Mayoritas yang pernah mengenyam IPS tingkat SD tentu tahu bahwa ibu kota India adalah New Delhi.

Nah, kalau begitu, apakah ada Old Delhi? Ada.

New Delhi sendiri adalah satu distrik kecil di dalam wilayah Delhi yang berstatus Union Territory. Pada kasus ini, dapat kita anggap bahwa Delhi adalah DKI Jakarta, sementara New Delhi adalah Jakarta Pusat-nya. Wilayah New Delhi hanya sekitar 42 kilometer persegi, amat kecil dibandingkan dengan Delhi yang memiliki luas 1484 kilometer persegi.

Sementara itu, tempat yang kita kini kenal sebagai Old Delhi adalah sebuah kawasan kota tua di utara New Delhi. Dahulu, kawasan ini bernama Shahjahanabad, diambil dari nama Shah Jahan, penguasa Kekaisaran Mughal yang sempat menguasai India sebelum Britania Raya datang dan mendirikan British Raj sebagai cikal bakal India.

Shah Jahan itu lho…yang bikin Taj Mahal juga.

Oke, lanjut ya.

Old Delhi ini dulunya adalah ibu kota Kekaisaran Mughal setelah pindah dari Agra. Itulah mengapa kalau kalian datang kemari, banyak sekali bangunan-bangunan berarsitektur Mughal yang eksotis. Di sini pula, terdapat Masjid Jama yang merupakan salah satu masjid terbesar di India. Di sekitarnya, terdapat pula lapak-lapak makanan halal karena banyak warganya merupakan penganut Islam.

Daya tarik itulah yang kemudian membuat saya dan Mas Hadza untuk berkunjung ke Old Delhi pada hari pertama kami tiba di India. Kami sampai di hotel pada 25 Januari pukul 10 malam dan langsung memutuskan: kami akan ke Old Delhi keesokan harinya untuk salat di Masjid Jama.

Kebetulan, 26 Januari adalah Hari Republik di India. Hari tersebut merayakan berlakunya konstitusi Republik India, menggantikan Government of India Act 1935 yang diterapkan oleh Britania Raya. Hari Republik diperingati sebagai hari libur nasional, sehingga banyak toko tutup dan sebagian jalan digunakan untuk parade. Bisa kita bandingkan dengan suasana 17 Agustus di Indonesia, lah. Dengan hari libur itu, kami pun berpikir bahwa Old Delhi pun (harusnya) tidak akan terlalu ramai.

Kami berangkat ke Old Delhi menggunakan auto rickshaw (kita lebih mengenalnya dengan istilah bajaj) yang terkoneksi dengan layanan Uber. Ya, di India, bajaj sudah menjadi salah satu layanan Uber. Unik kan?

Sedikit saran bagi teman-teman yang pertama kali ke India, pasanglah Uber karena ia adalah teman. Di tengah kondisi kota yang tak terduga (baca: semrawut), Uber sangat membantu karena membuat kita dapat pergi ke banyak tempat dengan harga terjangkau. Lebih penting lagi, menggunakan Uber memungkinkan kita untuk menentukan tujuan tanpa harus repot mengalami miskomunikasi dengan sang pengemudi. Meskipun bahasa Inggris adalah salah satu lingua franca di India, masih banyak orang yang tidak dapat berbahasa Inggris dengan lancar. Yang tak kalah penting tentu masalah harga. Perjalanan dengan Uber akan dikenai tarif yang pasti, tidak perlu khawatir dinakali oleh pengemudi yang coba mengambil untung dari turis.

Kembali lagi ke perjalanan. Sebelum ke Old Delhi, kami iseng-iseng berhenti dulu di Connaught Place (pusat perbelanjaan di New Delhi) untuk melihat-lihat toko mana saja yang masih buka. Kami coba mencari toko buku yang masih buka, namun ternyata banyak yang tutup kecuali satu, yakni Oxford Bookstore. Setelah melihat-lihat sejenak di Oxford, kami memutuskan menunda agenda belanja buku dan bergegas pergi ke Jama Masjid.

Tak disangka, di hari pertama inilah kami mengalami culture shock sebagai turis. Saat tengah mencegat bajaj ke Old Delhi, tepatnya di Central Park, kami berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang mendadak menyematkan pin berbendera India di baju kami. Tanpa sempat bertanya, ia mengenalkan diri sebagai guru yang sedang merayakan Hari Republik dengan menggalang sumbangan.

Well, kami tahu bahwa dia sebenarnya hanya minta uang.

Kami memberinya 10 rupee (2.000 rupiah) dan ia menolak. Ia hanya mau 50 rupee (10.000 rupiah) sebagai nominal “sumbangan” minimal.

Saran saya, kalau jalan-jalan di pusat keramaian Delhi, mending pasang muka cuek dan pakai kacamata hitam. Jangan pedulikan orang-orang yang memanggili kita atau menawarkan barang tertentu. Tidak ada salahnya menyimpan ponsel dan dompet di tas selempang yang selalu kita letakkan di bagian depan badan, ketimbang mengalami risiko kecopetan. Syukurlah kami tidak mengalami kecopetan selama di Delhi, hanya pengalaman satu ini saja yang kemudian membuat kami harus ekstrawaspada saat ada di keramaian.

Dari Central Park yang amat ramai itu, kami amat lega bisa mendapatkan auto untuk melanjutkan perjalanan ke Jama Masjid. Perjalanan kurang lebih memakan waktu 15 menit. Perlahan, suasana New Delhi yang modern pun bergeser ke suasana Old Delhi yang rupanya jauh lebih padat dan tidak tertata rapi.

Kami betul-betul kaget melihat kondisi Old Delhi yang rupanya amat njomplang dari New Delhi. Kawasan ini penuh dengan pejalan kaki, jalanan sempit, kendaraan yang membunyikan klakson setiap 2-3 detik sekali, serta kabel-kabel listrik yang bergelantungan secara mengkhawatirkan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya (jangan sampai) ada korsleting listrik di kawasan ini. Jujur, siapkan mental untuk mengunjungi kawasan ini, terutama apabila kalian belum pernah berkunjung ke India sebelumnya.

Saya tidak sempat mengambil foto di jalanan Old Delhi karena sibuk mengamankan ponsel. Gambar ini adalah ilustrasi Old Delhi yang saya ambil dari sini.

Old Delhi sebenarnya adalah surga bagi penggemar pasar tradisional dan kuliner khas Mughal. Di sini, kalian bisa menjumpai banyak barang seperti pakaian tradisional India, rempah-rempah seperti teh atau bumbu masak, hingga jajanan pinggir jalan yang menarik. Sayangnya, keistimewaan tersebut harus tertutupi dengan kondisi yang amat kacau dan membuat pengunjungnya harus memecah konsentrasi antara berbelanja atau mengamankan barang pribadi.

Kawasan yang lazim menjadi tujuan turis adalah Chandni Chowk, sebuah jalan yang penuh dengan deretan toko-toko. Chowk adalah istilah yang kerap kalian temui saat berjalan-jalan di Delhi. Kata tersebut bisa berarti pasar atau persimpangan jalan. Di sekitarannya, tak hanya ada Jama Masjid. Ada pula tempat ibadah lain seperti Gauri Shankar Mandir (Hindu), Gurudwara Sis Ganj Sahib Ji (Sikh), dan Shri Digambar (Jain). Baik Hindu, Sikh, maupun Jain adalah agama-agama yang lahir di India. Selain itu, ada juga Buddha yang juga lahir di negeri ini.

Setelah menembus kemacetan, sampailah kami di Jama Masjid. Begitu sampai, kami disuguhi pemandangan lain yakni adanya sekumpulan warga yang melakukan protes atas penerapan Citizenship Amendment Act yang dianggap mendiskriminasi imigran Muslim. Lebih lengkapnya baca di sini.

Sejumlah demonstran menduduki Jama Masjid untuk menolak Citizenship Amendment Act
Pintu masuk ke area salat Jama Masjid

Jama Masjid ini terbuka untuk umum, sehingga fungsinya bisa dikatakan ganda: tempat ibadah dan tempat wisata. Di pintu masuk, kita akan menemukan beberapa petugas yang menarik biaya masuk. Seringkali, petugas tersebut akan langsung menagih uang, karena mereka tak dapat membedakan mana yang ingin salat dan mana yang ingin sekadar berkunjung. Untuk itu, begitu sampai di hadapan petugas, lebih baik kalian langsung bilang “namaz…namaz…” (salat, salat) untuk mengindikasikan bahwa kalian hanya berniat numpang salat. Saat itu, kami langsung diperbolehkan masuk tanpa membayar sepeser pun.

Tips penting lain saat ingin salat di Jama Masjid: BERWUDULAH DI HOTEL TERLEBIH DAHULU.

I have warned you.

Tidak seperti rata-rata masjid di Indonesia, Jama Masjid tidak memiliki tempat wudu dengan keran air mengalir. Alih-alih, para jamaah mengambil wudu di sebuah kolam besar yang ada di halaman masjid. Masalahnya, air di kolam ini tidak mengalir. Kita tidak bisa memastikan bahwa air di sana bersih, apalagi ketika kita harus berbagi air dengan ratusan, atau mungkin ribuan, jamaah yang salat pada hari itu.

Saya dan Mas Hadza menyaksikan sendiri bahwa jamaah melakukan hal-hal selain wudu di kolam ini. Ada yang menggosok gigi (dengan jarinya) di sela-sela wudu, ada pula yang memasukkan kakinya ke dalam kolam. Di beberapa sudut kolam pun kami lihat air nampak berbusa. Gusti paringono sabar.

Kami akhirnya berwudu seminimalis mungkin, dengan men-skip bagian kumur dan memasukkan air ke hidung. Doa berwudu pun kami tandemkan dengan doa agar terhindar dari gatal-gatal.

Mungkin kolam sebagai tempat wudu satu-satunya itu bisa dimaklumi pada masa-masa Kekaisaran Mughal, ketika warga belum sebanyak sekarang sehingga kebersihan air masih bisa dijamin. Namun, kalau masih harus menggunakan tempat seperti itu untuk melayani ribuan jamaah kok ya rasanya gimana gitu…

Jama Masjid, terlepas dari tempat wudunya, merupakan bangunan yang amat megah dengan arsitektur khas Mughal. Selain memiliki ruang salat yang cukup besar, masjid ini memiliki halaman yang kira-kira cukup untuk menampung 25.000 jamaah. Bangunan ini terdiri dari sandstone (batupasir) dan marmer yang menimbulkan kesan kokoh bagi masjid yang telah berdiri sekitar 354 tahun lalu ini.

No, Bowo, you cannot do it here.

Selama kami salat, sepatu kami dijaga oleh beberapa petugas yang ada di dalam masjid. Selain bertugas menjaga sepatu, mereka juga ada untuk menghalau turis-turis tidak berkepentingan agar tak masuk ke area salat.

Setelah kami salat, seorang dari mereka masih membuntuti kami. Entah apa yang ia inginkan. Ia tak tahu bahasa Inggris dan kami tak mampu berbicara bahasa Hindi, jadi kami tak memahami satu sama lain. Menerka-nerka sedikit, rupanya ia meminta tip setelah menjaga sepatu kami, ealah. Kami lalu memberinya 10 rupee dan dia pun ngacir begitu saja.

Di luar Jama Masjid, terdapat area bernama Urdu Bazaar. Di sini kita bisa membeli berbagai makanan halal seperti biryani ayam dan kerbau (memakan daging sapi dianggap tabu di India) dengan harga terjangkau. Saya dan Mas Hadza pada awalnya ingin mencoba makan biryani di sana, tapi kejadian-kejadian luar biasa di hari itu pun membuat kami merasa cukup dengan menyeruput masala chai di sebuah warung kecil di depan masjid.

Setelah masala chai itu habis, hanya satu yang ada di benak kami: mandi.

Lebih baik simpan agenda makan biryani di hari lain. Kami tidak bisa melanjutkan jalan-jalan kalau terbayang air wudu kami adalah bekas untuk sikat gigi orang lain.

Delhi Trip (2): Mampir ke Old Delhi

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *