Di hadapan mahasiswa, saya pernah mengatakan bahwa ada satu hal sia-sia selain menggarami lautan.

Apa itu? Membela politisi mati-matian.

Saya tidak main-main saat mengatakan itu. Banyak sekali orang yang rela menanggalkan idealismenya demi mendukung politisi junjungan mereka secara membabi buta. Ini kian nampak saat pemilihan presiden makin dekat. Sedihnya, itu diikuti dengan tindakan tidak rasional seperti persekusi hingga pembunuhan terhadap yang berbeda pilihan.

Seandainya kita mau melihat secara rasional, kita dapat melihat bawa politik adalah soal kepentingan. Ia adalah nilai tukar utama di dalam politik. Politik adalah tentang menggunakan segala sumber daya yang kita miliki untuk meraih kepentingan itu tadi.

Berbicara mengenai politik, maka ia merupakan sebuah sistem yang penuh ketidaktentuan. Terlebih, hal itu diterapkan di dalam konteks Indonesia yang amat mudah berubah-ubah. Mereka yang kita bela mati-matian tahun ini, bisa jadi lima tahun ke depan akan berseberangan dengan kita. Pun, mereka yang kita benci hingga ke ubun-ubun, suatu hari bisa jadi akan merapat ke kubu yang kita dukung hari ini.

Lantas, bagaimana kita sebaiknya menyikapi hal tersebut?

Ada sebuah cerita tentang pemilik kos (landlord) saya di Sydney. Nama beliau adalah Duc. Beliau adalah seorang imigran asal Vietnam yang kemungkinan merupakan salah satu dari pengungsi saat Perang Vietnam pecah. Lambat laun, Duc pun beradaptasi dengan masyarakat Australia hingga kini menjadi warga negara sekaligus pemilik usaha persewaan rumah yang cukup sukses di kalangan mahasiswa.

Setiap pemilu, Duc tidak pernah bingung tentang siapa yang akan dipilih, karena ia selalu terfokus pada dua isu: (1) perlindungan imigran, dan (2) pajak bangunan. Siapa pun kandidat yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya terkait dua isu tersebut, ialah yang terpilih. Sebagai imigran, tentu ia dapat merasakan penderitaan yang sama dengan mereka yang terusir dari tanah airnya, sehingga ia senantiasa menginginkan negara yang ramah pada imigran. Di sisi lain, sebagai pengusaha kos-kosan, ia berpihak pada partai yang mampu memperjuangkan pajak bangunan agar tidak terlalu mencekik pemilik properti.

Seumpama pada pemilu ia memilih suatu partai karena komitmennya meningkatkan intake pengungsi, ia tak segan-segan mencabut dukungan bila di masa depan partainya gagal memenuhi janjinya. Duc terlibat secara aktif menyimak kebijakan-kebijakan mereka di media massa. Tugasnya tak berhenti di bilik suara. Justru sebaliknya, tugas Duc baru dimulai ketika politisi pilihannya berhasil menduduki jabatan.

Sayangnya, hal ini masih belum terlalu membudaya di kalangan kita. Berdasarkan pengamatan saya, ada kecenderungan bahwa mendukung politisi tertentu berarti membenarkan segala ucapan dan tindakannya, seirasional apa pun itu. Padahal, mendukung berarti menaruh kepercayaan kita pada mereka, bukan menjual jiwa kita kepada kepentingan mereka. Ketika kepercayaan kita disalahgunakan, kita pula yang berhak meluruskan agar mereka kembali memperjuangkan kepentingan kita.

Contohlah suporter sepak bola. Walaupun mereka mendukung klub kebanggaan mereka setengah mati, mereka jugalah orang pertama yang akan memaki-maki manajemen seandainya klub tidak beres. Bukan, saya tidak mengajak Anda memaki-maki politisi pilihan, namun semangat kritis inilah yang harus kita contoh. Itulah sikap warga negara yang aktif.

Sudah bukan masanya lagi kita hanya dijadikan lumbung suara, kita harus dapat rasional melihat mana yang terbaik. Syukur-syukur apabila kita dapat melakukan pertukaran ide untuk menguji klaim-klaim yang dibuat pada masa kampanye, sehingga tidak ada tempat lagi bagi hoax ataupun hasutan kebencian. Pun, kita tidak akan mudah termakan oleh slogan-slogan bombastis yang dibawa para politisi (seperti “pilih orang baik” atau “pilih akal sehat”), karena semuanya sudah tersaring melalui proses berpikir kritis. Kita tak akan mudah percaya figur, karena prinsip sudah terlanjur ada dalam jati diri kita sebagai warga negara.

Sudahlah, pemilu ini hanyalah sebuah ajang biasa dalam demokrasi. Sebagai “pesta demokrasi”, lebih baik kita menyambutnya dengan gembira layaknya ajang mengadu gagasan. Tak ada gunanya berkelahi demi sebuah ajang 5-tahunan, apalagi hingga mengorbankan persatuan yang telah berdiri hampir 74 tahunan.

Apabila kita sampai kehilangan sahabat atau kerabat karena pemilu, jangan kaget apabila lima tahun dari sekarang kita menyesal. Peta akan berubah, tokoh yang kita hujat habis-habisan hari ini kelak berubah haluan, begitu pun sebaliknya.

Lantas, apa junjungan kita mau bertanggung jawab menyambung rantai silaturahim yang sudah kita putuskan?

Gak blas.

Milikilah prinsip. Jangan menjadi pengekor apalagi juru sorak politisi.
Bukan cebong atau kampret. Yuk jadi warga negara aktif yang rasional!.

Yuk Jadi Warga Negara Rasional!

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *