Bagi orang tropis seperti saya, menikmati salju barang tentu bukanlah kesempatan yang datang setiap tahun. Boro-boro salju, merasakan musim dingin saja baru sekali di Australia dalam seumur hidup,  pakai masuk angin pula. Oleh karena itu, saya tak berpikir lama-lama tatkala mendapatkan tawaran mengikuti tur salju (snow tour) di Perisher oleh kawan-kawan LPDP University of Sydney. Tawaran ini bukan sembarang tawaran, karena rupanya ada diskon khusus bagi orang Indonesia yang tinggal di Sydney. Sehingga, dari tarif awal 99 dolar, saya hanya dikenai biaya 82 dolar. Tur ini diadakan oleh Ozia Tours, salah satu penyelenggara wisata yang memang sudah berpengalaman mengadakan tur salju. 

Perisher adalah sebuah resor ski terbesar di Australia. Tempat wisata ini terletak di kawasan Snowy Mountains, tepatnya di Kosciuszko National Park. Bagi yang masih ingat pelajaran IPS kelas 5 SD, nama Kosciuszko pasti tidak asing. Ya, Kosciuszko adalah nama sebuah gunung di Australia yang merupakan salah satu dari seven summits (puncak tertinggi di suatu benua) mewakili benua Australia. Indonesia ada nggak? Rupanya ada. Kita memiliki Puncak Jaya sebagai salah satu wakil Asia di seven summit, menemani Mount Everest.

Mari kita kembali ke Perisher. Dari Sydney, kita perlu menempuh 490 kilometer, atau sekitar 6 jam perjalanan darat dengan bus. Kalau kita lihat di peta, Perisher kira-kira berada tepat di antara Sydney dan Melbourne. Bahkan, lokasinya tak jauh dari perbatasan negara bagian New South Wales dan Victoria. Oh ya, untuk pergi ke Perisher, kita juga melewati kawasan Canberra, yang secara administratif bukan lagi daerah New South Wales, melainkan Australian Capital Territory. 

Persiapan yang saya lakukan terbilang tidak sembarangan, walau terhitung agak dadakan. Berhubung ini adalah pengalaman pertama saya bepergian ke kawasan bersalju, saya harus memastikan bahwa saya baik-baik saja selama di sana. Saya sangat khawatir jatuh sakit saat tur, karena perjalanan ini dilaksanakan selang dua hari setelah saya kembali dari Indonesia. Untuk urusan sandang, saya membeli jaket tebal tahan air di Paddy’s Market seharga 25 dolar. Lumayan murah untuk ukuran jaket seberguna itu. Demi memperkuat pertahanan dari angin dingin, saya juga membeli long john (pakaian dalam hangat) untuk dipakai di balik sweater, sebelum kemudian dirangkapi oleh jaket. Selain pakaian, saya juga membawa sejumlah obat-obatan penting seperti obat flu, obat maag, dan tentu saja…jamu anti masuk angin. 

Tur salju dilaksanakan pada Sabtu, 23 Juli 2016. Berhubung perjalanan memakan waktu lama, pihak penyelenggara meminta peserta berkumpul di sebuah titik di kawasan Central pada Jumat  pukul 10 malam. Untuk memudahkan koordinasi, saya, beserta teman-teman LPDP lainnya, sudah berkumpul sejak pukul 8. Kami bersantap makan malam terlebih dahulu di sebuah restoran Thailand tak jauh dari Central. 

Tepat pukul 11.30, setelah seluruh peserta dihitung dan diberi pengarahan, kami pun berangkat ke Perisher. Bus yang digunakan benar-benar nyaman: terdiri dari dua tingkat, dengan kursi berjarak lebar, dilengkapi dengan toilet dan keran air minum. Berhubung saya tergolong sulit tidur di atas kendaraan, saya pun menenggak obat flu untuk membantu saya tidur, hitung-hitung meredakan pilek akibat kaget dengan perubahan cuaca sekembalinya ke Sydney. Walhasil, tak sampai setengah jam, saya pun sudah amblas…

Saat saya terbangun, kami sudah ada di Jindabyne, sebuah kota kecil yang terletak tak jauh dari Perisher. Inilah pemberhentian pertama kami, yakni untuk menyewa peralatan tur salju. Bus tiba di Jindabyne kira-kira pukul 5 pagi, dengan suhu 3 derajat celsius. Pihak tur memberhentikan kami di Jindabyne karena harga sewa alat di sana lebih murah ketimbang Perisher. 

Begitu melangkahkan kaki keluar bus, udara dingin langsung menyambar. Alamak! Bus yang dilengkapi dengan pemanas ruangan rupanya membuat saya terkejut dengan cuaca di luar. Saya, yang awalnya sudah pede hanya menggunakan kaus dan sweater, pun lari kembali ke bus untuk mengambil jaket tebal dan topi bulu. 

Di Jindabyne, tepatnya di sebuah toko bernama Summit Snowsport, kami menyewa alat-alat yang sekiranya diperlukan di area Perisher. Kita bisa menyewa celana, sepatu, jaket, sarung tangan, papan ski, dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. Saya memilih sepatu dan toboggan (sejenis papan luncur) untuk disewa. Semuanya kira-kira 14 dolar. Setelah menyewa peralatan-peralatan tersebut, peserta tur diberi waktu sekitar 30 menit untuk menikmati biskuit dan minuman panas sebagai pengganti sarapan. Saya mengambil kesempatan ini untuk salat di dalam bus.

Perjalanan pun dilanjutkan. Jindabyne ke Perisher kira-kira memakan waktu satu jam. Seiring bus berjalan, saya melihat tanah yang cokelat sedikit-demi sedikit berubah menjadi putih. Salju! Dari balik jendela, saya melihat lapisan putih yang awalnya tipis di atas tanah itu pun kian menebal seiring  perjalanan kami menanjak. Tiba-tiba, bus berhenti. Rupanya sang sopir berhenti sejenak supaya ia bisa memasang rantai salju, agar bus tak tergelincir. 

Bus berjalan kembali setelah rantai terpasang. Tak lama setelah itu, terlihat angin berhembus begitu kencang, membawa butiran-butiran salju. Langit dan tanah nyaris tak ada bedanya: sama-sama putih. Makin lama, saya makin sulit melihat horizon di tengah badai yang seperti ini. Perlahan, bus lalu menepi ke kawasan bernama Smiggin Holes. Di sinilah kami turun sejenak, sembari menanti shuttle bus yang akan mengantarkan kami ke lokasi tur salju di Perisher Valley. Bus kami tidak boleh masuk, karena lahan parkir untuk bus pariwisata hanya tersedia di Smiggin Holes.

Di Smiggin Holes, saya membeli sepasang sarung tangan tahan air, karena rupanya sarung tangan wool saya tidak cukup ampuh menahan dinginnya suhu Perisher. Sekadar info, temperatur di Perisher pada saat itu sekitar -5 derajat celsius, dengan real feel (berdasarkan Accuweather) -15 derajat lantaran angin yang sangat kencang, 70 km/jam. Bayangkan, walaupun saya sudah mengenakan pakaian berlapis-lapis (long john + kaus dalam + kaus lengan panjang + sweater + jaket tebal), saya masih bisa menggigil kedinginan. Dasar orang pesisir.

Shuttle bus mengantar kami ke Perisher Valley, sebuah lembah yang digunakan sebagai lokasi bermain ski ataupun hanya permainan salju sederhana lainnya. Sebelum terjun ke arena bermain, kami berkumpul dulu di food court untuk membeli sarapan. Saya membeli sepotong döner kebab seharga 13 dolar, jauh lebih mahal daripada kebab umumnya yang saya jumpai di Sydney, dengan harga 5-7 dolar. Maklum, tempat wisata sih.

Karena kami tak mahir bermain ski, kami pun hanya bermain dengan toboggan. Caranya, kami naik ke sebuah bukit, lalu meluncur sembari duduk di atasnya. Ingat adegan di Home Alone, di mana Kevin meluncur dengan sebuah seluncuran dari atas tangga? Nah, seluncuran itu yang dinamakan toboggan. Meluncurnya sih enak, yang susah itu naik lagi ke bukitnya!

Makin siang, angin tak kunjung mereda, malah seakan makin kencang. Saya pun mulai merasakan dampak terpapar di tengah badai salju terlalu lama:  jari-jari susah digerakkan, wajah membeku sehingga sulit berbicara, dan ujung-ujung rambut saya ditumbuhi bunga es akibat salju yang menyangkut. Saya pun  berhenti sejenak untuk mengenakan masker. Walau begitu, kami masih nekad saja bermain salju, bahkan kami sempat membuat boneka salju (walaupun kecil).
 
Pukul 13.00, kami kembali ke food court karena cuaca tak kunjung membaik dan badan memerlukan asupan kalori sebelum pulang. Kami lalu menghangatkan diri sembari memakan bekal yang sudah dibawa dari Sydney. Seperti bisa diduga, bekal kami pun ikut membeku. Nasi ayam yang saya bawa pun terasa seperti  sudah seharian berada di kulkas.

Seusai makan, kami bergegas ke halte Perisher Valley untuk naik bus shuttle kembali ke Smiggin Holes. Waktu sekitar 5 jam sudah cukup untuk kami semua merasakan bermain salju, sekaligus melawan hawa dingin yang menusuk. Lelah tapi puas, itu yang saya rasakan.

Pukul 15 sore, rombongan pun pulang ke Sydney. Kami kembali sejenak ke Jindabyne untuk mengembalikan alat-alat yang disewa, sekaligus pergi ke toilet bagi yang tidak sempat menggunakan toilet di bus. Saya kembali menggunakan kesempatan ini untuk menjamak salat zuhur dan asar. Pukul 16.00, perjalanan dilanjutkan.

Di perjalanan kembali ini, saya memutuskan untuk tidak tidur karena penasaran dengan kondisi jalanan interstate antara Perisher dan Sydney. Rupanya, jalanan interstate ini tidak dilengkapi pencahayaan yang maksimal di malam hari. Sumber cahaya utama yang ada hanyalah lampu kendaraan yang lewat. Oleh karena itu, tak jarang ada kasus seperti mobil menabrak kanguru atau possum yang sedang menyeberang. Walau sepertinya menakutkan, rupanya sopir kami sangat berpengalaman, dan saya pun tak perlu khawatir.

Enam jam kemudian, sekitar pukul 10 malam, kami tiba kembali dengan selamat di Sydney, tepat di lokasi awal keberangkatan. Benar-benar sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Setelah seharian terpapar temperatur Perisher yang ada di kisaran minus, kami pun merasa bahwa 12 derajat celsius di Sydney amat sangat  tergolong hangat. Padahal, biasanya kami merasa bahwa suhu sedemikian sudah dingin.

Saya berpisah dengan kawan-kawan LPDP di stasiun Central, kemudian kami berpisah dengan berganti moda transportasi sesuai dengan tempat tinggal masing-masing. Saya pun naik bus menuju rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung mandi air panas, membuat wedang jahe, dan amblas ke alam mimpi tak lama kemudian.

Perisher Snow Tour

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *