Pada program Master of International Relations, kandidat diharuskan memenuhi 96 SKS untuk bisa lulus, atau setara 2 tahun. Namun demikian, ada beberapa pihak yang boleh mengajukan pemotongan masa studi. Pertama, adalah pemegang gelar sarjana di bidang yang linear. Bagi kalangan pertama ini, mereka cukup menghabiskan 72 SKS, atau 1,5 tahun. Kedua, bagi yang memiliki pengalaman kerja di bidang yang linear dengan studi, gelar master bisa diraih hanya dengan mengambil 48 SKS, atau 1 tahun. Berhubung saya memiliki gelar sarjana di bidang Hubungan Internasional, saya pun berhak mendapatkan pemotongan masa studi.
‚Äč
Di dalam jumlah SKS wajib itu, ada sebuah mata kuliah capstone, atau mata kuliah yang wajib diambil agar bisa lulus. Kalau di Indonesia, ini semacam skripsi. Ada dua jenis capstone, yakni tesis minor sepanjang satu semester, dan berjumlah 5.000 kata; atau proyek riset yang berlangsung setahun, dan berjumlah 10.000 kata. Umumnya, mereka yang mengambil pilihan kedua adalah mereka yang ingin langsung melanjutkan ke program doktoral.

Tiap mata kuliah, atau lazim disebut unit di sini, berbobot 6 SKS. Sebagai seorang mahasiswa internasional, saya perlu mengambil 4 mata kuliah, atau 24 SKS, tiap semesternya. Bagi mahasiswa baru, pengisian rencana studi bisa dilakukan sejak online enrolment dibuka. Nantinya, kita akan mendapatkan notifikasi soal ini kok di email. 

Di kampus saya, dan mungkin di sejumlah kampus Australia lainnya, pengisian rencana studi bisa dilakukan hingga minggu kedua perkuliahan. Jadi, di minggu pertama kita bisa meraba-raba dulu mana kelas yang ingin kita masuki. Kalau ada kelas yang sekiranya tidak cocok atau terlalu berat, kita bisa menghapusnya dari rencana studi (drop) atau menggantinya dengan kelas lain. Berhubung saya harus mengambil 4 unit di tiap semester, saya tidak bisa melakukan drop sembarangan. Kalau ada mata kuliah yang tidak cocok, mau tak mau saya harus menggantinya dengan yang lain.

Pemilihan mata kuliah, peminjaman buku, pengajuan dana pinjaman, maupun hal-hal terkait akademik lainnya dilayani melalui sebuah portal bernama MyUni. Pada saat kita diterima di University of Sydney, kita akan diberikan sebuah username (UniKey) yang terdiri dari kombinasi inisial nama depan + tiga huruf nama belakang + empat angka acak. Nama saya Ario Bimo Utomo, sehingga UniKey saya adalah AUTO5006. Jangan ditanya itu 5006 dari mana, karena saya pun tidak tahu. Selain itu, kita juga diberikan password oleh administrator MyUni agar akun kita aman. Nah, UniKey dan password inilah yang kita gunakan untuk masuk ke MyUni.

Serangkaian masalah pernah saya hadapi saat pertama kali datang ke kampus. Pertama, saya tidak bisa mengakses MyUni, karena password saya, mbuh ngopo, tidak valid. Masalah ini selesai ketika saya menelpon pusat IT untuk meminta password baru. Masalah lain muncul saat saya sukses membuka MyUni, dan menemukan ada dua kelas pilihan yang mengalami tabrakan jadwal. 

Weleh. 

Harusnya bisa saja sih saya memiliki jadwal yang tabrakan, karena setiap kuliah pasti direkam oleh sistem. Walau begitu, siapa yang mau bergantung pada rekaman selama satu semester? Akhirnya, saya perlu mengganti dengan kelas lain yang tidak tabrakan. Masalah selesai? Belum! Rupanya, portal akademik saya mengalami sedikit gangguan, sehingga saya tidak bisa mengganti mata kuliah secara manual. Akhirnya, saya pun harus pergi ke kantor pelayanan mahasiswa untuk mengganti mata kuliah langsung ke sistemnya. Untunglah, semuanya langsung beres, dan saya tinggal duduk manis menikmati perkuliahan.

Dari empat unit yang saya ambil, semuanya menawarkan metode kuliah yang berbeda. Secara umum, ada dua tipe perkuliahan di sini: lecture dan seminar. Lecture, sebagaimana namanya, adalah metode kuliah yang terdiri dari ceramah, dan kita hanya perlu mendengarkan dengan baik agar paham. Di sisi lain, ada seminar yang menekankan keaktifan peserta. Di metode kedua inilah perkuliahan terasa lebih greget. Sebelum perkuliahan berlangsung, kita akan diberikan satu set bacaan wajib, bisa terdiri dari beberapa judul jurnal atau buku, kemudian ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Lalu, pada sesi seminar, dosen akan melontarkan pertanyaan yang ada kaitannya dengan konten bacaan. Sisanya? Terserah peserta. Umumnya, akan terjadi tukar pendapat yang lumayan intens. Di sinilah tantangan saya sebagai mahasiswa asing, karena saya harus memahami esensi diskusi, dan harus mampu menyampaikan pendapat, walau dengan broken English. Dengan sistem seminar ini, jangan harap bacaan hanya dianggap sebagai formalitas; kalau kita tidak membaca materi, bisa dijamin kita akan plonga-plongo dalam forum.

Semua unit yang saya ambil mensyaratkan esai sebagai pengganti ujian akhir. Bagi saya, metode ini cukup baik, karena melatih saya untuk mampu menyampaikan pendapat secara kritis, ketimbang hanya menghafal isi kuliah. Bobotnya pun tidak main-main, ada sebuah unit yang memberikan bobot 50% untuk esai akhir. 

Kemudian, soal plagiarisme. Sebagaimana universitas lain, tentu saja University of Sydney menganggap plagiarisme sebagai dosa syirik-nya dunia akademik. Untuk menanggulangi itu, setiap esai yang dikumpulkan perlu disetor ke Turnitin, sebuah software pendeteksi plagiarisme, yang mendeteksi kecocokan tulisan dengan tulisan-tulisan lain yang sudah ada di internet. Sehingga, kalau ada tulisan kita yang ketahuan menjiplak dari internet, atau tugas-tugas sebelumnya, wassalam. Walau gitu, tak perlu khawatir, kecocokan tersebut tidak akan dianggap serius sekiranya kita mengutipnya secara sah melalui daftar pustaka.

Sekilas Perkuliahan

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *