Seorang berbaju koko itu terlihat berapi-api meski berdiri di bawah naungan tenda. Suaranya menggelegar, menggetarkan sound system yang terpasang di sisi kanan dan kiri panggung.

“WTC itu adalah pusat kezaliman dunia!” telunjuk kirinya terangkat. Pada bibirnya tersungging senyum, walaupun sekilas harusnya kalimat itu terucap penuh amarah.

Begitu semangat ia menjelaskan bahwa peristiwa 11 September 2001 adalah sebuah konspirasi global untuk memperburuk citra Islam.

“Mau bukti? Coba masukkan Q33NY ke Microsoft Word, itu adalah kode penerbangan pesawat yang menabrak WTC. Coba ganti font-nya jadi Wingdings, maka kalian akan lihat itu…”
“Huruf Q akan berubah menjadi pesawat,”
“…angka 33 akan berubah menjadi dua gedung,”
“…huruf N akan berubah menjadi tengkorak,”
“…dan huruf Y akan berubah menjadi bintang David, simbol Yahudi!”
“…itu berarti Microsoft sudah memprediksi ini jauh-jauh hari. Semua aksi teror ini direncanakan!”

Bagaikan paduan suara, audiens berseru: “Wuooooohhhh…”

Mind = blown, kalau kata warganet zaman sekarang.

Saya, yang masih berusia sekitar 13 tahun, begitu terkesima dengan retorikanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya begitu mantap. Tak terasa jiwa muda ikut berkobar ketika “mengungkap” bahwa Islam sedang menjadi korban konspirasi, karena selama itu saya hanya tahu bahwa teror 11 September dilakukan oleh Al-Qaeda, kelompok yang notabene seiman dengan saya.

Siang itu adalah peringatan Isra Miraj di sekolah. Sebagaimana umum dilakukan di tempat-tempat lain, terdapat kegiatan ceramah dengan mengundang seorang dai. Walaupun momen saat itu adalah Isra Miraj, ceramah lebih banyak dihabiskan untuk membahas 11 September, Amerika, Yahudi, dan terorisme. Saya tak mengerti apa latar belakang beliau. Jangankan begitu, saya bahkan baru mengenalnya saat ia naik panggung. Namun, embel-embel “ustad” itu sudah cukup membuat saya (kalau terlalu luas menyebut “kami”) tak dapat membantah apa yang ia katakan. Di akhir, sang dai menyimpulkan bahwa kita jangan sampai lupa terhadap konspirasi Amerika pada 11 September 2001, agar peradaban Islam bisa kembali jaya.

Benar saja, ceramah siang itu tak akan pernah saya lupakan.

Butuh waktu sekitar tiga tahun setelah ceramah tersebut, tepatnya setelah ponsel saya dapat digunakan membuka Google, untuk mencek dan ricek kebenaran soal “Q33NY” tersebut. Rupanya, Q33NY bukanlah kode penerbangan pesawat di peristiwa 11 September. Kode pesawat yang menabrak WTC adalah AA11 dan UA175.

Entah didapat dari mana kode Q33NY itu.

Lagipula, kalau kita menyimak simbol yang dihasilkan dari konversi “Q33NY” ke Wingdings, kita akan tahu bahwa angka “33” tidak akan berubah menjadi gedung. Itu adalah simbol kertas bergaris. Tidak percaya? Silakan buka Microsoft Word sekarang juga. Ketik 1234, lalu ubah font menjadi Wingdings. Angka 1 dalam Wingdings akan berubah jadi map, angka 2 menjadi kertas terlipat, lalu angka 4 menjadi tiga lembar kertas yang saling bertumpuk. Akan sangat konyol apabila angka 3 sendirian yang berubah jadi gedung.

Main-main sedikit dengan cocoklogi? Boleh. Kalau kita ubah “Q33NY” dari Wingdings ke Webdings, hasilnya akan lucu. Q berubah jadi simbol perkemahan33 berubah menjadi panah ke kiri, N berubah menjadi mata, sementara Y berubah menjadi simbol hati.



Horrrotokono…

Boleh dong saya menafsirkan “Q33NY” sebagai “pergi kemping yuk, buat cuci mata!”

***

Beberapa waktu lalu, saya sempat menuliskan artikel mengenai kasus Ridwan Kamil dan cocoklogi masjid Illuminati. Kala itu, saya hanya terpikir untuk mengaitkan isu tersebut dengan “matinya kepakaran” yang ditulis Tom Nichols dalam bukunya. Namun, saya masih gemas melihat banyak orang yang memilih percaya pada konspirasi masjid Illuminati tersebut walau Kang Emil sudah membantah dengan segala data yang ia ketahui. Sehingga, ada ketidakpuasan yang masih mengganjal, saya masih bertanya-tanya mengapa orang bisa begitu percayanya pada teori konspirasi. 

Anggap saja tulisan ini sebagai sekuelnya.

Teori konspirasi secara umum dipahami sebagai teori yang meyakini bahwa peristiwa-peristiwa yang ada di dunia ini telah diatur oleh sekelompok elite yang bersekongkol. Michael Barkun (2003), seorang ilmuwan politik, membagi tipe teori konspirasi menjadi tiga:

  1. Teori konspirasi kejadian. Dalam skala kecil ini, teori konspirasi meyakini bahwa ada kekuatan yang mengontrol suatu kejadian secara terbatas. Misalnya: konspirasi tentang terbunuhnya Presiden Kennedy.
  2. Teori konspirasi sistemik. Dalam tingkatan kedua ini, teori konspirasi beranggapan bahwa ada suatu kekuatan besar yang mengendalikan segala sistem kehidupan demi menguasai suatu negara, daerah, hingga dunia. Contoh: konspirasi Illuminati dan tatanan dunia baru.
  3. Teori konspirasi super. Kalian anggap teori konspirasi sistemik sudah gila? Belum. Masih ada lagi teori superkonspirasi yang berasumsi bahwa konspirasi-konspirasi yang terjadi di muka bumi adalah rangkaian dari satu konspirasi besar yang dikendalikan oleh entitas jahat yang jauh dari jangkauan manusia. Misalnya? Alien.

Dalam sains, sebuah “teori” baru bisa lahir berdasarkan generalisasi data yang ada di dunia nyata. Jadi, salah besar kalau ada yang mengatakan bahwa “teori” hanyalah hasil celetukan yang tak terbukti di lapangan. Namun, teori akan selalu dapat diuji atau dikoreksi apabila terbukti ada kesalahan di sana.  

Masalah dengan “teori konspirasi” adalah sifatnya yang tak dapat difalsifikasi (diuji). Teori konspirasi hanya membutuhkan keyakinan mutlak untuk mengubah sesuatu yang ngasal menjadi sebuah kebenaran. Memanfaatkan keengganan kita untuk mencari tahu, ia mereduksi kejadian-kejadian yang kompleks menjadi sebuah sebab tunggal: konspirasi. Seorang penganut teori konspirasi bumi datar akan lebih mudah percaya bahwa “Antartika merupakan dinding es yang dijaga elit global” ketimbang mencari tahu bahwa ada Traktat Antartika yang memang membatasi kegiatan negara-negara di sana.

Jangan salah, saya pun akrab dengan teori konspirasi. Bisa dikatakan bahwa ada satu titik dalam kehidupan ketika saya hampir percaya pada teori konspirasi. Di masa SMA, saya rajin membaca web-web semacam VigilantCitizen hingga buku-buku macam “Hitler Mati di Indonesia” atau “Borobudur Peninggalan Sulaiman”. Sebutkan teori konspirasi apa saja yang beredar di internet, besar kemungkinan saya akan tahu. Silakan tertawa, namun seperti itu kenyataannya. Untunglah, di saat yang sama, saya memiliki teman-teman diskusi yang membuat saya tetap “waras”. Ditambah dengan metode membaca kritis yang dibekali saat kuliah, kini teori-teori konspirasi itu pun masih sering saya kunjungi kembali, walau sebagai lelucon.

Meski demikian, tidak semua orang seberuntung saya. Masih amat banyak orang yang menelan bulat-bulat teori konspirasi walau seabsurd apa pun itu. 

Sialnya, teori konspirasi memiliki “jaring pengaman” yang membuatnya kebal kritikan. Apa itu? Tuduhan bahwa semua sanggahan adalah bagian dari konspirasi!

Teori-teori konspirasi akan mengklaim bahwa konspirasi global terlalu kuat untuk dilawan, sehingga segala sumber informasi arus utama sudah tercemar. Hal ini mengembalikan kita ke topik “matinya kepakaran” yang menyebabkan universitas, guru, dosen, dokter, dan semua pakar akan dipandang sebagai bagian dari konspirasi. Kalau sudah begitu, apa pun yang dikatakan pakar akan selalu tertolak.

Pada akhirnya, hal ini memunculkan sebuah cara berpikir yang sarat akan paranoia dan tidak tertib logika. Penganut teori konspirasi tak akan lagi sibuk mencari tahu dari mana sumber pengetahuan mereka, karena jalan penuju pengetahuan itu telah dianggap ternodai oleh konspirasi yang mereka yakini.

Astronom yang tidak percaya bumi datar? Sebut saja elit global.
Dokter yang tak percaya vaksin merupakan program depopulasi? Sebut saja bersekongkol dengan Zionis.
Ulama yang tidak percaya Illuminati? Sebut saja liberal.

Kemudian, mengapa orang percaya pada konspirasi? Imhoff dan Lamberty (2016) mengatakan, ada hubungan terkait antara kepercayaan akan konspirasi dengan kebutuhan seseorang untuk dianggap unik. Penganut teori konspirasi sebenarnya adalah orang-orang dengan kepercayaan diri rendah. Dengan menganut suatu teori konspirasi, orang tersebut akan dapat merasa spesial dibanding kawan-kawannya. Di sisi lain, teori konspirasi dan komunitasnya juga membuat mereka merasa aman karena menemukan orang-orang sepemikiran. 

Kunjungi saja salah satu akun bumi datar. Kita akan dengan mudah menemukan pengguna yang dengan fasihnya menyebut mereka yang kontra sebagai “globtard”, “awam”, atau “belum sadar”. Orang-orang seperti ini merasa aman di dalam komunitasnya, sehingga ia pun menemukan sarana aktualisasi diri untuk menjadi sosok yang merasa “tercerahkan” sembari memiliki justifikasi untuk membodoh-bodohkan orang lain. Padahal, saya yakin tak seorang pun di antara mereka yang memiliki kualifikasi di bidang astronomi atau geografi. Kebutuhan merasa spesial itu mungkin muncul karena dalam kehidupan nyata, mereka tak memiliki keunggulan di bidang akademik.

Hart (2018) juga menulis bahwa penganut teori konspirasi memiliki kondisi yang disebut “schizotypy“, atau kecenderungan merasakan sesuatu yang sebenarnya tak ada di sana. Mungkin ini dapat menjelaskan mengapa sebagian orang bisa melihat bentuk-bentuk tertentu sebagai sesuatu yang mengancam, ketika orang-orang pada umumnya tidak demikian. Pengidap gejala ini akan melihat Illuminati pada bentuk segitiga, mata Horus pada bentuk lingkaran, simbol Freemason pada garis-garis berpotongan, dan seterusnya.

Sedihnya, hari ini pengusung teori konspirasi juga terdapat dari kalangan yang mendaku pemuka agama, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Masjid Al-Safar tempo hari. Hal tersebut membuat kesan seolah-olah agama membenarkan penyebaran teori konspirasi. Padahal, verifikasi harusnya bukan hal asing dalam keilmuan agama. Ketika kita melihat Islam, contohnya, hadis (ucapan dan perilaku Nabi Muhammad yang dijadikan sumber hukum) saja memiliki sejumlah tingkatan yang menentukan derajat kekuatannya. Ada yang valid sehingga sah dijadikan sumber hukum, hingga ada yang palsu sehingga tak dapat dijadikan sumber hukum. Ilmunya pun amat rumit, sehingga ulama ngetop pun harus belajar selama puluhan tahun. Mengapa kehati-hatian ini seolah lenyap ketika dihadapkan pada teori konspirasi?

Berita bohong yang dibalut dengan kalimat suci tak akan membuatnya jadi benar. Pun, menyebut bismillah sebelum makan babi tidak akan membuatnya halal. Sudah saatnya kita lebih berhati-hati mengolah informasi, mari hindari melandaskan pemikiran pada teori konspirasi. Jangan sampai ketidakmampuan kita berpikir kritis berpotensi memperburuk citra kita sendiri.

Sekalipun tujuannya untuk membangkitkan semangat kejayaan peradaban, saya tidak setuju apabila teori konspirasi digunakan sebagai sumber. Bagi saya, peradaban yang berjaya dipupuk dengan cara berpikir secara ilmiah dan menebar manfaat seluas mungkin, bukan hanya dengan membangun kecurigaan. Dengan itulah kejayaan sejati dilahirkan.

Teori Konspirasi

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *