Suatu hari, saya merasa bosan dan mencoba mencari kegiatan di akhir pekan. Akhirnya, setelah iseng-iseng googling di internet dengan kata kunci “Sydney events”, saya mendapatkan info mengenai acara ini. Nah, sebagai orang yang suka mengenal bahasa dan budaya dunia, tentu saja acara ini begitu menarik minat saya. Terlebih lagi, tidak ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk mengunjungi Sydney Language Festival ini.
Sydney Language Festival ini diselenggarakan pada 8 Oktober 2016 di Korean Cultural Center, Sydney City. Lokasinya cukup mudah dijangkau, karena terletak di pusat kota dan hanya berjarak sekitar 10 menit jalan kaki dari stasiun Central. 

Acara dimulai pada pukul 12 siang dan saat itu saya terlambat sekitar 15 menit. Saat saya tiba, sesi pertama, yakni keynote speech sudah dimulai. Sang pembicara adalah Profesor Ghil’ad Zuckermann, seorang linguis asal Israel yang kini menjadi dosen di University of Adelaide. Dalam ceramahnya, Profesor Zuckermann menceritakan pentingnya melestarikan bahasa, karena ia merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas. Ia juga menceritakan pengalaman menarik bagaimana ia berupaya menghidupkan kembali bahasa Barngarla (salah satu bahasa Aborigin Australia) yang sudah punah, melalui dokumen-dokumen berusia ratusan tahun.
Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai berbagai bahasa. Pengunjung dibagi ke dua ruangan yang masing-masing terdapat presenter yang bergantian menjelaskan berbagai bahasa. Tiap presentasi bahasa kira-kira memakan waktu selama 30 menit. Di sana, para presenter akan memberikan berbagai info mengenai sebuah bahasa, termasuk tata bahasa dan budaya di baliknya. 

Di salah satu sesi inilah, saya bertemu dengan Richard Delamore, seorang vlogger sekaligus Esperantis. Nah, apa lagi tuh? Jadi, Esperantis itu adalah penutur bahasa Esperanto, sebuah bahasa buatan yang kini digunakan oleh sekitar dua juta orang di berbagai belahan dunia. Kebetulan, saya juga tahu sedikit-sedikit bahasa Esperanto, karena pernah belajar secara otodidak saat SMA. Jadilah kami mengobrol dalam bahasa tersebut. Namun demikian, kemampuan saya masih gratul-gratul kalau dibandingkan dengan Richard yang ngomongnya sudah semacam penutur asli. Oh iya, kalau mau tahu seperti apa bahasa Esperanto, dan bagaimana video-video yang diposting Richard, silakan kunjungi kanal “Evildea”. Di sana, ada banyak video Richard sedang berbicara dalam bahasa Esperanto mengenai banyak topik, termasuk tips cerdas mempelajari bahasa baru.

Sesi presentasi ini cukup edukatif menurut saya. Kira-kira ada 10 bahasa yang dipresentasikan. Para peserta tak hanya diajak mengenal bahasa, namun kami juga diajak untuk lebih mampu mengapresiasi sejarah dan budaya yang dibawanya. Pada sesi bahasa Udmurt (suatu bahasa daerah di Rusia), misalnya, peserta diajak mengenal bahwa suku Udmurt berbeda dari orang Rusia pada umumnya, dan bagaimana secara etnolinguistik mereka lebih dekat dengan kelompok Finno-Ugric semacam Hungaria dan Finlandia.

Setelah sesi presentasi berakhir, acara ditutup dengan penampilan seni dari berbagai para seniman yang mewakili berbagai bahasa. Pentas seni ini begitu meriah dan tidak monoton, karena para perwakilan bahasa menampilkan seni yang berbeda-beda. Perwakilan bahasa Bengali, misalnya, menampilkan tari tradisional Bangladesh dengan lenggak-lenggoknya yang khas. Kemudian ada juga perwakilan bahasa Turki, sepasang suami istri asal Izmir, yang menampilkan duo gitar dan vokal. Bagi saya, penampilan paling meriah disajikan oleh Azadoota Band, yang mewakili bahasa Assyria (bahasa Suriah kuno yang konon juga digunakan Nabi Isa/Yesus).

Oh iya, rupanya saya mendapatkan kejutan lain sesaat sebelum acara ini selesai. Rupanya, sang ketua yayasan Sydney Language Festival adalah seorang Esperantis juga. Nama beliau adalah Dmitry Lushnikov, seorang asal Rusia. Di acara ini, Dymitri meminta kontak saya, dan saya diundangnya untuk menjadi presenter mewakili bahasa Indonesia pada festival-festival berikutnya! So excited!

Beberapa minggu setelah Sydney Language Festival, saya mendapatkan surat elektronik dari Dmitry bahwa Esperanto House mengundang saya untuk hadir di open house dan pizza night pada 29 Oktober 2016. Esperanto House? Makanan apa lagi tuh?

Esperanto House adalah markas besar Esperanto Federation of New South Wales (NSW). Di sinilah para Esperantis Sydney berkumpul untuk berdiskusi, belajar bahasa Esperanto, ataupun sekadar berbicang santai di tengah berbagai kesibukan mereka. Apabila dilihat dari luar, Esperanto House tidak terlihat seperti kantor, namun layaknya rumah pada umumnya, sehingga sekilas tidak ada yang menonjol darinya kecuali tulisan “ESPERANTO HOUSE” yang menempel di tembok depannya. Lokasi Esperanto House ada di Redfern, sebuah suburb yang tak jauh dari kampus saya.

Nah, kali ini, saya diundang ke pizza night yang diadakan Esperanto House. Saya pergi sendiri ke Redfern, karena kebetulan teman-teman yang saya ajak sedang sibuk menjalani UAS. Setibanya di sana, saya disambut oleh Dmitry dan Richard yang sedang bersiap-siap di dapur dengan sejumlah kotak pizza di atas meja.

Sebelum pizza night dimulai, Dmitry mengajak saya untuk tur singkat mengelilingi Esperanto House. Ia mengajak saya ke lantai dua yang berfungsi sebagai perpustakaan. Di sana, saya bertemu Jonathan Cooper, seorang warga Australia yang sekaligus menjabat sebagai Presiden Esperanto Federation of NSW. Jonathan bercerita bahwa ia awalnya hanya iseng-iseng belajar Esperanto, sebelum akhirnya ia menemukan komunitas ini di Sydney. Kami berbincang sejenak, dan di akhir perbincangan, ia memberi saya sebuah kaus khas Esperanto House sebagai oleh-oleh. Dankon!

Di perpustakaan ini, saya menjumpai banyak buku-buku menarik, salah satunya adalah Al-Quran berbahasa Esperanto yang selama ini hanya saya jumpai versi digitalnya. Sayangnya, buku-buku yang ada di sana hanya bisa dibaca di tempat, karena kebanyakan adalah koleksi langka.

Satu hal yang menurut saya menarik dari Esperanto House, adalah ia juga menyediakan penginapan berkapasitas 4 orang untuk penutur Esperanto yang mampir ke Sydney sebagai fasilitas dari pasporta servo. Apa pasporta servo? Secara sederhana, pasporta servo adalah salah satu bagian kultur dari bahasa Esperanto. Ia merupakan sebuah dokumen yang berisi alamat-alamat para Esperantis di seluruh dunia. Umumnya, mereka yang ada dalam database pasporta servo bersedia apabila harus menjadi host bagi Esperantis lainnya. Dengan adanya fasilitas pasporta servo, para Esperantis diharapkan mampu dengan mudah berkunjung ke belahan bumi lain tanpa harus bingung dengan penginapan. Nah, kira-kira ini semacam homestay. Walau begitu, tentu saja jangka waktu penginapannya dibatasi ya guys, kalau di Esperanto House, kita bisa menginap gratis selama seminggu.

Pizza night dibarengi dengan kursus singkat bahasa Esperanto untuk para pemula. Kira-kira ada 5 orang yang hadir di kursus yang dibawakan Richard tersebut. Walaupun sedikit, namun hal tersebut membuat suasana belajar jadi makin akrab dan tidak berjarak. Setelah kursus singkat selesai, kami melanjutkan kegiatan dengan menonton film dalam bahasa Esperanto, lumayan untuk mengasah kemampuan mendengar saya.

Bagi kalian yang tidak bisa bahasa Esperanto sama sekali, jangan khawatir. Esperanto House rajin menggelar acara kumpul-kumpul terbuka untuk umum, yang biasanya diadakan pada Minggu pertama pada tiap bulan (kecuali Januari), pukul 1 siang. Selain di Esperanto House, para Esperantis Sydney juga menggelar acara-acara lain seperti kumpul bareng di Pantai Manly, atau acara ringan seperti pizza night yang sudah saya bahas sebelumnya.

Setelah pertemuan singkat saya dengan Dmitry itu, saya kemudian dimasukkan sebagai pembicara di sejumlah Language Festival, yakni di Ryde, Canada Bay, Parramatta, serta Liverpool. Mewakili Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, saya sangat bangga dapat diberikan kesempatan untuk menyebarluaskan pengetahuan mengenai bahasa yang saya tuturkan. Penonton pun nampak begitu antusias untuk mengetahui bahasa Indonesia dan Jawa secara lebih lanjut, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang saya terima.

Secara keseluruhan, saya sangat mengapresiasi adanya Sydney Language Festival dan acara-acara sejenisnya. Saya pulang dengan ilmu dan kawan-kawan baru. Melalui ajang ini, saya belajar bahwa bahasa bukan hanya sekadar alat berkomunikasi, ia adalah cermin dari sebuah identitas yang begitu patut dilestarikan. Meminjam kalimat George Steiner, ketika sebuah bahasa punah, maka salah satu cara kita memandang dunia akan turut punah bersamanya. Sebagaimana Mandela pernah berucap: “if you talk to a man in language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.”

Sydney Language Festival

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *