyikan lagu tersebut dengan suara ajegile yang memekakkan telinga.

Penistaan, pikir saya dalam hati.

Saya, yang tadinya sudah berniat menyelesaikan PR dari kampus, pun menyerah. Takluk pada keadaan, saya kemudian memutuskan untuk merebahkan diri di atas kasur. Kalau digunakan belajar saja tidak bisa konsentrasi, maka memulihkan energi akan jauh lebih berfaedah. Saya mematikan lampu dan menarik selimut.

Nah, setelah rangkaian hal tersebut berlangsung, terjadilah sebuah momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Ingat ketika saya menulis bahwa kamar saya tidak memiliki kunci? Ingat juga bagaimana, dengan sok tahunya, saya menganggap bahwa semua akan aman-aman saja ketika pintu depan apartemen sudah terkunci?

Salah besar.

Saat hampir masuk ke alam mimpi, tiba-tiba pintu saya dibuka oleh seseorang!

Antara mengantuk dan panik, saya buru-buru menyalakan lampu.

Dalam sekejap, jantung saya seakan berhenti ketika melihat apa yang berdiri di depan pintu. Sesosok bule tinggi, besar, dan gendut sudah berdiri di sana, menatap saya dengan mata merah sayu tanda mabuk berat. Siapa lagi kalau bukan salah satu dari teman Rhea.

Seakan diguyur air es, rasa kantuk saya terbilas habis.

“Oh, so sorry mate, didn’t mean to. I thought this was the toilet,” ujarnya dengan intonasi datar, khas orang yang sedang di bawah pengaruh alkohol.
“No, the toilet is right there,” jawab saya, menunjuk arah toilet dengan kondisi yang masih deg-degan, berharap ia segera pergi.
Bukannya pergi, ia malah mengajak saya ngobrol, masih dengan kondisinya yang setengah sadar.
“Where are you from, my friend?”
“Indonesia.”
“Why don’t you join the party? Let’s have fun, mate.”
“I have to go to a morning lecture tomorrow, I really need to sleep,” jawab saya sedikit berbohong. Bagaimana tidak, jadwal kuliah paling awal adalah pukul 4 sore, sama sekali tidak masuk kategori “morning”.
“No, mate, this is Australia. You need to know how to have fun here,” tambahnya dengan sedikit memaksa. Dia terhuyung-huyung melangkah masuk ke kamar saya, sedangkan saya sangat takut bahwa ia akan menyeret saya keluar.

Perlu kalian ketahui bahwa saat itu adalah momen pertama saya berurusan dengan orang mabuk. Apesnya, itu harus terjadi ketika saya belum genap dua minggu di Australia dan sedang parah-parahnya dilanda culture shock.

Untunglah, tak lama kemudian, terdengar suara yang familiar dari luar kamar.

“WHAT ARE YOU DOING? LEAVE HIM ALONE!”

Suara Rhea terdengar melengking dari ruang tamu. Ia menyeru kepada sang kawan yang kebelet pipis untuk meninggalkan saya yang sedang berusaha tidur. Mungkin lantaran sungkan dengan tuan rumah, si gendut itu akhirnya mau pergi.

Tak ingin ambil risiko, saya bergegas mengganjal pintu dengan lemari pakaian sebelum ada orang mabuk lain yang masuk kamar. Keputusan saya tepat, beberapa saat setelah saya mengganjal pintu, saya mendengar pintu kamar coba dibuka oleh seseorang sekali lagi. Ketika tahu pintunya diganjal, ia—siapapun itu—mengetuk pintu kamar saya berulang-ulang. Masih ketakutan, saya pura-pura sudah tidur.

Mungkin saya terbilang beruntung waktu itu, karena langsung terbangun begitu kamar dibuka. Bayangkan saja apabila saya masih pulas saat si arca pentung itu masuk kamar, barangkali saya akan bangun dalam keadaan basah dan pesing.

Untunglah, segala drama tersebut hanya berlangsung sebulan. Setelah itu, atas bantuan kawan-kawan LPDP University of Sydney, saya mendapatkan sebuah kamar kos di daerah Glebe, sebuah suburb yang tak jauh dari University of Sydney. Bak tertimpa durian runtuh, rumah kos tersebut terletak tepat di seberang pintu masuk kampus. Tidak akan ada lagi bingung mencari bus malam-malam, diturunkan di tengah jalan, atau kehabisan saldo kartu Opal dalam waktu hanya tiga hari. Mungkin inilah ganjaran atas kesabaran saya selama sebulan tinggal di homestay.

Menghadapi Tuan Rumah yang Hobi Pesta

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *