Pagi itu aplikasi cuaca menunjukkan suhu 8 derajat Celsius. Dengan masih berbalut sarung, saya coba memecah musim dingin Delhi dengan sarapan berupa telur rebus dan roti poori. Sayup-sayup, dari televisi yang tergantung di ruang makan, terdengar berita berbahasa Hindi dengan running text beraksara Devanagari yang sama sekali tak saya pahami. Namun, hanya dengan melihat apa yang terjadi di layar televisi, sepertinya saya bisa menyimpulkan bahwa sebuah informasi penting telah terjadi.

Benar saja. Berita hari itu mengatakan bahwa virus Covid-19 atau corona telah masuk ke India. Kasus pertama terjadi di Kerala, wilayah yang sebetulnya cukup jauh dari Delhi. Walau begitu, masuknya corona ke India lalu mematahkan anggapan bahwa negara tersebut masih steril dari corona. Apalagi, ketika ada klaim jika rempah-rempah bisa menolak virus macam corona. Soal makanan berempah-rempah, India tentu saja salah satu jagoannya. Toh, pada akhirnya, virus tersebut tetap bisa menembus India.

Sepanjang acara lokakarya saya di Delhi berlangsung, saya berharap-harap cemas agar virus corona tak meluas ke Delhi. Sudah bukan rahasia bahwa India merupakan negara dengan kepadatan penduduk yang amat tinggi, apalagi di wilayah terkonsentrasi seperti Delhi. Amat tidak lucu kalau para peserta Kautilya Fellows Programme tak hanya membawa sertifikat dan oleh-oleh, namun juga sebuah virus.

Sepulang dari India, saya sempat transit di Singapura. Negeri ini telah lebih dahulu mengumumkan kasus corona-nya, sehingga sejumlah persiapan pun telah dilakukan. Misalnya, sesampainya saya di Changi untuk pindah pesawat, ada petugas mengukur suhu badan saya dengan sebuah alat menyerupai pemindai barcode. Dari kejauhan, terlihat pula sejumlah turis menggunakan masker bedah sebagai antisipasi dari kondisi udara yang sedang rawan. Sesampainya di Surabaya, saya diberikan selembar formulir berwarna kuning yang bisa digunakan sebagai tiket pemeriksaan seandainya dalam waktu 14 hari saya mengalami gejala tertentu. Untunglah, hingga kini saya sehat, dan semoga senantiasa demikian.

Hingga selang sebulan dari perjalanan saya di Delhi, virus corona masih menjadi buah bibir. Tingkat penyebarannya makin meluas dan membuat sejumlah negara menunda banyak kegiatannya demi kondisi pemulihan yang maksimal. Bahkan, ajang kelas dunia seperti Liga Champions Eropa pun harus dilakukan tanpa penonton demi meminimalisasi risiko. Saat tulisan ini dibuat, kampus tempat saya mengajar baru saja mengeluarkan rilis bahwa perkuliahan dan ujian tengah semester akan dialihkan ke mode daring.

Saya tidak ingin membahas corona ndakik-ndakik soal kesehatan, itu urusan dokter. Namun, kita minimal bisa sepakat bahwa isu corona bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh.

Berbicara mengenai wabah, atau bencana apa pun, di Indonesia, berarti harus siap sakit hati dua kali. Pertama, sakit hati tatkala headline berita silih berganti menampilkan saudara-saudara kita dilanda bencana. Kedua, sakit hati ketika melihat bahwa ada saja yang membuat tafsiran-tafsiran ngawur atas bencana yang sedang terjadi.

Tak lama setelah menyeruaknya isu corona ke permukaan, sejumlah figur publik membuat tafsiran bahwa corona adalah azab bagi Tiongkok. Apalagi momennya cukup pas, corona muncul hanya berselang beberapa bulan setelah berita mengenai kamp reedukasi masyarakat Uyghur ramai diperbincangkan. Bahkan, ada yang sampai menyebut bahwa virus corona adalah bala tentara untuk menghukum rezim yang telah mempersekusi rakyat Uyghur.

Saya bukan pakar agama. Namun, dari perkembangan berita belakangan, agaknya tafsiran soal tentara Allah itu kurang tepat, karena pada akhirnya Xinjiang juga kemasukan virus corona, sehingga masyarakat Uyghur pun tak kalah terancamnya. Selain itu, Saudi Arabia juga sempat menutup akses umrah demi mensterilkan area Masjidil Haram dari ancaman virus. Saya menolak percaya bahwa tentara Allah bisa salah sasaran, apalagi sampai membuat orang tak bisa pergi ke tanah suci.

Setelah kabar muncul bahwa virus corona mulai mendunia, narasi yang dibawa pun berkembang kian liar. Ada lagi yang menerjemahkan virus corona sebagai hasil karya Illuminati dan Freemason. Entahlah, sudah berapa kali nama mereka disebut-sebut setiap kali ada bencana yang nalar kita sudah keburu buntu memahaminya, tapi yang jelas saya sudah bosan.

Harusnya, teori konspirasi semacam itu cukuplah jadi konsumsi anak-anak SMP yang baru kenal internet. Sayangnya, ia ikut menyebar di grup-grup berisi orang-orang bergelar akademik tinggi.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa kita masih sempat mengedepankan ego sendiri, bahkan pada saat bencana seperti ini? Alih-alih saling bahu membahu demi menyelesaikan masalah, orang-orang justru sibuk menuding siapa biang keroknya. Sejumlah orang menimbun barang tanpa mengindahkan orang lain. Selain itu, rasisme juga muncul akibat sejumlah etnis tertentu dianggap sebagai penyebar wabah corona ini.

Tentu, ini semua bukanlah hal yang kita inginkan.

Tafsiran religius tentang sebuah bencana bukan sesuatu yang dilarang, apalagi melihat latar masyarakat kita yang sebagian besar menganut agama. Namun, bukan berarti tafsiran itu harus dibuat secara serampangan dengan memosisikan diri kita sebagai pihak yang paling tahu kehendak Tuhan, apalagi sampai menuding-nuding pihak lain sebagai penerima azab. Kalau boleh meminjam logika yang sama, bagaimana kita bisa yakin bahwa wabah ini bukan untuk kita yang selama ini menganggap diri lebih suci dari orang lain?

Namun, mari tak perlu berspekulasi apalagi berkonspirasi. Sebagai manusia biasa, kita semua sama tak berdayanya di hadapan bencana. Pun, kita tak bisa begitu saja menafsirkan kehendak Tuhan. Menghabiskan waktu untuk mencari pihak yang bersalah, apalagi tanpa dasar pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan, hanya akan mengalihkan diri dari hal terpenting yaitu memulihkan keadaan seperti sedia kala.

Saya yakin Tuhan tidak salah, tafsiran-tafsiran kita sajalah yang kebacut.

Kalaupun harus memberikan makna terhadap peristiwa ini, alangkah indahnya apabila segala tafsir itu mengarah pada satu muara, yakni kemanusiaan. Merebaknya wabah ini bisa menjadi momentum merenung sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk lemah. Sehingga, ia bisa jadi momen mengesampingkan kesombongan demi mewujudkan kebermanfaatan bagi bersama. Lebih hebat lagi apabila hikmah menyebarnya corona bisa menjadi momen menyadari bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang harus dipikirkan bersama. Bukankah mayoritas, kalau tidak semua, aliran spiritual mengajarkan kita untuk menebar manfaat bagi sesama?

Dalam situasi bencana, ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan. Pertama, menyebarkan informasi terkini agar kita kian waspada. Kedua, kita bisa juga membantu menyumbangkan harta dan tenaga untuk membantu sesama. Tiga, ketika tidak memiliki sumber daya apa pun untuk dibagi, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tidak menambah masalah. Di tengah penderitaan banyak orang, tidak perlu kita menambah kegaduhan dengan ujaran-ujaran bohong dan penuh kebencian.

Sebagaimana dunia telah melewati pandemik seperti Flu Spanyol, Black Death, Kolera, dan SARS, kita berharap bahwa Covid-19 pun akan berlalu dengan cepat. Sembari itu, mari berkontribusi sesuai dengan kapasitas kita dengan menjaga kesehatan dan menyebarkan bantuan sebisa mungkin.

Dengan kerendahan hati untuk menaruh kemanusiaan di atas perpecahan, saya yakin bahwa sekali lagi, kita semua akan menang.

Corona dan Tafsiran-Tafsiran Kebacut Kita

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *