(tulisan asli dibuat pada 2 Juni 2019)

Sejak 2011 hingga 2017, saya selalu menghabiskan sebagian atau keseluruhan Ramadan di perantauan. Pada 2014 dan 2017, bahkan saya harus merayakan Idul Fitri (lebaran) jauh dari rumah. Pertama, 2014 adalah ketika saya menjalani KKN di Wonosobo. Sementara itu, 2017 adalah ketika saya sedang menghadapi semester akhir program magister di Sydney.

Sebelum 2011 pun, lebaran hampir selalu dihabiskan di Nganjuk yang merupakan kampung halaman keluarga besar ayah saya. Namun, kebiasaan itu terhenti tepat tahun 2011 ketika eyang wafat. Pada tahun yang sama pulalah, saya harus hijrah ke Yogyakarta demi melanjutkan studi sarjana.

Dapat disimpulkan, bahwa di masa lalu, baik Ramadan atau lebaran bagi saya tak pernah lepas dari konsep “pulang”.  Ia adalah momen yang dapat dirayakan untuk melupakan rutinitas dan mengakarkan diri kembali pada lingkungan yang telah kita tinggalkan selama ini. Namun, sejak memutuskan berkarier di Surabaya, Ramadan dan lebaran berarti menghabiskan waktu di rumah. Sehingga, tahun 2019 adalah tahun kedua bagi saya ketika Ramadan dan lebaran dilalui tanpa adanya momen “pulang”.

Bukan saya tak bahagia kembali ke kota kelahiran, nope, menghabiskan hari besar bersama keluarga tak akan pernah ada tandingannya. Namun, harus diakui ada kekosongan tersendiri tatkala rutinitas “pulang” itu tak lagi saya jalani. Perasaan antusias dan penuh antisipasi akan suatu zona nyaman, yang membuat kita mampu melepas segala kepalsuan akibat ekspektasi orang lain, perasaan itulah yang hilang.

Seorang bijak mengatakan bahwa rumah adalah tempat di mana hati kita tertambat. Dengan definisi seperti itu, agaknya saya baru memahami bahwa kekosongan itu muncul karena setiap perantauan saya telah menciptakan “rumah” masing-masing.

Saya merindukan Yogyakarta dan segala pengalaman subjektif yang pernah menghiasi hari-hari menjelang lebaran. Melaksanakan tarawih keliling di masjid-masjid, menghabiskan waktu berbincang mengenai perkuliahan (termasuk ngrasani dosen) ditemani secangkir kopi dan sepiring sate klathak, menahan lapar dan dahaga sembari mengerjakan kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa. Yogyakarta memang dekat, namun “rumah” itu kini telah terbagi dua. Satu “rumah” berupa sewujud kota sepi yang pernah memuat cerita-cerita masa lalu, sementara “rumah” lain berupa isinya yang dulu selalu ada: kawan-kawan yang kini telah juga telah pergi mengejar impiannya masing-masing. 

Pun, saya juga merindukan persinggahan singkat saya di Sydney. Walau tak genap dua tahun tinggal di sana, Ramadan dan lebaran di Sydney adalah dua momen tak terlupakan. “Rumah” yang saya bangun di sana adalah pelajaran mengenai perjuangan menuntut ilmu sembari mempertahankan iman di tengah lingkungan berbeda, ditemani oleh teman-teman sebangsa sebagai pengganti saudara di tanah air. Mungkin suatu hari saya akan kembali ke sana, entah sebagai turis atau sebagai akademisi, namun tentu segalanya akan terasa berbeda tanpa “rumah” yang saya ketahui dulu. 

Saya lalu tersadar, tak mungkin lagi untuk benar-benar “pulang” ke tempat-tempat tersebut. Hal yang mungkin hanyalah membuat cerita baru atau sekadar mengenang segala wujud “rumah” yang pernah terbangun di sana. Tak ada lagi “pulang” bagi saya, karena kini saya telah kembali ke rumah yang sebenarnya (tanpa tanda kutip). Ya, rumah yang sejak 2011 selalu ada pada ujung angan-angan saya setiap akhir Ramadan, dua tahun belakangan telah memanggil untuk menetap. Entah sampai kapan, namun saya bersyukur kini telah ada di sana. Ini menunjukkan betapa waktu cepat berlalu, dan sudah seharusnya kita menikmati segala momen yang ada selagi mampu.

Untuk yang terpaksa tak dapat pulang lebaran tahun ini, semoga perantauan kalian menjadi “rumah” yang nyaman sebagai pengganti kampung halaman. Saya pun tak lupa berdoa bahwa keluarga di rumah selalu diberikan perlindungan dan kesehatan. Kiranya pengorbanan kalian bernilai manfaat bagi orang lain. Amin.

Di manapun kita berada, mari rayakan pengalaman “rumah” yang tengah kita jalani masing-masing. Karena percayalah, suatu hari nanti kita semua akan merindukan “pulang”.

Selamat menuntaskan Ramadan, selamat mengawali libur lebaran.

Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.

Merayakan Pulang ke Rumah

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *