Beberapa hari yang lalu, saya menonton film yang sedang menjadi buah bibir belakangan: Joker.

Kalau kalian mengira bahwa tulisan ini adalah ulasan film, salah besar. Saya tidak punya kemampuan untuk mengulas film. Saya tidak begitu jeli mendeteksi plot hole, tak tahu apa-apa soal sinematografi, tak menaruh detail soal scoring, boro-boro bisa memberi ulasan. Kurang lebih, pendekatan saya terhadap film sama dengan pendekatan saya terhadap makanan: tak ada selera khusus, pokoknya saya puas setelah menikmatinya. Oleh karena itu, jarang sekali saya menonton film hanya karena mengikuti hype pasar.

Film ini menarik perhatian saya bukan karena saya adalah fan DC Universe. Hal yang menjadi magnet bagi saya adalah temanya yang, konon, mengangkat soal kesehatan mental dan bagaimana Joker menjadi sosok yang kita kenal pada akhirnya. Sebagai orang yang tidak mengikuti satu pun film Batman (kecuali beberapa parodi dari Fluxcup), satu-satunya hal yang saya tahu dari Joker adalah bahwa ia adalah musuh utama Batman yang bersifat sadis dan psikopatik. Tidak pernah saya ketahui bagaimana ia bisa ada di posisi itu, hal tersebutlah yang membuat saya tertarik menontonnya. Barangkali ia bisa membuat saya mengisi puzzle dari kisah DC Universe yang rumit, agar saya tak kudet-kudet amat.

Harus diakui, film ini, terutama dengan akting Joaquin Phoenix sebagai tokoh utama, begitu berkarakter. Ia dengan lihai menggambarkan bagaimana sosok Arthur Fleck, seorang komedian gagal dan seorang anak yang memiliki hubungan bermasalah dengan ibunya, secara bertahap jatuh ke dalam depresi yang mendalam. Hal ini diperparah pula dengan penyakit mental yang dideritanya, yakni skizofrenia, membuatnya memiliki kebiasaan tertawa tanpa kontrol.

Tanpa bermaksud meromantisasi Arthur Fleck yang memutuskan menjadi Joker, atau membenarkan adage “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”, film ini sejatinya menunjukkan bahwa masih banyak para pejuang kesehatan mental di luar sana yang terabaikan oleh sekitarnya. Film ini membawa kita pada sudut pandang yang begitu intens akan sosok Arthur Fleck, membuat kita begitu masuk ke dalam dunia seorang yang tengah berjuang akan kestabilan jiwanya. Tanpa cara yang eksplisit, film ini seolah dapat menggambarkan karakter Arthur Fleck sedang berteriak minta tolong agar diselamatkan dari kekangan masalah-masalahnya.

Terlepas dari segala pro dan kontra tentang film ini, ia telah mengangkat isu kesehatan mental yang agaknya masih penuh stigma. Di masyarakat kita, masih banyak yang mengidentikkan gangguan kesehatan mental dengan kegilaan.

Misalnya, saat saya sekolah dulu, Menur (nama sebuah RSJ di Surabaya) kerap menjadi olok-olok, terutama bagi kawan yang dinilai “aneh” seperti terlalu pendiam atau terlalu aktif. Pun, saya yakin tak sedikit yang merasa bahwa melakukan konsultasi ke psikiater adalah hal memalukan. Padahal, tanpa kita sadari, stigmatisasi semacam itulah yang membuat penyintas gangguan mental kian sulit mendapatkan bantuan profesional.

Kalau dipikir, kesehatan mental juga tak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita tak pernah memilih untuk mengalami depresi, sama halnya dengan kita tak pernah memilih untuk terkena influenza atau diabetes. Sebagaimana penyakit fisik, ia tak dapat serta merta sembuh dengan kekuatan sugesti; kita perlu mencari pertolongan kepada pihak profesional yang memahami bidang tersebut.

Mendiagnosis diri sendiri mungkin terdengar lebih nyaman, namun itu berbahaya karena membuat kita tak dapat mendeteksi gangguan secara akurat dan berpotensi menimbulkan pemikiran berlebihan. Maka dari itu, cukup kenali gejalanya dan berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater sesuai dengan kebutuhan.

Melalui tulisan ini, sebenarnya saya juga ingin come out. Jauh sebelum film Joker keluar, tepatnya pada 2017, saya didiagnosis menderita sindrom bipolar tipe II. Apa saya melakukan self-diagnose? Tidak, hasil itu saya dapatkan setelah tiga kali melakukan konsultasi dan evaluasi dengan psikiater. Sebelum punya keberanian untuk berkunjung ke psikiater, saya hanya mengetahui bahwa saya punya masalah dengan mengelola emosi akibat bullying yang saya dapat semasa kecil. Akhirnya, saya tumbuh sebagai orang yang lebih terbiasa memendam emosi, meskipun pada akhirnya itu berkontribusi pada kondisi stres dan depresi yang muncul di kemudian hari.

Bagaimana rasanya hidup dengan bipolar? Campur-campur. Ada kalanya saya bisa begitu penuh energi, sehingga dalam sehari bisa terlibat dalam berbagai kegiatan dari pagi hingga pagi berikutnya. Namun, ada kalanya juga saya akan mengalami burnout, mengurung diri di kamar, enggan menemui siapa pun, bahkan untuk sekadar mengambil air minum di meja belajar. Dalam sejumlah episode depresi, saya akan beberapa kali terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, hingga paginya saya akan butuh waktu berjam-jam untuk bisa “nyetel” dengan pekerjaan.

Jujur, setelah berbicara dengan psikiater, dan mulai terbuka tentang bagaimana saya berjuang mengelola kondisi mental, saya kini merasa lebih merdeka. Berkonsultasi dengan profesional memungkinkan saya dapat menyelesaikan gangguan ini dengan lebih akurat. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan saya beberapa obat yang terdiri dari penstabil mood dan pembantu tidur. Meskipun kadang saya perlu mengonsumsinya, paling tidak itu cukup membantu untuk lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Patut diketahui, memiliki gangguan mental bukan sesuatu yang keren. Masih banyak hal yang bisa dibanggakan ketimbang mengada-ada gangguan mental demi dianggap spesial. Di sisi lain, ia juga bukan sesuatu yang kita harus malu akannya. Seorang dengan gangguan mental tak kalah berfungsinya di masyarakat, bahkan bisa jadi lebih hebat dibandingkan mereka yang merasa tak punya gangguan.

Orang-orang seperti Jim Carrey, Pangeran Harry, Catherine Zeta-Jones, bahkan pria sekuat Dwayne “The Rock” Johnson pun rupanya sempat memiliki masalah dengan kesehatan mental. Namun, mereka telah membuktikan bahwa gangguan mental bukanlah halangan berkarya. Walau dalam skala yang jauh berbeda dari mereka, saya pun bangga masih sanggup belajar, mengajar, menulis, berorganisasi, mendapatkan beasiswa, bahkan berbicara di seminar nasional maupun internasional tanpa hambatan berarti.

Kini, saya tidak lagi takut terkungkung dalam stigma. Saya bersyukur karena telah menemukan jalan keluar yang tepat. Gangguan mental tidak mendefinisikan apa yang bisa dan tak bisa saya kerjakan.

Just because we have a little glitch in our brains, it does not mean that we can not function!

Tulisan ini saya buat menyambut Hari Kesehatan Mental yang dirayakan pada 10 Oktober silam. Walaupun terlambat, ini didedikasikan bagi kawan-kawan yang tengah berjuang di tengah pertempuran yang terjadi di dalam kepala masing-masing. Ingatlah bahwa kalian tidak sendirian dalam perjuangan ini. Berusahalah mencari bantuan kapan pun membutuhkan, karena mungkin kalian tak pernah tahu betapa berharganya jiwa kalian bagi mereka yang mencintai kalian.

It’s okay not to be okay and your struggle does not make you less of a person.

Bagi yang masih melakukan stigmatisasi, sudahkah kita membantu mereka yang tengah membutuhkan pertolongan? Atau kita justru menjauhkan mereka dari bantuan karena stigma-stigma yang kita buat?

Cukup Arthur Fleck saja menjadi pelajaran. Mari wujudkan masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan mental, tentunya dimulai dari diri sendiri.

Bukan Sebuah Review tentang Joker

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *