Untuk beberapa postingan ke depan, saya akan berbagi sedikit tentang perjalanan saya ke India pada 26 Januari hingga 5 Februari silam.

Pada rentang waktu tersebut, saya berkesempatan sowan ke Delhi untuk mengikuti Kautilya Fellows Programme yang diadakan oleh India Foundation dan Kementerian Luar Negeri India. Acara ini berisi dua lokakarya, yakni tentang Kebijakan Luar Negeri dan Kebijakan Publik.

Adalah senior saya di SMA, Mbak Shaffira, yang suatu hari datang dengan info mengenai acara ini. Dengan prinsip iseng-iseng berhadiah, saya pun mendaftarkan diri. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu, tak disangka saya lolos menjadi peserta.

Namun, persiapan saya menuju acara ini bukan tanpa drama. Saya memang lolos sebagai peserta, namun saya tidak lolos skema beasiswa yang mereka berikan untuk sebagian peserta. Walhasil, saya harus mondar-mandir mencari sponsor agar keberangkatan saya dapat didanai. Pertama-tama, tentu saya mengajukan proposal ke kampus tempat saya mengajar. Sayangnya, pengajuan dana ini ditolak oleh kampus, karena selain pos anggaran tidak tersedia, kegiatan ini dianggap “tidak memiliki kontribusi konkret terhadap lembaga” (meskipun ini adalah lokakarya pengembangan diri sebagai dosen Hubungan Internasional).

Saya juga menghubungi paguyuban alumni UGM mulai dari Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), Keluarga Alumni FISIPOL Gadjah Mada (KAFISPOLGAMA), hingga Keluarga Alumni Hubungan Internasional Gadjah Mada (KAHIGAMA), berharap ada satu-dua nama yang nyantol sebagai donatur. Sayangnya, belum ada yang menyanggupi. Di samping itu, saya juga menyebar belasan proposal ke perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional. Kalau dihitung, mungkin saya sudah habis satu juta hanya untuk biaya cetak dan kirim proposal.

Akhirnya, usaha pun membuahkan hasil, dari semua proposal yang saya sebar, dua mendapatkan respons, yakni dari Yayasan Astra dan dari Pertamina. Nominal dari keduanya pun cukup untuk mengganti biaya pendaftaran yang sudah saya keluarkan dari tabungan. Jadilah saya berangkat ke India dengan tenang.

Rupanya, kabar baik tidak berhenti di sana. Menjelang keberangkatan, saya mendapat kabar bahwa seorang senior HI UGM yang sekarang menjadi dosen di Universitas Islam Indonesia (UII), Mas Hadza, juga ikut terpilih menjadi peserta Kautilya Fellows Programme. Syukurlah, itu berarti saya tidak akan sendirian. Kalau dipikir-pikir, agak canggung juga semisal tidak ada teman di tempat yang benar-benar baru.

Drama sudah selesai? Belum. Hal yang kemudian harus saya (dan kali ini dengan Mas Hadza) adalah mengenai visa. Karena kami datang untuk konferensi, maka kami harus mendaftar conference visa. Memang, warga Indonesia tidak perlu membayar biaya apa pun untuk bisa mendapatkan visa India. Proses pendaftarannya pun amat mudah, hanya mengisi formulir lewat link ini. Namun, conference visa memerlukan sebuah surat bernama Political Clearance dari Kementerian Luar Negeri India untuk menyatakan bahwa acara yang diselenggarakan, beserta para calon pesertanya, tidak memiliki catatan bermasalah.

Political Clearance ini adalah surat yang amat penting. Tanpanya, kami tak bisa melanjutkan pendaftaran conference visa. Yang bikin deg-degan adalah hingga H-7 keberangkatan, surat ini tak kunjung turun. Padahal, menurut penelusuran kami, visa India bisa memakan waktu 3 hari kerja untuk diproses. Saya dan Mas Hadza pun bergantian membombardir email panitia untuk memastikan kapan surat tersebut bisa turun.

Karena saat itu panitia belum bisa memastikan, mereka pun sempat menyarankan kami untuk mendaftar tourist visa alias visa biasa. Kami menolak, karena tidak mau ambil risiko. Sebelumnya pun kami telah menghubungi Kedutaan Besar India di Jakarta dan mereka pun melarang kami untuk datang menggunakan tourist visa.

Setelah balas-berbalas email dengan panitia, Political Clearance kami pun turun. Pada hari yang sama pula, kami mengumpulkan pendaftaran conference visa disertai memberikan notifikasi ke panitia tentang nomor pendaftaran kami, dengan harapan panitia dapat membantu proses visa tersebut.

Surat Political Clearance

Dalam waktu 2 hari, visa kami pun turun. Setelah itu, saya pun langsung bergegas mengurus surat izin tidak masuk kerja karena perkuliahan sudah mulai, sementara saya harus meninggalkan kampus selama kurang lebih satu setengah minggu.

Saya bersyukur karena semua drama persiapan ini menemui happy ending. Perjalanan akademik ke India tak pernah terbayangkan di benak saya sebelumnya, tapi tentu saja akan banyak hal baru yang akan didapat. Selama kurang lebih 10 hari, ada pelajaran-pelajaran berharga yang rupanya akan saya bawa pulang.

Delhi Trip (1): Kautilya Fellows Programme

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *