Lagi, isu tentang orientasi pengenalan kampus (ospek) kembali muncul ke permukaan. Kali ini bukan karena ia memakan korban jiwa, melainkan karena sebuah video ospek daring milik sebuah PTN di Surabaya mendadak bocor ke masyarakat.

Dalam video tersebut, nampak beberapa sosok kakak tingkat sedang “mendisiplinkan” adik tingkat mereka. Jika dilihat sekilas, tampak bahwa mereka sedang mempermasalahkan sang adik kelas yang tak mengenakan aksesoris tertentu.

“Ikat pinggang, mana, ikat pinggang? Dibaca nggak tata tertibnya?”

“Maaf kak…”

Konyol. Itu kesan pertama saya saat melihat video tersebut. Bagaimana tidak, tanpa video itu bocor pun, memaksakan metode marah-marah dalam ospek daring saja sudah menggelikan. Beberapa bulan sebelum musim ospek datang, memang sempat muncul guyonan “ospek daring, marahnya pindah ke Zoom”. Namun, tak pernah terbayang bahwa akan ada sekelompok pemuda berpikir bahwa memaki-maki mahasiswa baru di depan kamera adalah ide bagus. Sudah begitu, perlu diingat bahwa yang dimarahi adalah orang yang tak pernah ditemuinya sekalipun.

Sayangnya, Indonesia dan orang-orangnya memang tak pernah kehabisan cara untuk mengajak kita berpikir out of the box — bahkan without the box. Ospek daring itu pun terlaksana juga, dan akhirnya kita semua saksikan di layar gawai.

No no no, ralat. Penggunaan kekerasan verbal dalam ospek lapangan pun sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Sampai saat ini, saya tidak pernah menemukan penjelasan ilmiah tentang bagaimana memarahi mahasiswa baru dapat meningkatkan kedisiplinan atau mental mereka. Coba beri saya penelitian yang mengatakan bahwa “sambutan” berupa bentakan dapat berdampak positif bagi performa belajar. Jika ada, dengan senang hati saya akan mengubah pendapat.

“Masnya nggak pernah jadi panitia ospek sih!”

Eits, jangan salah. Saya bisa berkomentar karena pernah ada di sistem tersebut. Di bangku SMP-SMA, saya aktif di kegiatan-kegiatan orientasi dan belasan diklat ekstrakurikuler. Saya pernah memainkan beragam peran, mulai dari pendamping kelompok yang sabar, panitia kroco yang pasif dan lebih banyak diam, hingga panitia galak dengan tugas “menggarap” anak baru yang melakukan kesalahan.

Terkait yang terakhir itu, saya masih menyesalinya sampai sekarang. Siapa pun yang pernah merasakan saya tangani di masa lalu dan tidak berkenan atasnya, mohon maaf sebesar-besarnya.

Setelah sekian lama terlibat dalam kegiatan orientasi seperti itu, saya berkesimpulan bahwa penggunaan kekerasan verbal bukanlah metode terbaik untuk mengenalkan mahasiswa pada lingkungan barunya. Video tersebut seolah menguak sebuah borok besar dari tradisi ospek yang ada di Indonesia dari masa ke masa, yakni tradisi masa orientasi yang sarat senioritas dan jauh dari esensi pengenalan kehidupan kampus.

Disiplin macam apa?

Setiap tahun, ada sebuah kata yang terus-menerus menjadi dalih diadakannya ospek: disiplin.

Jika argumennya adalah memang untuk memunculkan disiplin, maka kita harus bertanya dulu: disiplin seperti apa yang ingin ditegakkan?

Banyak dari kita cenderung melihat disiplin ideal adalah disiplin ala militer. Itulah mengapa template ospek di Indonesia tak pernah jauh dari pakem baris-berbaris, seragam, reward-punishment, dan yel-yel. Beberapa ospek mencoba lepas dari pakem itu, namun unsur-unsur di atas masih saja tersisa, walau dalam skala kecil.

Kebanyakan ospek Indonesia sangat terobsesi pada nilai-nilai seperti “kekompakan angkatan” dan “senasib sepenanggungan”, yang lazim kita temui dalam konteks kedinasan. Disiplin inilah yang lalu memunculkan salah kaprah bahwa ospek harus berfungsi “melatih mental” sehingga kemudian menjadi dalih penggunaan kekerasan fisik maupun verbal.

Perkaranya, sudahkah disiplin yang kita inginkan di ospek benar-benar bermanfaat kepada kehidupan di kampus? Apalagi kita bicara tentang lembaga akademik yang harusnya menjadi ruang aman untuk berpikir kritis dan inovatif. Disiplin dalam versi akademik tentu saja punya implementasi yang berbeda dari disiplin ala militer.

Disiplin ala militer memang memerlukan sejumlah karakter seperti keseragaman dan kepatuhan terhadap komando pimpinan. Memang, ada beberapa nilai universal yang dapat diadopsi di kehidupan akademis seperti ketepatan waktu. Namun, cara militeristik tentunya tak cocok untuk menyambut mahasiswa baru di perguruan tinggi umum.

Disiplin keras di dunia militer didasarkan pada consent berupa proses rekrutmen dan seleksi yang ketat. Setiap personel masuk tentunya sudah memiliki standar fisik dan mental tertentu, membuatnya layak untuk mendapatkan perlakuan secara seragam. Sementara itu, ospek merupakan program pengenalan lingkungan akademik. Setiap mahasiswa baru yang masuk memiliki kadar ketahanan fisik dan mental masing-masing. Ospek seharusnya menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa kampus adalah zona yang peduli terhadap kesehatan jiwa-raga mereka. Bukan pada ranah aslinya untuk menjadikan ospek sebagai ajang shaming terhadap “mental tempe”, yang rata-rata muncul hanya karena kita gagal memahami perbedaan kapasitas personal seperti di atas.

Masalah berikutnya ada pada standar operasional. Pelatihan yang diadakan oleh lembaga militer dilakukan oleh profesional di bidangnya serta memiliki prosedur yang terukur. Contoh di Amerika Serikat adalah United States Army Physical Fitness Test yang mengatur sejauh mana aktivitas fisik bisa dilakukan oleh kelompok umur tertentu.

Di sisi lain, panitia ospek yang umumnya adalah mahasiswa tahun kedua-ketiga tidak terlatih untuk melakukan pelatihan seperti itu. Mahasiswa— bahkan dosen sekalipun—tidak memiliki kompetensi profesional untuk menentukan pembinaan “fisik dan mental” sebagaimana diklaim oleh sejumlah program ospek.

Sedihnya, penekanan pada pembinaan fisik dan mental itu justru membuat mahasiswa kehilangan info-info penting terkait adaptasi kampus. Banyak dari mahasiswa yang lulus ospek namun belum tahu cara meminjam buku di perpustakaan, menghubungi dosen via surel, serta mengutip karya ilmiah dengan benar.

Lantas, pendidikan disiplin apa yang sebaiknya diterapkan di level perguruan tinggi umum? Saya menyarankan bahwa disiplin tersebut ada pada bentuk integritas akademik. Disiplin yang seharusnya diajarkan pada ospek adalah tentang bagaimana menjadi seorang pelajar sukses dan mampu memaksimalkan potensi diri sendiri. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memperkenalkan cara membaca kritis, menulis efektif dan metodologis, serta bersosial dengan komunitas kampus.

Ospek yang terlalu menekankan pada keseragaman dan cara komunikasi yang intimidatif justru berpotensi mematikan nalar kritis. Ospek adalah acara untuk memperkenalkan lingkungan kampus dan teknik mengaktualisasikan diri di dalamnya, bukan untuk menciptakan insan-insan seragam dan tunduk pada satu kepatuhan.

Menuntut vs menuntun

Mungkin kita tak bisa naif dan mengatakan senioritas harus dihapuskan sepenuhnya. Adat interaksi masyarakat kita masih sarat akan unggah-ungguh yang menempatkan senior sebagai sosok yang disegani. Tetapi, tak selamanya relasi junior-senior harus berujung kepada tindakan abusif. Hal ini tentunya membutuhkan itikad baik untuk mengubah pola pikir dari menuntut menjadi menuntun.

Terdapat sebuah benang yang amat tipis antara keinginan “mendidik” angkatan baru dan hasrat unjuk kuasa sebagai senior. Inilah yang lalu menjadi polemik dalam ospek. Apakah wewenang yang dimiliki senior untuk menetapkan standar berperilaku sehingga menerapkannya secara keras kepada mahasiswa baru? Lahir lebih dulu? Masuk kuliah lebih dulu? Di luar itu, saya masih belum menemukan keunggulan lain yang dimiliki senior sehingga ospek dengan kekerasan verbal valid dilakukan.

Mengutip Ernest Prakasa, jangan merasa lebih keren hanya karena ibu kita hamil duluan!

Ironisnya, pada sejumlah kasus, justru senior yang “mendisiplinkan” justru tak dapat menjaga kedisiplinan tersebut di luar kegiatan. Tak sekali-dua kali mereka yang tergabung dalam “Komisi Disiplin” (Komdis) kerap dipilih berdasarkan penampilan yang sangar belaka, dengan tujuan membuat mahasiswa baru tidak berkutik.

Saya juga pernah menjumpai beberapa Komdis yang galak itu seolah-olah menguap kedisiplinannya tatkala berurusan dengan kewajibannya di kelas. Ada yang jarang masuk kelas, ada yang tak mengumpulkan tugas tepat waktu, ada pula yang bahkan melakukan tindakan plagiasi. Padahal, label “disiplin” itu akan selalu dikenang oleh adik-adik angkatannya selagi ia masih kuliah. Kalau sudah begitu, apa wujud disiplin yang ingin diwariskan?

Satu-satunya keunggulan dari senior adalah mereka masuk terlebih dahulu, tidak lebih. Hal itu pun berlaku kepada dosen. Ada kemungkinan junior akan lebih sukses ketimbang senior ataupun dosennya. Dari situlah seharusnya pemahaman tentang masa orientasi, apa pun bentuknya, perlu dirumuskan. Senior tidak memosisikan diri sebagai sosok serbatahu yang berhak mendisiplinkan, namun sebagai pelajar biasa yang lebih dulu tahu soal seluk-beluk kampus dan bersedia memberikan pelayanan terbaik untuk menuntun kawan barunya beradaptasi.

Di Australia, O-Week (ospek setempat) dilakukan dengan konsep semacam ini. Senior yang ingin membantu O-Week dapat tergabung dalam program Peer Mentor untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi di lingkungan barunya. Para mentor ini akan mendapatkan pelatihan komunikasi kelompok dari universitas, sehingga mereka pun punya standar yang jelas.

Para mentor tidak bertugas mendisiplinkan, namun menjadi orang pertama yang melayani mahasiswa baru. O-Week pun tidak bertujuan “membina kedisiplinan”, namun untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada fasilitas kampus dan standar pembelajarannya.

Tidak ada bentak-bentakan, apalagi prank marah-marah di hadapan mahasiswa.

Terus bagaimana kalau ada mahasiswa yang mentalnya tempe? Harus dikerasin dong!

Tidak perlu, karena mentor justru akan mengajarkan kita cara menyeimbangkan mental seperti lewat meditasi. Selain itu, mereka juga akan menunjukkan fasilitas konseling yang dimiliki oleh universitas.

Lingkungan akademik yang baik harusnya dapat mengembangkan kondisi input sevariatif apa pun, mau itu mental tempe, tahu, atau seblak.

Mari kita kembali ke konteks Indonesia.

Jika niat kita murni ingin menuntun, alih-alih pamer kuasa, hal tersebut sejatinya bisa dilakukan dengan cara lain. Namun, cara ini tentunya tak dapat dilakukan secara singkat, apalagi dalam hitungan hari atau minggu saja. Ia pun harusnya dilakukan secara jangka panjang di luar kegiatan orientasi.

Alternatif yang bisa diambil adalah menjadi senior yang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan seperti lomba atau konferensi. Perlahan, kita bisa mengajak para junior untuk masuk ke proyek tersebut. Sembari kita pupuk kepercayaan diri mereka, kita dapat memberi mereka tanggung jawab. Misalnya dengan memberikan deadline tulisan. Penggemblengan mental seperti ini akan jauh lebih baik dan berkesan ketimbang memarah-marahi junior tanpa alasan yang jelas. Selain itu, ia akan berdampak positif pada bonding junior-senior serta prestasi bersama.

Susah? Memang. Katanya mau membina junior. Kalau ogah mikir ya silakan lanjutkan prank marah-marah seperti di video viral itu.

Di sisi lain, “disiplin” dalam wujud di atas akan lebih relevan dengan kebutuhan hidup pada masa perkuliahan. Mahasiswa baru tak perlu lagi menghabiskan energi untuk takut dengan omelan senior, karena kegiatan ospek benar-benar difungsikan untuk memuluskan proses penyesuaian diri mereka di lingkungan baru.

Yel-yel maupun drama mungkin akan menjadi cerita lucu di masa depan, namun hands-on experience dan kepercayaan dari senior akan menjadi pendidikan tersendiri.

Pada akhirnya, saya berharap bahwa kasus video ospek viral ini bisa menjadi titik balik bagi budaya ospek yang lebih beradab. Sudah bukan saatnya lagi kita menuntut hormat, mari tunjukkan bahwa kita memang pantas dihormati melalui teladan-teladan kita di luar segala formalitas yang ada.

Ospek Lagi…Ospek Lagi…

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *