(tulisan asli dibuat pada 31 Juli 2019)

Hampir sebulan lagi, kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi akan kembali dilaksanakan. Setelah serangkaian proses seleksi, umumnya masih ada satu tahapan lain yang harus dilalui calon mahasiswa, yakni Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau lebih lazim disingkat sebagai Ospek.
            Bagi mahasiswa baru, Ospek diproyeksikan menjadi kegiatan untuk membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan dasar belajar di perguruan tinggi. Ospek juga telah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 25 tahun 2014. Dalam keputusan tersebut, tujuan umum dari Ospek adalah agar mahasiswa dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya dalam kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan.
            Dengan adanya tujuan tersebut, Ospek seyogyanya adalah kegiatan bermanfaat yang membantu mahasiswa bertransisi dari kehidupan sekolah menuju kehidupan kampus. Sayangnya, Ospek tak jarang menjadi sasaran kritik karena isi kegiatanya yang jauh dari tujuan tersebut. Bahkan, sejumlah Ospek dikabarkan masih memuat unsur bullying yang tak jarang menuai korban. Hal tersebutlah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa Ospek hanyalah ritual yang melanggengkan feodalisme, sehingga timbul polemik tentang penting atau tidaknya Ospek.
            Indikasi-indikasi semacam itu dapat dicegah seandainya Ospek konsisten pada fungsinya sebagai momen untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Ospek dapat lebih diarahkan pada materi-materi yang dibutuhkan mahasiswa dalam kehidupan mereka saat menjalani perkuliahan. Dengan adanya kemajuan zaman, materi-materi Ospek pun juga perlu didesain merespons hal-hal yang menjadi kebutuhan mahasiswa di masa kini.
            Kemampuan berpikir kritis adalah hal pertama yang perlu diajarkan dalam kurikulum Ospek. Hal ini perlu ditanamkan sedini mungkin, terlebih dengan liarnya arus informasi yang ada saat ini. Ketika Ospek memfasilitasi pesertanya untuk dapat berpikir kritis, kampus-kampus turut berkontribusi dalam mengurangi persebaran hoaks di masyarakat. Kemampuan ini dapat diberikan dalam bentuk tugas-tugas kelompok seperti analisis berita dan resensi buku, lalu kemudian dipresentasikan di forum terbuka. Dari sini, baik mahasiswa baru ataupun para fasilitator dapat saling belajar mengeluarkan pendapat. Tugas semacam ini dapat menggantikan tugas-tugas Ospek konvensional seperti membuat atribut-atribut yang nyatanya tak akan digunakan kembali saat perkuliahan berlangsung.
        Alternatif lain yang dapat dimasukkan sebagai materi Ospek adalah pendidikan tanggap bencana. Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana yang cukup tinggi. Sehingga, kampus-kampus perlu memberikan penyuluhan agar mahasiswa baru memiliki kesiagaan dalam menghadapi bencana yang datang sewaktu-waktu. Penelitian Tanner dan Doberstein (2015) dari University of Waterloo melaporkan bahwa mahasiswa merupakan unsur terpenting dalam penanggulangan bencana di level universitas. Namun, mayoritas mahasiswa belum memiliki kemampuan dasar untuk mempersiapkan diri. Melalui Ospek, kampus dapat memperkenalkan substansi tanggap bencana seperti titik-titik evakuasi hingga dasar-dasar pertolongan pertama.
            Di samping itu, Ospek dapat juga diisi dengan materi tentang toleransi dan keberagaman. Di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa umumnya akan berinteraksi dengan bermacam latar belakang, sehingga hal tersebut patut untuk diajarkan sejak dini. Ospek di Indonesia mungkin dapat menerapkan konsep Orientation Week (O-Week) yang ada di Australia, yakni dengan membuat pameran budaya yang diisi oleh organisasi-organisasi mahasiswa dari seluruh daerah yang ada di kampus. Dengan demikian, para mahasiswa baru akan lebih dapat mengapresiasi keberagaman yang ada di sekitarnya.
            Informasi lain yang dapat diberikan pada saat Ospek adalah mengenai kesehatan mental. Layaknya kesehatan fisik, kesehatan mental pun tak dapat dianggap remeh. Riset oleh sejumlah peneliti dari World Health Organisation (2018) menyimpulkan bahwa 35 persen mahasiswa baru di seluruh dunia rentan terkena gangguan psikis. Apabila gangguan-gangguan tersebut dibiarkan, ia akan berdampak pada performa mahasiswa dalam jangka panjang. Menciptakan lingkungan kampus yang sadar kesehatan mental dapat dimulai dari Ospek, misalnya lewat materi tentang manajemen stres atau mencegah homesick.
            Administrasi dan birokrasi kampus juga merupakan hal yang perlu diajarkan dalam materi Ospek. Walaupun terkesan remeh, seringkali mahasiswa menemui hambatan karena tidak mengetahui cara meminjam buku, cara mengajukan surat izin, atau cara mendaftar sidang proposal. Panitia Ospek perlu memastikan bahwa mahasiswa baru familiar dengan sistem birokrasi yang ada di kampus mereka, sehingga kegiatan belajar pun dapat berjalan mulus.
            Nalar mahasiswa adalah hal yang harus diprioritaskan di dalam setiap kegiatan Ospek. Perguruan tinggi adalah tempat untuk memupuk insan-insan yang diharapkan mampu membangun  peradaban. Sehingga, pengenalan lingkungan kampus idealnya dikembalikan pada paradigma pengembangan kemampuan berpikir. Materi kedisiplinan kolektif mungkin baik, namun jangan lupa bahwa mahasiswa merupakan individu-individu dewasa dengan karakter yang tak dapat diseragamkan.
            Informasi-informasi mutakhir adalah kunci agar Ospek bisa tetap relevan bagi mahasiswa. Dengan demikian, Ospek tak hanya dianggap menjadi sebuah formalitas, namun sebagai sebuah kegiatan esensial yang manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah para pesertanya lulus dari bangku perkuliahan.

Mewujudkan Ospek yang Relevan bagi Mahasiswa

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *