Begitu memastikan keberangkatan ke Delhi, saya dan Mas Hadza langsung terpikir pada satu hal, yakni membeli buku-buku di sana. Namanya juga dosen, berburu buku adalah hal yang pantang dilewatkan. Apalagi kami belajar Hubungan Internasional, sehingga kami amat penasaran dengan kondisi sosial-politik India. Selain itu, Delhi terkenal dengan buku-buku murah berkualitas.

Harga buku di India relatif lebih murah dibandingkan Indonesia, karena banyak penerbit internasional yang memiliki cabang di sana. Hal ini kemudian membuat tak ada biaya distribusi yang mempermahal buku. Sementara itu, di Indonesia, kalau kita berbelanja di toko buku internasional seperti Periplus atau Kinokuniya, buku-buku yang ada di sana merupakan impor dari negara produksi utama seperti Britania Raya atau Amerika Serikat. Wajarlah kalau harga buku bisa berlipat ganda.

Dalam kurang lebih 11 hari kami di India, berkunjung ke toko buku adalah ritual harian. Pada hari pertama saja, kami langsung ke Connaught Place untuk mencari toko buku yang buka pada saat Republic Day. Setelah itu, malam-malam kami pasti dihabiskan dengan kalap di toko buku.

Sumpah deh, Kautilya Fellows Programme membuat kami kalap. Bagaimana tidak, setiap hari, kami mendapatkan asupan seminar-seminar menarik dari para pakar politik India. Sepulang dari sesi, pasti kami tertarik untuk membeli buku mengenai topik yang dibahas.

Kalau boleh dirangkum, beginilah hari-hari kami selama di Delhi:

*ndengerin seminar, kagum sama pembicara dan topiknya”

“Wah, materinya seru nih. Cari bukunya yuk nanti malam habis acara!”

“Yuk”

*beli buku banyak*

“Kayaknya cukup deh, besok nggak belanja lagi deh.”

*besoknya dateng seminar lagi*

*ulangi dari awal*

Selama di Delhi, saya memborong 17 judul buku. Seharusnya bisa lebih kalau saya mendadak tidak teringat bahwa koper sudah overload. Mas Hadza lebih sangar lagi, ia memborong sekitar 25 judul buku yang sebagian dikirim melalui kargo. Kebetulan ia adalah dosen pengampu mata kuliah Asia Selatan, sehingga sudah barang tentu ia harus banyak-banyak mengonsumsi buku tentang India.

Melalui tulisan ini, saya mau berbagi lokasi-lokasi toko buku yang kami kunjungi selama di India. Siapa tahu kalian berkesempatan untuk datang ke sana juga, sehingga tahu harus ke mana semisal ingin mencari buku yang bagus tentang India:

1. Oxford Bookstore

Sumber

Lokasi: N 81, Block N, Connaught Place

Oxford Bookstore adalah toko buku pertama yang kami kunjungi, karena ia adalah satu-satunya yang masih buka pada Republic Day. Seperti namanya, ia menjual buku-buku terbitan Oxford sebagai produk utama, namun tak berarti koleksinya terbatas di sana. Toko ini terletak di Connaught Place yang merupakan pusat perbelanjaan terkenal di New Delhi.

Toko buku ini milik penerbit besar, sehingga fasilitasnya pun lebih canggih dibanding toko-toko buku milik keluarga. Mungkin setara dengan Gramedia atau Periplus. Di dalamnya ada kafe yang memungkinkan kita ngopi atau ngeteh sembari baca-baca buku. Oh iya, selain buku, tempat ini menjual pula beberapa suvenir seperti masala chai.

Sayangnya, saya tidak membeli apa-apa di Oxford selain beberapa kotak teh. Kunjungan kami ke Oxford sebenarnya sebatas testing the water, hanya untuk melihat-lihat suasana dan membandingkan harga dengan toko buku lainnya. Karena sekilas memang terlihat bahwa Oxford Bookstore ini toko buku “mahal” kalau dibandingkan dengan lainnya.

2. Bahrisons Booksellers

Sumber

Lokasi 1: 254, Press Enclave Marg, Saket District Centre, District Centre, Sector 6, Malviya Nagar

Lokasi 2: Opp Main Gate, Khan Market

Bahrisons bukan toko buku pertama yang kami kunjungi di Delhi. Namun, ia adalah toko buku pertama yang kami kepo sedari masih di Indonesia. Ini karena ia memiliki situs yang memuat katalog koleksi buku, memungkinkan kami untuk melihat-lihat seperti apa buku yang tersedia di sana.

Di Delhi, ada dua lokasi yakni di Saket District Centre, kawasan perbelanjaan di Delhi Selatan, serta di Khan Market, sebuah kompleks pasar yang ada di pusat kota New Delhi. Waktu itu, kami mengunjungi yang di Saket sebagai cabang Bahrisons pertama untuk didatangi. Bahrisons Saket tutup pukul 9.30 malam sementara yang di Khan Market tutup pukul 7 malam. India sangat menghargai jam kerja, sehingga cukup jarang toko yang buka sampai larut malam. Berhubung seminar kami berlangsung sampai pukul 6 sore, kami tentu akan kurang leluasa misal harus berbelanja di Khan Market.

Bahrisons Booksellers adalah toko buku keluarga yang sudah ada sejak 1953. Awalnya, ini adalah bisnis dari keluarga klan Bahri yang dulu mengungsi ke India setelah India mengalami partisi pada 1947. Kini, bisnis toko buku yang digalangnya berkembang pesat dan menjadi salah satu lapak buku legendaris di seantero Delhi.

3. Amrit Book Co.

Saya dan Mas Hadza bersama Mr. Prem Sharma

Lokasi: N 21, Outer Circle, Connaught Place

Kalau boleh memilih mana toko buku paling berkesan bagi kami, tentu saja Amrit Book Co. jawabannya. Tidak hanya berlokasi strategis dan punya koleksi lengkap, toko buku ini punya suasana nyaman yang bagi kami tak dapat digantikan oleh banyak tempat lain.

Kenyamanan toko buku yang berdiri sejak 1936 ini ada pada keramahan dan pengetahuan stafnya yang amat luas tentang bebukuan. Amrit Book Co. adalah toko buku keluarga yang didirikan oleh Amrit Dhar dan kini diteruskan oleh anaknya, Prem Sharma beserta cucu-cucunya yang bernama Puneet dan Sumit. Sepanjang kami berbelanja di sana, mereka dengan sigap membantu mana saja buku yang kami inginkan. Hanya dengan memberikan deksripsi, Puneet dan Sumit siap kembali dengan beberapa judul buku di tangan, mempersilakan kita memilih yang terbaik.

Oh iya, Amrit Book Co. juga sangat membantu apabila kita ingin membeli buku secara jarak jauh. Kita bisa memesan buku dari Indonesia menggunakan kargo yang dikirim dari India. Cukup kirim email ke amritbookco@hotmail.co berisi judul buku yang kita inginkan plus alamat kita, nanti mereka akan memberikan info tentang pengiriman. Untuk fasilitas kargo, mereka mematok harga cukup terjangkau, yakni 550 rupee (105.000 rupiah) per kilogram buku.

Suasana belanja di Amrit Book Co. ini begitu hangat, karena tak jarang kami berdialog dengan Prem Sherma-ji, Puneet, maupun Sumit mengenai topik-topik terkini politik India dan buku yang membahasnya. Mereka pun begitu antusias saat mengetahui bahwa kami adalah dosen Hubungan Internasional dari Indonesia.

4. Jacksons Book

Sumber

Lokasi: 5106, Main Bazar Rd, next to medikos opticians, Bharat Nagar, Paharganj

Kalau tiga toko buku sebelumnya adalah toko-toko yang relatif “besar”, maka Jacksons Books adalah toko buku kecil yang menjual buku-buku bekas dan KW. Toko ini berlokasi di Paharganj, sebuah kawasan turis yang banyak dipenuhi pertokoan dan restoran. Lokasinya agak terselubung di tengah hiruk-pikuk Delhi, diapit oleh dua tempat ibadah: masjid dan sinagog.

Meskipun toko buku ini kecil dan menjual buku-buku berkualitas lapis dua dibanding Oxford, Bahrisons, atau Amrit, bukan berarti pengalaman belanja di Jacksons Books kalah begitu saja. Di sini, kalian tetap bisa menemukan buku-buku menarik mulai dari hiburan ringan, sastra, politik, hingga buku-buku tentang yoga dan ilmu spiritualisme Hindu. Selain itu, ada juga novel dari berbagai bahasa, mulai dari Inggris hingga bahasa-bahasa yang tidak kalian duga akan ada di toko buku kecil Delhi seperti Norwegia dan Ibrani. Banyak dari koleksi tersebut diberikan oleh turis yang kebetulan mampir ke Paharganj, termasuk turis-turis Israel yang kemudian menyumbang buku berbahasa Ibrani tadi.

Jangan terkecoh dengan tampilan toko yang sederhana, karena mutiara tersembunyi justru ada pada gudang yang terletak di dalam gang yang ada di samping toko. Di situlah koleksi-koleksi buku yang lebih lengkap disimpan. Pemilik sekaligus penjaga toko buku ini adalah Mr. Deepak, yang meneruskan usaha dari ayahnya yang bernama Mr. Jai Kishen. Karena nama Jai Kishen sulit dilafalkan lidah asing, nama beliau pun dilafalkan sebagai Jackson. Itulah cikal bakal nama Jacksons Books yang masih berdiri dengan segala kesahajaannya di sudut kecil kota Delhi, menyajikan ilmu bagi pelancong yang melintas.

Delhi bisa dikatakan surganya pembaca. Di samping toko-toko buku seperti empat tempat yang telah kami kunjungi itu, banyak juga yang menjajakan buku dengan cara lain. Di sepanjang jalanan utama Delhi, kita akan sering menjumpai pelapak menjajakan buku-buku bestseller internasional seperti Norwegian Wood karya Haruki Murakami atau Becoming karya Michelle Obama. Di samping itu, ada juga yang menjual buku dengan cara mengasong sebagaimana penjaja tahu sumedang atau kacang di Indonesia. Menarik!

Sampai-sampai, ada ungkapan bahwa seseorang belum paripurna menjadi seorang penulis laris kalau bukunya belum dijual di jalanan Delhi.

Namun, tentu saja ada harga ada kualitas. Kita bisa saja membeli buku dari pedagang-pedagang jalanan tersebut dengan harga miring, tapi banyak buku yang dijual bukan versi asli alias versi KW. Untuk lebih amannya, kalian bisa berkunjung ke toko-toko buku yang telah saya tuliskan di atas.

Kalaupun kalian berkesempatan berkunjung ke salah satunya, jangan lupa sampaikan salam saya ke mereka.

Delhi Trip (3): Toko-Toko Buku

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *