Ramadan yang lalu, puasa saya hampir batal lebih awal pada suatu hari karena sebuah tweet. Di dalam tweet itu, terdapat sebuah video penceramah mengatakan bahwa Masjid Al-Safar, sebuah masjid di Jawa Barat yang dirancang Ridwan Kamil, memuat “pesan-pesan Illuminati”. Hal yang jadi dasarnya adalah banyak struktur berbentuk segitiga di sana, mengingatkan si penceramah pada simbol Illuminati.

Dhuh Gusti paringi arta.

Mungkin saking jengkelnya karya beliau ditafsirkan sedemikian rupa, Kang Emil lalu turun gunung untuk menjawab tuduhan tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa Masjid Al-Safar menganut gaya folding architecture. Bahkan, masjid tersebut dinominasikan sebagai salah satu masjid berarsitektur terbaik dari sebuah lembaga Arab Saudi. Memang, klarifikasi tersebut membuat semuanya jelas. Namun, tak sedikit pula yang memilih percaya dengan narasi “Masjid Illuminati” sehingga menyebut Kang Emil ngeles hingga baper. 

Dalam kesempatan lain, saya pernah mampir salat Jumat di sebuah masjid. Waktu itu, penceramahnya membawakan topik mengenai “sifat orang Yahudi”. Sejak awal pun saya menebak bahwa konten ceramah yang dibawakan tak akan jauh-jauh dari teori konspirasi. Tebakan saya tepat.

Hingga di suatu titik, khatib mengeluarkan pernyataan yang tak akan saya lupa sampai kapan pun:
“Yahudi itu satu, tapi di berbagai belahan bumi namanya berbeda-beda. Di barat, kita mengenal Yahudi itu sebagai Amerika Serikat. Di timur, kita mengenal Yahudi itu sebagai Cina.”

Di saat itu, saya merasa sia-sia menghabiskan waktu 5 tahun belajar Hubungan Internasional. 

Betapa tidak, sekali mengajar, saya paling banter menjangkau audiens sebanyak 80 orang mahasiswa. Itu pun memakai rujukan dan ada sesi tanya jawab yang memungkinkan saya dikoreksi apabila salah. Lha si bapak ini, sekali ceramah bisa menjangkau jamaah yang berjumlah ratusan orang. Pun, saya yakin mayoritas adalah kalangan awam yang tak mempelajari politik internasional. Amat besar kemungkinan bahwa pernyataan ngawur tersebut akan ditelan bulat-bulat.

Sesi khotbah tersebut mungkin adalah 15 menit terlama dalam hidup saya. Tak berhenti di statement ngasal bahwa Yahudi = Amerika dan Cina, ia juga menambahkan bahwa Yahudi adalah penyebab tersebarnya narkotika di dunia.

Padahal, menurut World Drug Report, nama Israel yang merupakan markas besar Yahudi global bahkan hampir tak disebut. Negara dengan ladang opium terbesar di dunia justru Afghanistan, yang kebetulan juga merupakan pusat persebaran narkotika ke belahan dunia lainnya. Sementara itu, Pakistan dan Iran juga tercatat sebagai negara dengan jumlah sitaan heroin dan morfin terbesar dunia. Sudah barang tentu bahwa Afghanistan, Pakistan, maupun Iran bukan negeri Yahudi.

Jangan salah paham. Saya menghormati tema relasi Muslim-Yahudi sebagai bahasan penting di dalam keilmuan Islam. Namun, tentu saja ia harus dibahas secara objektif. Mengada-ada isu hingga mengatakan bahwa Yahudi = Cina tentu saja merupakan sebuah…


Semoga setelah ini tak ada yang mengira bahwa Mark Zuckerberg adalah reinkarnasi Mao Zedong, mentang-mentang mereka berdua punya inisial MZ.

***

Saya yakin, kalian pun menjumpai kejadian-kejadian serupa. Terlebih, apabila kalian merupakan orang yang sudah capek-capek belajar suatu bidang ilmu, namun tiba-tiba ada seorang “pakar dadakan” berani berucap ini-itu mengenai suatu topik yang sejatinya tak mereka kuasai benar-benar. Padahal, selama ini kalian amat berhati-hati dalam menyampaikannya. Jangankan begitu, melabeli diri sendiri sebagai “pakar” saja tidak berani!

Gemes-gemes sampai pengen nyubit ginjalnya, gitu kan?

Mengapa orang-orang percaya isu kebangkitan suatu partai yang sudah mati? Mengapa orang-orang percaya bahwa vaksin menimbulkan autisme? Mengapa orang-orang percaya isu “telur palsu” yang sebenarnya hanya isapan jempol? Gejala ini tak hanya menjangkiti mereka yang berpendidikan rendah; masyarakat berpendidikan tinggi pun rawan info salah kaprah seperti itu. 

Saya pernah menjumpai seorang lulusan magister yang percaya NASA tengah berkonspirasi dengan lembaga-lembaga antariksa dunia (termasuk LAPAN) untuk menyembunyikan “fakta” bahwa bumi itu datar. Sumbernya? Video YouTube dan buku seorang praktisi yoga bernama Eric Dubay.

Lantas, mengapa pendapat pakar seolah-olah tak ada harganya saat ini? 

Fenomena ini digambarkan Tom Nichols dalam bukunya, The Death of Expertise (2017), atau Matinya Kepakaran dalam bahasa Indonesia. Bagi saya, buku ini amat menarik karena mengangkat permasalahan yang sangat aktual saat ini. Ia adalah kondisi paradoks informasi: ketika melimpahnya keterbukaan informasi justru berbanding terbalik dengan kemampuan kita memilah dan memilih kebenaran. Sehingga, setiap orang dengan akses pada informasi pun bisa menyebarkan apa pun yang mereka inginkan. 

Selain itu, terdapat “kelemahan” para pakar yang kemudian dimanfaatkan oleh para “pakar dadakan” tersebut. Di satu sisi, para ilmuwan selalu memiliki sikap skeptis. Mereka kerap dihantui kepecayaan diri yang yang rendah, bahkan pada kemampuan mereka sendiri di bidang yang ditekuni. Sehingga, mereka tak dapat mengklaim bahwa mereka 100% benar.

​Di sisi lain, para “pakar dadakan” itu begitu yakin akan cocoklogi/spekulasi/terawangan mereka, sekaligus menganggap bahwa “ilmuwan bisa salah” sebagai landasan dari kepercayaan diri mereka tadi. Hal ini yang kemudian dikenal sebagai Dunning-Krueger effect: semakin tidak tahu (baca: bodoh) kita di suatu bidang, makin tinggi pula kecenderungan kita untuk sok tahu. Bias pengetahuan ini terjadi karena kegagalan kita memahami bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa. Dunning-Krueger effect sebenarnya pernah diprediksi Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ilmu memiliki tiga tahapan:

1.) Pada tahapan pertama, orang akan sombong.
2.) Pada tahapan kedua, orang akan rendah hati.
​3.) Pada tahapan ketiga, orang akan sadar bahwa ia tak tahu apa-apa.

Nichols mengatakan bahwa internet adalah biang keroknya. Internet, yang seharusnya menjadi jalan tol bagi pengetahuan, kini menjadi penghancur komunikasi antara pakar dan orang awam. Ia menggambarkan fenomena ini sebagai “tersesat di mesin pencari”.  Apabila dahulu orang-orang meminta nasihat ke pakar untuk sesuatu yang tidak mereka tahu, kini mereka memiliki jawaban di genggaman. Tidak ada pertanyaan yang tak bisa dijawab! (Ingat ya, sekadar “dijawab”, karena belum tentu jawabannya benar).

Anda merasakan nyeri di dada? Silakan konsultasi ke Mbah Google. Ia akan memberikan jawaban yang amat beragam: mulai dari salah tidur hingga jantung koroner. Lalu, berapa orang yang mungkin akan merasa puas begitu saja, sehingga memutuskan tidak berkunjung ke dokter?

Anda menerima sebuah broadcast yang menyebutkan bahwa kaum komunis dan liberal bersekongkol untuk menghancurkan Indonesia (duh!). Berapakah orang yang kemudian mau cek-ricek sejenak sebelum akhirnya ikut terhasut?

Masalah yang amat sentral pada internet adalah polusi ruang publik. Setiap orang dapat mengunggah konten semau mereka, tak peduli apakah info tersebut sahih, setengah matang, atau bahkan 100% bokis. Ingat artikel soal “Bernard Mahfoudz“, sosok yang diklaim sebagai “dokter anti-vaksin” namun sebenarnya adalah seorang bintang film porno bernama Johnny Sins? Mungkin kita yang paham bisa tertawa mengetahui konyolnya artikel tersebut. Namun, kita tak pernah tahu berapa orang yang akhirnya paranoid dengan vaksin hanya karena membaca artikel bergambar sesosok pria botak berjas putih di sana.

​Nichols juga menyinggung bahwa internet telah memunculkan salah satu sifat dasar manusia, yakni egois. Internet memunculkan gelembung-gelembung informasi yang membuat orang hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar. Lihat saja bagaimana sebagian dari kita mudah mementahkan suatu fakta, hanya karena pihak seberang memiliki afiliasi politik berbeda. Inilah yang disebut sebagai post-truth era, masa ketika pengambilan kesimpulan seseorang lebih didasarkan perasaan dibanding fakta-fakta yang ada.

Sikap inilah yang kemudian disebut Nichols sebagai anti-rasionalisme. Orang-orang kemudian amat jarang terpapar pada gagasan yang berbeda dari mereka, sehingga proses verifikasi fakta pun tak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal, sikap kritis perlu dikembangkan dalam menyaring informasi yang datang silih berganti seperti saat ini. 

Nichols menutup bukunya dengan nada sedikit pesimistik, bahwa tantangan dari masyarakat internet adalah disinformasi yang datang silih berganti. Terlebih, dengan kondisi masyarakat yang demokratis, tak jarang suara yang lebih nyaring adalah suara yang dianggap benar. Di Twitter, seorang profesor yang telah mempelajari ilmunya berpuluh tahun pun bisa saja dimaki-maki oleh seorang lulusan SD. Sehingga, pakar harus menerima keadaan bahwa pemikiran mereka tak akan menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Pun, apabila menjangkau, tak semua pemikiran tersebut akan diterima oleh masyarakat. Kasus Ridwan Kamil dan masjidnya itu pun menjadi contoh yang amat aktual.

Namun, ada satu hal yang kemudian ditawarkan Nichols, yakni bagi para pakar untuk “melawan serangan terhadap kepakaran mereka”. Dalam bukunya, Nichols mencontohkan sebuah adegan dalam Jimmy Kimmel Live dengan para dokter sebagai bintang tamu. Secara sarkastik, para dokter tersebut bertanya pada pemirsa: “Ingat terakhir kali Anda terkena polio? Tentu tidak, itu karena orang tua Anda memvaksin Anda!” Dengan kata lain, para pakar masing-masing bidang ilmu perlu turun ke masyarakat dan melawan segala “pelintiran” yang menjangkiti pengetahuan masyarakat.

Memang sulit. Namun, bukankah sesuatu yang patut diperjuangkan itu memang sulit?​

​Pakar-pakar di seluruh dunia, bersatulah (bersabarlah)!

Pakar-pakar di Seluruh Dunia, Bersabarlah!

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *