Belum lama ini, saya diajak rekaman oleh seorang kolega, Mas Julang Aryowiloto. Ia adalah dosen dari UIN Sunan Ampel yang kebetulan diperbantukan untuk menemani saya di kelas Politik Luar Negeri Indonesia. Sudah sebulan belakangan ini ia mengelola podcast berjudul “Dosen Juga Manusia” yang berkutat pada seluk-beluk dunia perdosenan, sekaligus meruntuhkan stigma dosen sebagai profesi yang serbakaku.

*kan sekarang eranya dosen sebagai teman berpikir, bukan sebagai pengganti buku diktat*

Di episode yang mengundang saya sebagai bintang tamu (atau dalam bahasa Mas Julang, “bala bantuan”) ini, kami membahas topik “Perhororan Dunia Dosen”. Kebetulan kami berdua adalah penggemar horor, jadi kami banyak nyambung untuk urusan ini. Namun, lebih spesifiknya, horor yang kami maksud adalah horor terkait profesi kami sebagai dosen.

Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa profesi dosen pasti tak jauh dari Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Walau begitu, barangkali tak banyak yang tahu apa yang terjadi di balik layar saat kami bertugas, termasuk “horor-horor” apa yang muncul terkait dengan profesi dosen.

Sebagai mahasiswa, kita dulu mungkin lebih banyak melihat dari sisi kita sendiri. Kita datang ke kelas, mendengarkan perkuliahan, diberi ujian, mendapatkan nilai, dan voila! Wisuda dengan gelar yang kita kejar susah payah. Jarang sekali kita masuk ke “dapur” dosen-dosen kita dan melihat suka-duka yang ada di sana.

Nah, sebelum mendengarkan podcast-nya secara langsung, saya mau kasih bocoran beberapa hal horor yang terkait dunia dosen:

Pertama dan mungkin paling penting adalah soal gaji. Bukan untuk mendemotivasi kawan-kawan yang ingin menjadi dosen, tapi kalau tujuan kalian bekerja adalah semata-mata demi cuan, silakan urungkan niat menjadi dosen. Memang sih, dosen bisa hidup sejahtera ketika ia sudah punya jabatan fungsional tinggi dan kepakarannya laku di sana-sini. Namun, bukan rahasia lagi kalau dosen muda, terutama di Indonesia, umumnya punya masalah dengan gaji kecil. Bahkan, ada guyonan bahwa dosen adalah singkatan dari penggawean sak-dos, bayaran sak sen (kerjaan satu dus, bayaran satu sen).

Soal gaji ini yang bikin para dosen muda agak ngenes saat reuni di 5 tahun pertama setelah lulus. Apalagi saat bertemu kawan-kawan yang masuk di sektor lain (misalnya sebagai MT, karyawan BUMN, atau pegiat start-up) dengan gaji dua-digitnya. Sementara itu, kita masih harus puas dengan gaji yang mepet UMR karena belum punya tunjangan ini-itu. Belum lagi kalau gajiannya agak terlambat karena satu dan lain hal, waduh!

Yah, tapi namanya juga sedang merintis karier. Profesor tidak lahir dalam semalam. Toh, setiap kerjaan punya tantangan masing-masing kan?

Kedua, yuk geser ke masalah perkuliahan. Kalau soal ini, horor bisa muncul dalam bentuk tugas yang tidak bisa dibaca. Ada dua kasus untuk poin ini, pertama adalah karena salah format, kedua karena tulisan mahasiswa tidak bisa dipahami. Kasus pertama sih mudah diselesaikan, cukup minta tolong mahasiswa mengirim ulang dengan format baru. Nah, yang horor adalah kasus kedua.

*background song: Dengarkan Curhatku – Vierra*

Saya pernah menjumpai sebuah tugas yang sama sekali tidak dilengkapi tanda baca.

Serius.

Saya lumayan sering menjumpai mahasiswa yang kesulitan memahami aturan kata depan dan awalan, huruf kapital, atau menulis referensi. Walau begitu, semuanya masih dalam batas wajar hingga satu tugas ini muncul.

Jadi, si mahasiswa ini benar-benar menulis tanpa jeda mulai dari kata pertama hingga kata terakhir. Entah apa yang ̶m̶e̶r̶a̶s̶u̶k̶i̶n̶y̶a̶ membuatnya kesulitan untuk sekadar membubuhkan tanda baca, namun itu adalah pengalaman mengoreksi tugas ter-horor untuk saya.

Ada yang mengatakan, berprofesi sebagai dosen berarti harus siap menerima karma kita selama mahasiswa. Bisa jadi inilah karma saya. Barangkali dulu saya suka nggedabrus dan bertele-tele saat menulis esai, hingga dosen saya berpikir, “Bimo iki ngomong opo seh!” dan akhirnya melempar esai saya ke kardus bekas Indomie, bersama tumpukan esai mahasiswa lainnya.

I love you all, my dear lecturers. Now I understand your struggle.

Ketiga, hal horor lain saat memutuskan jadi dosen adalah ketika banyak orang asal bunyi tentang hal yang bukan bidang mereka. Bukan mau sok pintar, namun setiap dosen pasti merasakan lelahnya menempuh pendidikan sampai S2 dan S3 untuk sekadar boleh berceramah di depan kelas. Setiap minggunya pun, dosen akan belajar materi kuliah untuk menjamin bahwa konten perkuliahan mutakhir dan tidak melenceng. Begitu pula soal penelitian. Dosen juga selalu dihantui tuntutan untuk melakukan publikasi ilmiah, meskipun kami tahu bahwa penelitian bukan hal yang mudah.

Intinya: kami tahu bahwa kami bodoh, sehingga kami tak akan sembarangan bicara di hal-hal yang bukan bidang kami.

Oleh karena itu, tak ada yang lebih mengerikan bagi dosen ketimbang melihat seseorang membahas sesuatu yang bukan bidangnya dari sudut pandang ngawur. Terlebih kalau orang itu adalah sosok yang populer, memiliki puluhan ribu pengikut di media sosial, misalnya.

Bayangkan, untuk menjelaskan integrasi Uni Eropa dengan sistematis saja dosen HI harus belajar sistem negara, teori-teori regionalisme, konsep organisasi internasional, sampai sejarah diplomasi Eropa. Eh ndilalah ada seorang figur publik yang menyamakan Uni Eropa dengan Khilafah.

Atau ada dokter yang harus belajar selama tujuh tahun mulai dari pendidikan sarjana, profesi, koas, sampai akhirnya boleh buka praktik sendiri. Lahdalah, tiba-tiba ada pengobat alternatif yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit lewat berdialog dengan jin, laris pula.

Sakitnya tuh di sini.

Beberapa minggu lalu, Twitter Indonesia digegerkan dengan seorang politisi yang memelintir sejumlah penelitian tentang komunitas LGBT. Ia kebetulan memiliki posisi anti LGBT yang amat kuat. Untuk menjustifikasi posisi tersebut, ia menyeret sejumlah penelitian untuk membenarkan narasinya bahwa LGBT adalah pengidap gangguan jiwa, sehingga keberadaan mereka harus ditolak.

Padahal, jurnal-jurnal yang ia catut malah menunjukkan hal cukup berlawanan. Para penulis artikel justru berpesan bahwa diskriminasi terhadap LGBT akan membuat mereka kian rentan akan gangguan fisik maupun psikis. Hal seperti ini jelas masuk ke dalam salah satu contoh kesalahan logika, yakni strawman atau memelintir argumen lawan. Pelintiran politisi tersebut terkuak setelah Ravio Patra, seorang kawan yang juga berprofesi sebagai peneliti, menghubungi para penulis artikel jurnal itu satu per satu melalui Twitter. Dari sana, diketahuilah bahwa temuan-temuan mereka telah disalahtafsirkan oleh si politisi. Dhuar.

Orang bisa berdiskusi panjang soal pro-kontra LGBT. Namun, tentu saja memelintir hasil penelitian orang bukanlah hal yang dapat dibenarkan. Toh, sekiranya kita meyakini bahwa kaum LGBT berdosa, cukuplah terima hal tersebut sebagai salah satu aturan agama. Jangan sampai kita melakukan cocoklogi, apalagi sampai membuat para peneliti repot-repot turun gunung untuk membantahnya. Lagipula, siapa sih yang tidak punya dosa?

Ngomong-ngomong, di podcast ini, saya dan Mas Julang tak hanya bercerita tentang pengalaman “horor” seputar profesi dosen, tapi juga pengalaman horor pribadi dan hiburan bergenre horor favorit saya.

Untuk mendengarkan podcast-nya secara lengkap, silakan klik tautan di bawah:

Perhororan Dunia Dosen

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *