Mungkin sebagian dari kita masih percaya bahwa Australia hanya diisi bule berbahasa Inggris. Pada realitanya, tidak demikian, setidaknya di kota Sydney. Pada momen pertama saya menginjakkan kaki di negeri kanguru, saya bahkan bertanya dalam hati, apa saya benar-benar sudah di Australia. Bagaimana tidak, banyak sekali petugas bandara yang bercorak Asia, terutama Asia Timur. Kemudian, saat saya masuk konter imigrasi, saya dicek oleh seorang petugas berwajah Amerika Latin. Di konter sebelah, ada petugas yang merupakan keturunan India, terlihat dari turban yang ia kenakan. Sepanjang saya berjalan pun, telinga saya diserbu oleh sejumlah percakapan dalam berbagai bahasa. 
‚Äč
Sydney adalah kota global yang menjadi melting pot bagi banyak etnis. Kira-kira ada sekitar 200 etnis hidup berdampingan di kota ini. Berdasarkan statistik tahun 2011, warga Sydney berjumlah sekitar 4,6 juta jiwa. Kemudian, 46 persen lahir di luar Australia.

Beberapa suburb Sydney memiliki karakteristiknya sendiri, berdasarkan komponen etnis yang ada di sana. Auburn, misalnya. Suburb yang terletak di kawasan barat ini dikenal sebagai kampung Turki-nya Sydney. Banyak sekali restoran halal yang dapat kita temui di sini, sehingga suburb ini pun jadi primadona mahasiswa muslim. Ada pula Lakemba yang dikenal sebagai basis imigran Lebanon sejak 1970-an, ketika arus imigran dari Lebanon menetap di kawasan ini. Berdasarkan survei, sekitar 22 persen penduduk Lakemba berbahasa Arab sebagai bahasa kedua. Saya sempat berjalan-jalan di Lakemba untuk membeli daging halal, dan mencoba makanan khas Lebanon yang porsinya ngajak ribut. Berkeliling di Lakemba terasa seperti sedang ada di dataran Arab: bau rempah-rempah yang khas, pria bergamis menyeberang jalan, obrolan orang-orang dalam bahasa Arab, banyak pokoknya! Saya pun teringat dengan kawasan Ampel yang ada di Surabaya.

Contoh suburb dengan karakter “asing” lain adalah Campsie, yang terletak tak jauh dari Lakemba. Kawasan ini dihuni oleh banyak masyarakat Tionghoa, yang menyusun sekitar 20 persen dari jumlah populasi. Begitu turun dari stasiun Campsie, siap-siap saja disambut dengan jejeran toko beraksara Tiongkok. Mau cari orang Indonesia? Tidak sulit, cari saja di daerah-daerah dekat University of Sydney seperti Glebe dan Redfern. Daerah sekitar University of New South Wales seperti Kensington dan Kingsford juga dikenal menjadi sarangnya orang Indonesia.

Multikulturalnya suasana kampus juga saya rasakan saat menjalani orientasi. Apabila di UGM dulu yang ada hanyalah paguyuban mahasiswa regional, maka di Sydney terdapat banyak sekali paguyuban mahasiswa internasional seperti Indonesia, Korea, Tiongkok, Selandia Baru, dan sebagainya. Beberapa kali saya dikira mahasiswa dari India. Saat saya berhenti di stan mahasiswa Pasifik pun, saya juga ditanya apakah saya masih punya keturunan Polinesia. Belum tahu rupanya, kalau saya udah ngomong bahasa Jawa, buyar semua pikiran mereka. Hmm…ternyata Sydney memang klop dengan saya, yang dari wajah sudah multikultur…hehehe.

Ngomong-ngomong soal multikulturalnya Australia, dosen saya di UGM pernah bercerita mengenai sepasang orang Indonesia yang bertemu seorang bule di dalam lift. Dua orang Indonesia ini menilai si bule berbau badan tak sedap, dan mulai rasan-rasan dalam bahasa Jawa. “Kae wong bule ambune koyo munyuk,” (itu orang bule bau badannya seperti kera). 

Tak disangka, saat pintu lift terbuka, si bule keluar dari lift sambil menunduk dan berkata, “Nuwun sewu, munyuk arep liwat.” (permisi, kera mau lewat). 

Semprul tenan, si bule bisa berbahasa Jawa! 

Akhirnya, ini juga catatan bagi saya: jangan bicara sembarangan, walaupun dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Saat ini, bahasa Indonesia sudah banyak dipelajari mahasiswa Australia, bahkan, salah satu dosen saya di Sydney rupanya bisa berbicara bahasa Indonesia karena istrinya orang Jakarta. 

Tak jarang pula saya mendengarkan orang-orang berbicara dalam bahasa Jawa. Pernah suatu hari saya berbelanja di Paddy’s Market dan, setelah asyik berbahasa Inggris A sampai Z, baru ngeh lah saya kalau dia ternyata orang Gunung Kidul. Lho!

Well, kita tak akan pernah tahu akan bertemu siapa di jalan, jadi hati-hati saja. Mulutmu harimaumu.

Oalah nyuk…munyuk…

Sydney yang Multikultural

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *