Akhirnya, tulisan tentang Surabaya Language Festival.

Pada segmen “Tinggal di Sydney”, saya pernah membuat tulisan mengenai Sydney Language Festival, sebuah ajang yang tanpa sengaja saya temukan di tengah istirahat akhir pekan. Tak disangka, acara tersebut membawa saya pada kesempatan menjadi relawan di Language Festival Association, serta mempertemukan saya dengan orang-orang hebat yang memiliki semangat besar untuk merayakan keberagaman.

Secara umum, Sydney Language Festival adalah sebuah acara berformat seminar. Pematerinya adalah sejumlah relawan yang mempresentasikan aspek sosio-kultural bahasa mereka. Mengingat betapa multikulturnya Sydney, bahasa yang terwakili pun beragam: mulai dari bahasa-bahasa populer seperti Spanyol, Rusia, Ibrani, hingga bahasa minoritas seperti bahasa-bahsa Aborigin. Kebetulan, saya pernah juga mewakili bahasa Indonesia dan Jawa di ajang ini.

Sydney Language Festival begitu meninggalkan kesan yang dalam bagi saya, hingga terpikir dalam benak untuk membawa konsep acara ini ke Indonesia. Mengapa tidak? Indonesia memiliki khazanah berbahasa yang lebih kaya ketimbang Australia, namun acara serupa belum pernah diadakan. Saya pun berjanji kepada Dmitry, Direktur Language Festival Association, bahwa suatu hari kelak akan menginisiasi Surabaya Language Festival. Entah kapan.

Gayung bersambut pada 2018. Rupanya ia tak butuh waktu lama. Belum genap setahun menjadi dosen di UPN Jatim, salah seorang mahasiswa bernama Jullyo memiliki rencana membuat komunitas apresiasi bahasa. Ia mengatakan bahwa komunitas bernama Lingua Franca itu akan diisi mahasiswa-mahasiswa Hubungan Internasional yang memiliki minat belajar bahasa asing.

“Banyak anak yang ‘salah jurusan’ karena mengira HI itu belajar bahasa, Mas,” katanya. Saya pun membenarkan. Banyak anak HI yang kaget saat menyadari bahwa jurusan mereka adalah turunan Ilmu Politik.

Pada peluncuran komunitas, saya pun tantang teman-teman mahasiswa untuk menggagas Surabaya Language Festival. Mereka pun menerima tantangan tersebut. Saya melaporkan rencana tersebut ke Dmitry dan syukurlah, Language Festival Association bersedia menjadi sponsor utama. Bahkan, ia sendiri menyanggupi untuk menjadi keynote speaker di edisi perdana Surabaya Language Festival. Sementara itu, Jullyo saya daulat untuk menjadi ketua acara.

Dmitry di Surabaya Language Festival 2018

Acara pada 4 Agustus 2018 itu berlangsung sukses. Bertempat di Meeting Room Gedung Siola, acara ini diisi oleh perwakilan bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Madura, dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Seperti di Sydney, para pembicara yang hadir adalah para relawan yang sedang berdomisili di Surabaya.

Surabaya Language Festival 2018 dapat dikatakan cukup sukses. Sejumlah 150 peserta dari berbagai kalangan yang ada di Surabaya begitu antusias menyimak konsep acara yang belum pernah ada ini. Kami pun bertekad untuk memperbaiki acara ini di tahun 2019.

Pada 2019, Lingua Franca Community pun mencoba mengulang kesuksesan acara tahun 2018. Awalnya, saya dan Dmitry berupaya mendaftarkan Surabaya dan Sydney Language Festival untuk menjadi penerima Australia-Indonesia Institute Grant. Apabila lolos, kedua Language Festival akan mendapat bantuan kira-kira AUD 10.000 (kira-kira Rp100.000.000). Sayangnya, keberuntungan belum berpihak kepada kami. Untunglah Dmitry tetap mau mensponsori acara kami meskipun tahun ini ia tak dapat datang ke Surabaya.

Sedikit perubahan kami lakukan pada 2019. Pertama, kami memfokuskan perhatian pada bahasa-bahasa daerah. Ini adalah masukan dari Dmitry. Menurutnya, semangat dari Language Festival adalah perayaan multikulturalisme. Oleh karena itu, baiknya ia dimulai dari merayakan budaya sekitar. Setelah satu bulan, terkumpul delapan perwakilan bahasa: Madura, Sunda, Bali, Selayar, Lamaholot, Jepang, Belanda, dan Bahasa Isyarat Indonesia.

Kedua, kami menggagas adanya sebuah deklarasi yang ditandatangani seluruh pembicara. Ide tentang deklarasi ini muncul untuk merespons beberapa kasus yang sempat mengguncang kerukunan masyarakat Surabaya, seperti bom pada Mei 2018 serta kasus penyerangan asrama Papua. Kami ingin menyuarakan bahwa kejadian-kejadian tersebut tidaklah melambangkan Surabaya yang selama ini dikenal berani, termasuk berani menjalin kerukunan.

Syukurlah, kedua gagasan itu membuat Surabaya Language Festival 2019 kian dikenal. Atas kinerja tim yang tak kenal lelah, kami sukses menggelar acara di Convention Hall Siola yang berkapasitas jauh lebih besar ketimbang venue tahun 2018. Tak hanya itu, kami pun sukses mengundang Konsulat Jenderal Jepang dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya untuk membuka acara.

Sebelumnya, jangankan terpikir untuk mengundang pejabat sekaliber mereka. Pada awalnya, kami berpikir bahwa Surabaya Language Festival sudah cukup bagus apabila dapat diadakan di dalam kampus!

Antusias pada sesi Bahasa Isyarat Indonesia
Daffa Izzulhaq, ketua panitia Surabaya Language Festival 2019.
Para penampil tari Aceh setelah membuka acara
Penandatanganan deklarasi
Sukses!

Acara ditutup sekitar pukul 16.30 dengan penandatanganan deklarasi yang berisi:

  • Memahami bahwa Surabaya merupakan cerminan dari Indonesia yang multikultural;
  • Menolak segala bentuk diskriminasi SARA;
  • Mendukung gerakan inklusivitas yang lebih menjangkau banyak kelompok masyarakat di Surabaya; dan
  • Mengakui bahwa apresiasi bahasa adalah salah satu media membangun komunitas yang toleran. 

Deklarasi tersebut rencananya akan diserahkan pada Pemerintah Kota Surabaya sebagai simbol bahwa Surabaya Language Festival turut berupaya menjadi mitra dalam mewujudkan kota yang multikultural.

Ada satu momen yang cukup menyentuh, yakni ketika Virgy, pemateri bahasa Lamaholot, mengungkapkan kebanggaannya saat mempresentasikan bahasa ibunya itu. Lamaholot adalah sebuah bahasa dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya di ujung timur pulau Flores. Ia berterima kasih pada acara ini karena telah memberikan kesempatan mengangkat identitas budayanya yang jarang diketahui khalayak.

Hal seperti itu tentu memotivasi kami. Tak disangka, acara yang secara konseptual begitu sederhana, rupanya dapat memiliki makna yang begitu dalam bagi mereka yang menjadi peserta. Saya pun sadar, mungkin kita terlalu lama lupa mengapresiasi keberagaman yang ada di sekitar kita. Padahal, apabila kita mau melihat lebih dekat, ada banyak hal-hal menarik yang mampu merekatkan kita sebagai manusia, termasuk bahasa.

Bersama tulisan ini, teriring salut saya kepada segenap panitia yang telah mewujudkan kesuksesan acara ini. Semoga Surabaya Language Festival akan tetap ada dan makin baik dari waktu ke waktu.

Surabaya Language Festival

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *